Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opin

GEN Z Terimpit di Usia 81 Tahun RI

Gambar
OPINI Oleh Qitfirul Azizah Pencerah Ideologis Ironi di Hari Kemerdekaan 81 tahun Indonesia merdeka. Bendera Merah Putih berkibar di setiap sudut negeri. Upacara khidmat digelar. Pidato tentang "Visi Indonesia Emas 2045" dan "bonus demografi" kembali menggema.  Namun, di balik gegap gempita seremonial itu, ada suara lirih yang jarang didengar, yakni suara Gen Z. Generasi yang lahir antara 1997-2012 ini disebut-sebut sebagai penentu masa depan bangsa. Akan tetapi data terbaru justru menunjukkan potret suram. Survei Deloitte 2026 mencatat lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Kompas Money pada 12 Agustus 2026 juga menyorot fenomena paradoks: di tengah tekanan ekonomi, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru meningkat. Gaji pas-pasan, harga kos, BBM, dan kebutuhan pokok terus naik. Mimpi memiliki rumah dan menikah kian jauh dari jangkauan. Di tengah kondisi itu, negara seolah berbisik, "Silakan berjuang...

Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Gambar
  OPINI Oleh: Sumiyati   Pemerhati Umat MuslimahKaffahMedia.eu.org , OPINI- Kuliah menjadi salah satu jalan yang ditempuh banyak anak muda untuk meraih cita-cita. Di baliknya, ada pengorbanan orang tua yang rela mengeluarkan biaya, tenaga, dan waktu demi memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka. Harapannya sederhana: setelah lulus, sang anak memiliki keterampilan, memperoleh pekerjaan yang layak, dan mempunyai kehidupan yang lebih baik.   Oleh karena itu, menjadi sarjana sering kali menjadi kebanggaan keluarga. Bertahun-tahun menjalani perkuliahan akhirnya terbayar dengan selembar ijazah dan berbagai kompetensi yang dimiliki. Namun, setelah urusan kampus selesai, lulusan perguruan tinggi justru dihadapkan pada tembok besar bernama dunia kerja.  Tidak semua mampu melewatinya.  Faktanya, banyak sarjana yang akhirnya menganggur karena lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja. Pendidikan tinggi ternyata belum ...

Ayat Al-Qur'an Ditukar Miras Bukti Penistaan Agama

Gambar
  OPINI Oleh Purwanti Aktivis Dakwah  MuslimahKaffahMedia.eu.org , OPINI- Festival musik The Sounds Project (TSP) 2026 tengah menjadi sorotan setelah beredar potongan video viral yang memperlihatkan aktivitas di salah satu booth produk minuman keras (miras). Dalam gelaran pada Minggu, 9 Agustus 2026, booth tersebut diduga menggelar tantangan (challenge) menghafal QS. Ad-Dhuha dengan imbalan sebotol minuman beralkohol. Peristiwa ini memicu kecaman luas dari masyarakat karena dianggap melecehkan kesucian Al-Qur'an dan nilai-nilai agama. ( SindoNews.com , 11-08-2026) Wakil Menteri Agama, Romo Muhammad Syafi'i, menyatakan bahwa perkara tersebut harus diusut secara menyeluruh dan tidak cukup diselesaikan hanya dengan permintaan maaf. Menurutnya, harus ada pedoman hukum dan standar yang tegas mengenai penggunaan simbol, nama, ayat, kitab suci, maupun atribut keagamaan dalam kegiatan promosi dan komersial. Al-Qur'an adalah kalamullah yang menjadi petunjuk hidup manusia, sumber huk...

Dilema Gen Z: Antara Masa Depan dan Beban Finansial

Gambar
  OPINI Oleh Tatiana Riardiyati Sophia  Aktivis Muslimah  MuslimahKaffahMedia.eu.org , OPINI- Sebagian Generasi Z saat ini telah memasuki dunia kerja, baik formal maupun informal. Namun, di antara mereka yang beruntung mendapatkan pekerjaan, 48 persen justru merasa tidak aman secara finansial. Hal ini disebabkan penghasilan yang tidak sebanding dengan pengeluaran untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Di antaranya kebutuhan sewa rumah, bayar tagihan listrik, air, dan kebutuhan bulanan lainnya. Selain memenuhi keperluan harian, ada fenomena yang muncul di kalangan Gen Z, yaitu self reward , menikmati hidup dengan healing ke tempat-tempat yang mereka sukai ataupun membeli barang-barang atau makanan yang sedang viral. Aktivitas ini diklaim sekadar untuk menghilangkan stres dan bentuk penghargaan diri sendiri atas kerja keras dalam bekerja.  Bagi sebagian orang, apalagi lintas generasi, self reward dianggap pemborosan. Namun, Senior Clinical Psychologist dan Direktur P...

Kurikulum Anti-LGBTQ Menambal Gejala, Mengabaikan Akar Masalah

Gambar
  OPINI Oleh Desi Arisandi  Aktivis Muslimah MuslimahKaffahMedia.eu.org , OPINI- Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung penuh langkah Kementerian Agama (Kemenag) yang berencana menyisipkan materi bahaya penyebaran budaya lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ) ke dalam kurikulum sekolah. Materi edukasi pencegahan ini rencananya akan mulai diterapkan bagi siswa kelas 4 sekolah dasar (SD). Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh menilai inisiatif yang digagas Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi'i ini sebagai wujud nyata hadirnya negara dalam membentengi moral dan mental generasi muda dari potensi penyimpangan seksual. ( detik.com , 23 Juli 2026) Rencana Kementerian Agama (Kemenag) untuk menyusun materi edukasi mengenai bahaya LGBTQ dinilai sejalan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029.  Dalam regulasi tersebut, penyebaran budaya LGBTQ secara resmi dikategor...

Sarjana Menganggur Di Tengah Ekonomi Bertumbuh

Gambar
  OPINI Oleh Windi Permana S.Sos Pegiat Literasi MuslimahKaffahMedia.eu.org , OPINI- Saat ini, data mencatat lebih dari satu juta sarjana dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari diploma empat (D4) hingga program doktoral (S3), masih berada dalam status pengangguran (kompas.com, 10/08/26). Angka ini menjadi cermin nyata dari kesenjangan struktural antara jumlah lulusan perguruan tinggi dan daya serap pasar kerja formal di tanah air. Gelar akademik yang ditempuh dalam waktu bertahun-tahun nyatanya belum menjadi jaminan untuk memperoleh tempat di sektor pekerjaan yang layak. Di tengah gembar-gembor pertumbuhan ekonomi, kenyataannya belum semua lapisan masyarakat merasakan dampaknya, khususnya bagi para pencari kerja dengan kualifikasi tinggi. Pertumbuhan ekonomi diklaim naik 5,6 persen, tetapi fakta ironisnya angka tersebut berbanding terbalik dengan realitas di lapangan: gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terus meluas dan lapangan kerja formal baru sangat minim tercipta (f...

GEN Z, Kembali Ke Fitrah Untuk Bangkit

Gambar
  OPINI Oleh Windi Permana, S.Sos. Pendidik Generasi Idiologis  Antara Kecemasan Finansial dan Kebutuhan Emosional Data terkini mencatat bahwa lebih dari 48 persen Generasi Z di Indonesia mengaku tidak merasa aman secara finansial [ money.kompas.com , 19/02/26]. Angka ini merepresentasikan hampir separuh populasi usia produktif muda yang masih berada dalam tahap awal membangun karier. Ketidakpastian lapangan kerja, laju inflasi, serta stagnasi pertumbuhan upah menjadi beberapa faktor struktural yang memengaruhi persepsi keamanan ekonomi di kalangan mereka. Dengan kata lain, mayoritas Gen Z menjalani hari-hari dengan kesadaran penuh bahwa kondisi dompet mereka rapuh dan sulit diprediksi. Meskipun tekanan ekonomi terasa nyata, data perilaku konsumsi menunjukkan bahwa alokasi belanja Gen Z untuk keperluan self-reward, healing , dan gaya hidup hedonis justru mengalami peningkatan. Kenaikan ini tidak terjadi karena keinginan semata, melainkan didorong oleh persepsi bahwa pengeluara...

Sarjana di Persimpangan Jalan

Gambar
  OPINI Oleh Elfia Prihastuti   Praktisi Pendidikan MuslimahKaffahMedia.eu.org , OPINI- Momen wisuda yang seharusnya menjadi gerbang menuju masa depan cerah kini kerap berubah menjadi awal dari kecemasan panjang. Ribuan lembar ijazah sarjana yang dicetak setiap semester tak lagi menjadi jaminan instan untuk meraih pekerjaan impian. Di tengah kemajuan teknologi dan klaim pertumbuhan ekonomi, negeri ini justru menghadapi paradoks nyata: melimpahnya lulusan perguruan tinggi yang terjebak dalam lingkaran pengangguran terdidik. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional Badan Pusat Statistik, jumlah sarjana menganggur menembus angka 1.033.182 jiwa [14,13 persen dari total penganggur nasional sebesar 7,22 juta jiwa] pada Mei 2026. Hal ini cukup miris. Penganggur di antaranya terkategori orang-orang berlatar belakang sarjana terapan, S-1, S-2, dan S-3 [ Kompas.id , 7/8/2026]. Fenomena sarjana menganggur lebih dari satu juta orang merupakan alarm bahaya bagi kehidupan masa d...

Sekolah Negeri vs Sekolah Swasta, Orangtua Memilih yang Mana?

Gambar
  OPINI Oleh Nur Syamsiah Tahir Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi AMK MuslimahKaffahMedia.eu.org , OPINI- Pagiku cerahku Matahari bersinar Kugendong tas merahku Di pundak Selamat pagi semua Kunantikan dirimu Di depan kelasmu Menantikan kami Demikianlah, dua bait lirik lagu yang diputar di banyak sekolah saat menyambut kehadiran murid-muridnya. Pemandangan seperti itu banyak ditemui apalagi di awal tahun ajaran baru. Dengan seragam dan peralatan sekolah serba baru,  murid-murid penuh semangat menjejakkan kaki mereka di halaman sekolah. Namun, tidak tampak demikian kondisinya di beberapa sekolah negeri. Sebagaimana dilansir oleh CNN Indonesia, memasuki masa awal tahun ajaran 2026/2027, sejumlah sekolah negeri di Indonesia minim mendapatkan murid baru. Hanya saja, meski minim mendapat murid baru, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tetap digelar menyambut pelajar baru tersebut sejak Senin (13/7). MPLS tetap digelar sepekan ke depan sebelum masa belajar mengajar secara...

Wake Up! 522 Pelajar Terdata HIV

Gambar
  OPINI Oleh Fadia Nur Amalia MuslimahKaffahMedia.eu.org , OPINI -Masa remaja seharusnya menjadi waktu untuk belajar, bertumbuh, membangun cita-cita, dan menyiapkan masa depan. Namun, munculnya data HIV yang melibatkan pelajar menjadi peringatan serius bagi kita semua. Persoalan ini tidak bisa dipandang hanya sebagai angka atau sekadar masalah kesehatan. Ada masa depan generasi yang sedang dipertaruhkan. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mencatat sebanyak 7.230 orang hidup dengan HIV berdasarkan data kumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 522 orang tercatat sebagai pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA. Data ini perlu dibaca secara hati-hati karena merupakan data kumulatif dalam rentang waktu yang panjang. Meski demikian, jumlah pelajar yang tercatat tetap menjadi persoalan serius yang tidak boleh diabaikan. ( kumparannews.com , 24/07/2026) Pemerintah terus memperluas layanan tes HIV dan memperkuat upaya deteksi dini. Semakin luas pemeriksaan dilakukan, s...

Ketika Ruang Aman Anak Sekadar Slogan

Gambar
  OPINI Oleh Ummu Qimochagi  Aktivis Muslimah  MuslimahKaffahMedia.eu.org , OPINI- “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.” Tema Hari Anak Nasional (HAN) 2026 ini terdengar hangat sekaligus menjanjikan. Bersamaan dengan itu, pemerintah mendorong Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA). Harapannya jelas: anak-anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang aman, terlindungi, dan memiliki masa depan yang baik. Namun, di balik tema yang indah itu, ada kenyataan pahit yang sulit diabaikan: anak Indonesia belum benar-benar aman. Rumah yang semestinya menjadi tempat berlindung masih ada yang menjadi lokasi kekerasan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat anak belajar dan membangun mimpi juga belum sepenuhnya aman. Bahkan, ruang digital yang begitu dekat dengan keseharian anak membuka pintu bagi berbagai ancaman baru. Data KPAI menunjukkan betapa serius persoalan tersebut. Sepanjang Januari hingga April 2026, KPAI menerima 426 pengaduan terkait perlind...