Mencetak Generasi Emas di Era Kapitalis


OPINI


Oleh Venni Hartiyah

Pegiat Literasi


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Allah sebagai Al Khaliq yang telah menciptakan kita di dunia ini mempunyai beberapa tujuan, salah satunya adalah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Manusia juga diciptakan berpasang-pasangan dengan tujuan untuk melestarikan jenisnya. Sehingga umat Rasulullah shallallahu alayhi wa salam menjadi semakin banyak.


Frasa Ibu adalah madrasah pertama (al ummu madrasatul ula) merupakan sebuah pepatah atau ungkapan yang terkenal, yang dipopulerkan oleh penyair Mesir Hafiz Ibrahim. Maknanya bahwa ibu adalah pendidik pertama dan utama bagi anak. Membentuk akhlak dan karakter yang baik sedini mungkin. Fitrah dan tanggung jawab yang melekat sebagai orang tua sangatlah penting untuk dimengerti oleh kita yang berperan sebagai orang tua. 


Dilansir dari tribun-timur, Jumat (12-12-25), Aisyah Cendekia Islamic School kembali menunjukkan konsistensinya sebagai sekolah Islam yang mencetak generasi penghafal Al-Qur’an berkualitas dengan mengukuhkan seorang hafiz cilik berusia 7 tahun pada tahun 2025. 


Tahun 2024, giliran Faiqah, juga berusia 10 tahun, yang berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz di bawah binaan sekolah yang mengusung tagline “Gapai Cita Bersama Al-Qur’an” ini. Berkomitmen untuk menjadikan peserta didik menjadi orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an sejak dini, dan mereka bisa menjadi penghafal Al-Qur’an. Talk show ini menghadirkan para ibu dari ketiga hafiz hafizah untuk berbagi pengalaman dan tips dalam mendampingi anak-anak mereka menghafal Al-Qur’an di rumah.


Maa syaa Allah sungguh luar biasa, di usia yang masih sangat dini bisa menghafal Al-Qur'an 30 Juz. Semua ini tidak lepas dari peran seorang ibu yang selalu mendampingi anak-anak mereka di rumah dalam menghafal Al-Qur’an. Ketika ibu dipersiapkan dengan baik yakni mempunyai pendidikan yang baik dan ilmunya luas maka akan melahirkan generasi bangsa yang baik pula. Karena sejatinya setiap anak itu lahir dalam keadaan fitrah (suci) dan orang tua (terutama ibu) yang menentukan apakah anak menjadi baik atau buruk.

 

Begitu juga dengan rumah sebagai sekolah pertama dalam pembentukan manusia, di mana ketaatan ibu adalah dasar pendidikan agama dan akhlak anak. Maka sesuai dengan hadis Rasulullah Shalallahu alayhi wa salam yang menekankan berbakti kepada ibu sebanyak 3 kali lebih utama daripada ayah, “...Ibumu, ibumu, ibumu kemudian ayahmu”. (HR. Bukhari & Muslim).


Ketika kita melihat fakta sekarang ini banyak ibu-ibu bekerja di luar rumah, sehingga perhatian ibu dalam mendidik anak-anaknya kurang. Ketika ditinggal bekerja tidak jarang ibu menitipkan anak-anaknya kepada nenek, kakek, atau baby sister di rumah. Dalam hal ini sah sah saja. Akan tetapi anak akan kehilangan perhatian dan kasih sayang dari seorang ibu secara maksimal. 


Tidak dimungkiri, di era kapitalisme ini berbagai macam kebutuhan mahal. Terkadang gaji seorang suami kurang untuk mencukupi berbagai macam kebutuhan, maka sang istri mempunyai inisiatif untuk membantu dengan bekerja. Maka saat itulah peran ibu sebagai Ummu wa Rabbal bayt mulai terkikis.


Peran Ibu di Masa Kekhilafahan Islam 


Peran ibu di masa kekhilafahan sangat fundamental, yaitu sebagai pendidik utama yang menanamkan akidah, akhlak, dan ilmu sejak dini. 


Contoh nyata peran ibu Muhammad Al-Fatih (Huma Hatun/Umar Khatun) adalah menanamkan visi penaklukan Konstantinopel sejak dini, mengajarkan iman, ilmu, keberanian, dan menanamkan keyakinan bahwa ia adalah penakluk yang dijanjikan Nabi Muhammad saw., menjadikannya anak yang cerdas, berakidah kuat, dan berani, bahkan di tengah keterbatasan atau saat ia harus hijrah. 


Ia menjadikan rumah sederhana sebagai sekolah pertama, mendoakan anaknya di malam hari, dan memastikan anaknya tumbuh menjadi pemimpin besar. 


Beberapa langkah ibunda Al-Fatih dalam mendidik yaitu : 


1. Ibunya menanamkan visi dan keimanan


Setiap pagi setelah subuh, ibunya membawa Al-Fatih kecil ke kejauhan, menunjuk benteng Konstantinopel dan berkata, "Kaulah yang akan menaklukkannya," menanamkan takdir besar itu setiap hari.


2. Menjadi madrasah utama


Ibunya sadar posisi ibu adalah madrasah pertama. Ia mendidik Al-Fatih dengan adil dan fokus, membentuknya menjadi anak yang kuat aqidahnya.


3. Menciptakan lingkungan pembelajaran


Di tengah keterbatasan, ia rela hijrah demi anak-anaknya, menjadikan rumah sederhana sebagai sekolah pertama untuk menanamkan iman, cinta ilmu, dan keberanian.


4. Doa dan keteguhan


Malam-malamnya dipenuhi doa, siang hari penuh kesabaran. Doa dan pengasuhannya melahirkan anak yang membuat sejarah hebat.


5. Membentuk karakter


Ia menumbuhkan hafalan kuat, akal tajam, dan hati kokoh pada Al-Fatih, melahirkan pribadi yang berilmu dan berani membela kebenaran. 


Peran ibunda Al-Fatih menunjukkan bagaimana seorang ibu dengan keikhlasan dan pendidikan yang tepat, bisa membentuk anak menjadi tokoh sejarah yang mengubah dunia, fokus pada pembentukan karakter dan spiritualitas sejak dini.



Selain peran Ibu sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya, peran pendidikan dalam Islam sangat menentukan lahirnya generasi emas. Lantas Bagaimana peran Islam dalam pendidikan yang mendongkrak peradaban? 


Seorang khalifah (pemimpin Islam) mempersiapkan peran ibu melalui pembangunan ekosistem yang mendukung pemuliaan perempuan dan pendidikan keluarga.


Berdasarkan prinsip kepemimpinan Islam, berikut adalah langkah-langkah strategisnya:


1. Menjamin Pendidikan yang Komprehensif


Pemerintah wajib menyediakan pendidikan berkualitas bagi semua warganya termasuk perempuan, dalam berbagai bidang ilmu. Pendidikan yang baik memberdayakan individu, termasuk ibu, untuk membuat keputusan yang tepat bagi keluarga dan berkontribusi secara efektif dalam mendidik anak-anak.


2. Memberikan jaminan keamanan ekonomi


Pemerintah dapat menciptakan sistem ekonomi yang stabil dan memberikan jaminan keamanan finansial bagi keluarga. Hal ini dapat dilakukan melalui kebijakan ketenagakerjaan yang adil, program jaminan sosial, dan dukungan bagi keluarga rentan. Ketika keluarga merasa aman secara ekonomi, ibu dapat memiliki lebih banyak sumber daya dan waktu untuk fokus pada pengasuhan dan pendidikan anak. 


3. Membangun lingkungan sosial yang positif


Pemerintah bertanggung jawab untuk mempromosikan nilai-nilai positif dalam masyarakat dan menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi keluarga. Ini termasuk memerangi diskriminasi, memberikan kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan, dan memastikan akses terhadap layanan sosial yang diperlukan. Lingkungan sosial yang positif memungkinkan ibu untuk membesarkan anak dalam suasana yang kondusif.


4. Memberikan perlindungan hukum dan penghormatan


Pemerintah harus memberikan perlindungan hukum yang kuat terhadap semua individu, tanpa memandang gender, dan memastikan bahwa hak-hak perempuan dihormati. Mengakui dan menghargai peran penting ibu dalam masyarakat juga merupakan bagian dari menciptakan lingkungan yang mendukung

 

5. Memfasilitasi layanan kesehatan berkualitas


Pemerintah wajib menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai dan terjangkau bagi seluruh masyarakat, termasuk layanan kesehatan ibu dan anak. Kesehatan fisik dan mental ibu sangat penting untuk kesejahteraan keluarga dan kemampuannya dalam mendidik anak-anak.


Wallahualam bisshawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan