Kapitalisme Digital: Mesin Perusak Mental
OPINI
Oleh Ummu Qianny
Aktivis Muslimah
Muslimahkaffahmedia.eu.org OPINI _Di tengah hiruk-pikuk kota, bising notifikasi ponsel, dan layar yang tak pernah padam, kita sedang menyaksikan tragedi besar yang menimpa generasi muda Indonesia. Mereka tumbuh dengan jempol yang lincah, tetapi hati yang rapuh. Pikiran yang melesat, tetapi jiwa yang hampa. Mereka dikelilingi koneksi digital, namun terasing bahkan bagi dirinya sendiri.
Fakta hari ini terlalu jelas untuk diabaikan. Pertama, makin banyak generasi muda Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental akibat screen time berlebihan (rata rata 5-9 jam perhari) sehingga menimbulkan yang dirasakan, seperti mata lelah, emosi tidak stabil, kecemasan meningkat, dan konsentrasi menurun drastis. (Unesa.ac.id, 27-07-2025)
Kedua, Indonesia merupakan peringkat satu negara dengan tingkat kecanduan gadget tertinggi. (CNBCIndonesia.com, 13-09-2025) Penggunaan gadget yang tidak terkendali memicu “digital dementia”—penurunan kemampuan memori, kesulitan fokus, kemalasan berpikir, dan kesepian yang memperparah depresi.
Ketiga, tidak ada pembatasan usia untuk menggunakan media sosial di negeri ini. Padahal, banyak riset menunjukkan bahwa media sosial, yang kini digerakkan AI, berpengaruh buruk terhadap kesehatan mental remaja: body image terganggu, mudah cemas, mudah marah, gelisah tanpa sebab. (Alodokter.com, 25-04-2024)
Lalu siapa yang paling diuntungkan dari semua ini?
Jawabannya jelas para kapital, mereka segelintir manusia di muka bumi mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya tidak peduli kerugian orang lain untuk mengeruk kekayaan pribadi.
Dalam sistem kapitalis, setiap detik waktu adalah bisnis. Media digital bukan diciptakan untuk mendidik atau menyehatkan generasi, melainkan untuk menghasilkan keuntungan. Makin lama seseorang menatap layar, makin banyak uang yang mengalir ke perusahaan berbasis teknologi tersebut.
Maka, jangan heran jika algoritma dibangun untuk memicu kecanduan, bukan untuk menjaga kesehatan mental. Seperti, remaja yang gelisah? Artinya mereka sering online. Lalu, anak yang sulit lepas dari gagdet? Berarti engagement meningkat, dan keluarga yang makin jarang berinteraksi? Itu tidak penting selama traffic stabil.
Kapitalisme digital bekerja sunyi, tetapi mematikan. Ia merusak dari dalam: pikiran, kepercayaan diri, hingga citra diri. Lebih ironisnya lagi, Indonesia yang konon mayoritas muslim ini dan tentu juga dengan populasi mudanya yang besar, hanya diperlakukan sebagai pasar. Ya, mereka adalah pasar yang empuk. Pasar yang tidak dilindungi oleh negaranya sendiri.
Negara kita tidak tegas terhadap perusahaan digital. Tidak ada kebijakan kokoh untuk melindungi generasi muda. Media sosial dibiarkan merajalela tanpa pengawasan, sementara anak-anak yang seharusnya menjadi calon pemimpin di masa depan justru tenggelam dalam lautan konten sampah.
Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sudah memperingatkan umatnya :
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari)
Pertanyaannya, siapa hari ini yang benar-benar memimpin dan menjaga generasi muda? Negara? Atau algoritma?
Kapitalisme digital tidak datang sebagai guru, tetapi justru hadir sebagai pencuri, mencuri perhatian, mencuri waktu, mencuri kebahagiaan, bahkan mencuri identitas generasi.
Maka solusinya tidak bisa setengah-setengah. Tidak cukup sekadar “kurangi screen time”, “aktifkan parental control”, atau “edukasi literasi digital” yang sering kita dengar, dan digaung-gaungkan oleh para pesohor.
Sebenarnya ang dibutuhkan adalah perubahan sistemik. Sistem yang bukan hanya membatasi kerusakan, tetapi melindungi dan membina generasi sejak awal. Di sinilah Islam menawarkan solusi paling komprehensif melalui institusi negara bernama khilafah.
Khilafah memiliki visi besar yakni membangun generasi terbaik, bukan generasi yang terpecah fokusnya oleh layar dan algoritma. Negara dengan sistem pendidikan Islam mengarahkan anak untuk mengenal Rabb sebagai Sang Khalik Maha Pencipta dan juga Maha Pengatur akan kehidupan, mencintai ilmu, dan membangun karakter mulia bukan menjadi budak trend digital.
Langkah preventif yang dapat dilakukan secara menyeluruh untuk menjaga kerusakan generasi di antaranya,
– Sistem pendidikan Islam ditata untuk membentuk kepribadian Islam sejak kecil.
– Orang tua diberdayakan sebagai madrasah ula, memastikan rumah menjadi tempat paling aman bagi akal dan hati anak.
– Masyarakat bersinergi dalam budaya amar makruf nahi mungkar, sehingga lingkungan sosial tidak terbuka untuk konten-konten buruk atau negatif.
Ada langkah khusus yang hanya bisa dilakukan negara yakni,
Pertama, mengawasi konten media dan memastikan hanya konten yang sesuai Islam yang boleh beredar. Pelanggar akan diberi sanksi tegas.
Kedua, membatasi platform media sosial. Tidak semua platform digital boleh beroperasi; hanya yang tidak merusak akidah dan akhlak.
Ketiga, membatasi usia penggunaan medsos secara tegas dan mengawasinya secara sistemik.
Keempat, mengatur penggunaan AI agar tidak menjadi ancaman bagi akal, sudut pandang Islam, maupun stabilitas mental generasi.
Inilah negara yang benar-benar menjaga. Negara yang tidak akan tunduk pada kepentingan korporasi global. Negara yang melihat generasi muda bukan sebagai “pasar”, tetapi sebagai pemimpin peradaban yang tentu harus dipersiapkan sedini mungkin.
Allah berfirman:
“Dan hendaklah di antara kalian ada segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran .…” (QS. Ali Imran: 104)
Sistem kapitalis tidak mungkin menjalankan ayat ini, karena dalam kapitalisme kita mengenal paham demokrasi di mana setiap orang memiliki kebebasan individu. Manusia lain dilarang mengingatkan terlebih mengatur, karena akan selalu diatasnamakan hak asasi manusia.
Oleh karena itu, hanya khilafah yang menjadikan ayat ini sebagai fondasi kehidupan. Saatnya kita berhenti pasrah dengan kerusakan mental generasi. Segera menyadari bahwa masalah ini bukan masalah kecil. Ini menyangkut masa depan umat.
Dengan sistem Islam, umat akan selalu terjaga dari kerusakan. Kita tidak dapat berharap kepada sistem lain selain sistem Islam. Sebab, Islam satu-satunya agama yang memiliki seperangkat aturan mengenai keberlangsungan kehidupan yang sesuai fitrah manusia.
Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar