Postingan

Featured Post

Katanya Swasembada, Mengapa Pangan Makin Mahal?

Gambar
  OPINI Oleh Desi Arisandi  (Aktivis Muslimah) MuslimahKaffahMedia.eu.org , OPINI- Katanya negeri ini sedang menuju swasembada pangan. Produksi disebut meningkat, stok diklaim aman, bahkan keberhasilan pun digaungkan dengan penuh kebanggaan. Namun, rakyat tampaknya mendapatkan “versi swasembada” yang berbeda. Bukan pangan yang semakin murah dan mudah dijangkau, melainkan harga yang terus merangkak naik. Lucunya, ketika pemerintah sibuk merayakan angka-angka produksi dan menggaungkan keberhasilan swasembada, rakyat justru sibuk menghitung isi dompet sebelum membeli kebutuhan pokok. Beras naik, telur naik, cabai naik, minyak naik, sementara pendapatan rakyat tidak ikut “swasembada.” Harga sejumlah kebutuhan pangan di beberapa wilayah terpantau masih mahal. Beberapa di antaranya harga beras dan minyak goreng, masih dibanderol tinggi di sejumlah wilayah meski pemerintah menyatakan stok pangan dalam kondisi cukup. Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap harga rata-rata beras tercata...

Ironi Swasembada Pangan dan Solusi Islam

Gambar
  OPINI Oleh Tuti Alawiyah, S.Sos.  Pemerhati Sosial MuslimahKaffahMedia.eu.org , OPINI- Masyarakat kita kembali dihadapkan pada kenyataan yang getir. Harga berbagai bahan pokok merangkak naik dan seolah enggan turun kembali. Kebutuhan pokok seperti beras, cabai, minyak goreng, sampai telur dan daging ayam, semuanya kompak melambung di berbagai daerah.  Lonjakan harga ini makin menjepit dapur warga kecil. Uniknya, kondisi yang mencekik ini terjadi di tengah klaim manis pemerintah tentang capaian swasembada pangan dan melimpahnya stok beras nasional. Ada kontradiksi yang nyata di sini: kalau memang pasokan melimpah, mengapa harga di pasar justru makin mahal? Masalah Utama: Logika Kapitalis, Kartel, dan Demand Shock Berulangnya krisis harga pangan ini sebenarnya bukan sekadar persoalan cuaca buruk atau kegagalan panen semata. Akar masalahnya bersumber dari cara pandang pemerintah dalam mengelola pangan. Selama ini, swasembada hanya dihitung dari angka statistik di laporan ...

Asap Karhutla Bukan Fogging, Butuh Penanganan Cepato

Gambar
  OPINI Oleh Luluk Kiftiyah  Pegiat Literasi  MuslimahKaffahMedia.eu.org , OPINI- Di acara peresmian dan groundbreaking proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp (Gigawatt peak) di Monument Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya dengan penuh antusias. Dalam pidatonya beliau juga mempertanyakan bagaimana Indonesia punya ratusan helikopter water bombing dan alat berat jika tidak ada uang, dan uang itu didapat dari hasil penyelamatan korupsi-korupsi selama ini. ( kompas.com , 25/8/2026) Wacana ini bermakna, kunci mengatasi masalah ada di uang. Jika tidak punya uang maka negara tidak bisa membeli pemadam. Logika yang sangat sederhana. Sekilas terlihat benar tetapi pemikiran sekelas orang nomor satu di Indonesia perlu dipertanyakan. Jika berkaca dari program sebelumnya seperti membeli mobil golf dan pengadaan gym di kementerian agar pejabatnya tidak lelah ketika jalan kaki dan makin fit, ...

Produksi Terpenuhi, Rakyat Terabaikan: Ketika Swasembada Pangan Berwajah Kapitalisme

Gambar
  OPINI Oleh Anita Humayroh  Pegiat Literasi dan Pemerhati Sosial MuslimahKaffahMedia.eu.org , OPINI- Swasembada pangan kembali digaungkan sebagai salah satu bukti keberhasilan pemerintah. Produksi pangan disebut meningkat, stok nasional menguat, bahkan pemerintah menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada sejumlah komoditas pangan. Namun, ada pertanyaan sederhana yang layak diajukan: jika pangan benar-benar sudah swasembada, mengapa rakyat masih harus berhadapan dengan harga pangan yang naik dan berbeda-beda di berbagai daerah? Pertanyaan ini bukan tanpa dasar. Pada awal September 2026, sejumlah harga pangan nasional justru mengalami kenaikan. Data PIHPS yang diberitakan menunjukkan kenaikan pada sejumlah komoditas seperti bawang, beras, cabai, daging ayam, daging sapi, gula, hingga telur. ( idxchannel.com , 01/09/2026) Bahkan pada 4 September, harga beras kembali menjadi sorotan. Harga beras tiap hari makin naik, cabai kompak mengekor. Kenaikan juga terjadi pada beberapa...

Api Membakar Hutan, Ibu yang Menanggung Beban

Gambar
OPINI Oleh: Fadia Nur Amalia Aktivis Muslimah Ada bencana yang selesai ketika api padam. Karhutla tidak demikian. Ketika api berhasil dijinakkan, asap masih bisa tinggal di udara, penyakit mulai berdatangan, penghasilan terganggu, dan keluarga harus menanggung dampaknya. Di tengah semua itu, perempuan sering menjadi orang yang paling sibuk memastikan keluarganya tetap bertahan. Seorang ibu mungkin tidak ikut memegang selang pemadam atau berdiri di depan kobaran api. Namun, ketika anaknya mulai batuk karena asap, dialah yang berjaga, mencari obat, memastikan anak tetap makan, dan mengurus rumah dalam kondisi yang serba terbatas. Jika air bersih sulit didapat dan penghidupan ikut terganggu, beban itu semakin berat. Pertanyaannya, sampai kapan masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak, harus terus menjadi pihak yang membayar harga dari bencana yang berulang? Karhutla kembali terjadi di berbagai wilayah, termasuk Kalimantan Selatan. Kondisi tersebut tidak hanya mengancam lingkungan, tet...

Zionis Penjarakan 370 Anak Palestina, Penguasa Muslim Membisu?

Gambar
OPINI Oleh Qitfirul Azizah Pencerah Ideologis  Muslimahkaffahmedia.eu.org- Masa kecil mereka direnggut di balik jeruji. Sementara penguasa negeri-negeri Muslim sibuk menghitung investasi dan nota diplomatik. 370 Anak, Masa Depan Yang Di Penjara  Angka itu bukan statistik belaka. Itu jeritan! Sebagaimana dilansir kompas.com pada 28 Agustus 2026 dinyatakan per Agustus 2026 sekitar 370 anak Palestina masih mendekam di penjara-penjara Zionis Israel. Sebagian besar ditahan di Penjara Megiddo dan Ofer — dua penjara militer yang dikenal sebagai tempat penyiksaan anak. Menurut Palestinian Center for Prisoners’ Advocacy, 370 anak itu bagian dari lebih dari 9.400 tahanan Palestina yang saat ini ditahan Israel. Mayoritas ditahan tanpa proses pengadilan jelas. Tanpa dakwaan, bahkan tanpa batas waktu. Ini bukan peristiwa baru. Ini adalah pola. Berdasarkan data Komisi Palestina Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan, sejak 1967 jumlah anak Palestina di bawah umur yang ditangkap militer Israel te...

Untuk Kesekian Kalinya: Kemerdekaan Itu Semu!

Gambar
OPINI Oleh Rati Suharjo Penulis Artikel Islami Merdeka! Merdeka! Muslimahkaffahmedia.eu.org- Itulah kata yang selalu diteriakkan rakyat Indonesia setiap tanggal 17 Agustus. Tahun ini, Indonesia kembali memperingati Hari Kemerdekaan yang ke-81. Kemerdekaan menjadi momentum penting bagi seluruh rakyat Indonesia. Setelah melalui perjuangan panjang para pahlawan, bangsa Indonesia akhirnya terbebas dari penjajahan secara fisik. Tidak ada lagi suara dentuman bom dan tembakan di medan perang seperti yang terjadi pada masa penjajahan dahulu. Untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan, masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke mengibarkan bendera Merah Putih. Lagu kebangsaan juga dinyanyikan dengan penuh semangat. Berbagai perlombaan digelar di lingkungan masyarakat, sekolah, kantor, hingga berbagai lembaga. Semua dilakukan sebagai bentuk kegembiraan dalam memperingati kemerdekaan. Tema kemerdekaan tahun ini pun memberikan harapan kepada rakyat, yaitu “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. ( de...