Menjadi Ibu di Zaman Rusak: Bertahan atau Melawan?


OPINI


Oleh Ummu Qianny

Aktivis Muslimah


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Ada masa ketika menjadi ibu terasa wajar-wajar saja. Hari ini tidak, menjadi ibu rasanya seperti berjalan sambil menggendong amanah di tengah jalan yang licin, ramai, dan bising. Salah sedikit anak bisa jatuh, dan seringnya ibu yang pertama kali disalahkan.


Dalam Islam posisi ibu tidak pernah dianggap ringan. Dari awal memang berat, karena dari rahim seorang ibulah lahir bukan hanya anak tapi juga arah hidup umat. 


Kita bisa melihat sejarah bagaimana ulama besar, pemimpin tangguh, para pejuang, mereka tidak lahir dari ibu yang asal-asalan, tetapi mereka dibesarkan oleh perempuan yang paham bahwa menjadi ibu itu bukan sekadar peran domestik, tapi amanah besar. Allah SWT sudah mengingatkan dengan sangat jelas:

"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)


Ayat ini bukan ayat penghibur, melainkan perintah. Menjaga keluarga dari api neraka, bukan cuma mengingatkan shalat atau puasa. Lebih dari itu, ini soal menjaga arah hidup, cara berpikir anak, nilai yang mereka anggap benar, dan tujuan hidup yang harus mereka kejar. Di sinilah letak pentingnya peran seorang ibu, yang harus benar-benar bisa menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya.


Tidak ada ibu yang tidak bangga melihat anaknya pintar, tidak ada ibu yang tidak bahagia jika anaknya hidup mapan, tapi Islam mengajarkan tidak berhenti pada kebanggaan semacam itu. Karena, apa artinya pintar jika masih bingung membedakan yang hak dan yang batil. Apa artinya sukses, jika hidupnya jauh dari Allah. Orang cerdas itu banyak, tapi cerdas saja tidak cukup. Umat butuh generasi yang berani menyuarakan kebenaran meski sendirian, meski tidak populer. Dan, keberanian semacam ini tidak tumbuh secara tiba-tiba, harus dibentuk pelan-pelan sejak dini melalui peran seorang ibu.


Anak belajar banyak hal dari ibunya, termasuk kepada siapa ia bergantung, kepada siapa ia patuh, dan apa yang pantas diperjuangkan. Mengasuh anak hari ini bukan pekerjaan netral, tidak bisa lagi pakai pendapat “yang penting anak baik."

Karena, setiap hari ada pertarungan nilai dalam diri anak, baik dari sekolah, dari layar ponsel, dari tontonan yang tampaknya sepele tapi pelan-pelan membentuk cara berpikir. 


Menjadi ibu generasi ideologis berarti sadar bahwa pengasuhan bukanlah rutinitas kosong. Setiap pilihan, larangan, pembiasaan, semuanya bernilai dakwah, bahkan bernilai perjuangan. Kesadaran ini tidak mungkin lahir dari pemahaman Islam yang setengah-setengah, tetapi harus lahir dari ibu dengan pemahaman Islam secara sempurna. Sebab, Islam tidak hanya mengatur masalah ibadah tapi juga mengatur sistem kehidupan dan arah pandang umat. 


Ibu yang memahami kondisi ini tidak akan mendidik anaknya agar sekadar "aman." Namun, Ia ingin anaknya kelak tidak larut dan ikut mengubah sistem yang rusak. Jujur, sistem hari ini memang tidak ramah pada ibu. Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Kapitalisme menilai manusia dari produktivitasnya termasuk perempuan. Liberalisme datang dengan bahasa manis tentang kebebasan tapi meninggalkan luka yang sangat panjang.


Narasi kesetaraan gender ala Barat, HAM versi mereka, dan moderasi beragama terus disebarkan. Pelan, halus tapi konsisten, sedikit demi sedikit mengaburkan peran hakiki perempuan. Tidak selesai sampai di situ, dunia digital membuat anak-anak terpapar konten-konten liar tanpa saringan nilai. Ibu seringkali kehabisan tenaga untuk mengurus rumah, mendampingi anak, ditambah dengan tuntutan ekonomi yang mengharuskan bekerja di luar.


Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2024, lebih dari 55% perempuan usia produktif di Indonesia aktif bekerja. Angka ini terus meningkat setiap tahun. (rri.co.id, 17/04/2025)


Meski kelihatan biasa, di baliknya ada ibu-ibu yang pulang dalam keadaan lelah. Anak-anak tumbuh dengan pendampingan seadanya. Ada sistem yang terus berjalan tanpa peduli dampaknya. Ini bukan kebetulan, tetapi akibat dari diterapkannya sistem sekuler kapitalis yang tidak menjadikan Islam sebagai asas dalam kehidupan. 


Lalu, ibu harus bagaimana, bertahan saja? Tidak cukup, bertahan tanpa arah hanya akan melahirkan kelelahan yang sama dan berulang. Yang dibutuhkan adalah visi mendidik anak, menjadikannya sebagai abdullah, khalifah, dan sebagai bagian dari khairu ummah. Namun, visi ini tidak hanya hidup di poster atau slogan, tetapi dijalankan sebagai bentuk realisasi hidup sehari-hari, dalam cara ibu berbicara, bersikap dalam menghadapi ketidakadilan, dan keberaniannya dalam berkata "ini salah" meski tidak populer.


Anak-anak lebih percaya apa yang mereka lihat dibanding dengan apa yang mereka dengar. Karena itu, keteguhan iman dan konsistensi sikap adalah pelajaran paling kuat. Perjuangan ini tidak bisa sendirian, karena kegelisahan ini pasti dialami hampir semua ibu-ibu. Sayangnya, mungkin mereka belum memahami bahwa di balik semua permasalahan yang mendera ada solusi yang Allah berikan tanpa cela, yaitu sistem Islam. Selama sistem rusak tetap dipertahankan generasi Islam akan terus terancam. Karena itu, peran ibu harus terhubung dengan perjuangan umat secara kolektif untuk menghadirkan Islam secara kafah dalam kehidupan.


Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan