Api Membakar Hutan, Ibu yang Menanggung Beban
OPINI Oleh: Fadia Nur Amalia Aktivis Muslimah Ada bencana yang selesai ketika api padam. Karhutla tidak demikian. Ketika api berhasil dijinakkan, asap masih bisa tinggal di udara, penyakit mulai berdatangan, penghasilan terganggu, dan keluarga harus menanggung dampaknya. Di tengah semua itu, perempuan sering menjadi orang yang paling sibuk memastikan keluarganya tetap bertahan. Seorang ibu mungkin tidak ikut memegang selang pemadam atau berdiri di depan kobaran api. Namun, ketika anaknya mulai batuk karena asap, dialah yang berjaga, mencari obat, memastikan anak tetap makan, dan mengurus rumah dalam kondisi yang serba terbatas. Jika air bersih sulit didapat dan penghidupan ikut terganggu, beban itu semakin berat. Pertanyaannya, sampai kapan masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak, harus terus menjadi pihak yang membayar harga dari bencana yang berulang? Karhutla kembali terjadi di berbagai wilayah, termasuk Kalimantan Selatan. Kondisi tersebut tidak hanya mengancam lingkungan, tet...