Menjadi Ibu Generasi di Tengah Gerusan Kapitalistik


OPINI 


Oleh Luluk Kiftiyah 

Pegiat Literasi 


Muslimahkaffahmedia.eu.org.Tuntutan ekonomi dalam sistem kapitalistik tidak dimungkiri semakin meningkat. Seorang ibu yang seharusnya menjadi ummu wa rabbatul bait (pengatur rumah tangga dan pendidik anak-anak) kini tak sedikit yang bergeser menjadi tulang punggung. Padahal peran ibu ada di posisi sentral yakni sebagai pendidik utama dalam pembentukan karakter, akhlak, dan kepribadian anak.


Bergesernya peran sentral ini menimbulkan masalah baru, yakni makin maraknya kasus pelecehan seksual terhadap anak, karena kebutuhan nau' (naluri seksual) tidak terpenuhi. Seperti kasus di Situbondo. Seorang anak di bawah umur, berinisial N (16) mengalami kekerasan seksual dan pelakunya adalah ayah dan pamannya. Ia mengalami kekerasan seksual sejak April-Oktober 2025. (jatim.antaranews.com, 19/12/2025)


Tidak dimungkiri jika kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak dari tahun ke tahun semakin meningkat. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) mencatat dari Januari hingga pertengahan Desember ini ada 198 kasus kekerasan. Data ini dihimpun dari UPT (Unit Pelaksana Teknis) P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak di Kukar (Kabupaten Kutai Kartanegara). Mayoritas korbannya adalah anak dan perempuan. (kutairaya.com, 19/12/2025)


Banyaknya kasus serupa bukan berati tidak adanya sanksi. Hanya saja sanksi yang diterapkan tidak menimbulkan efek jera, tidak heran jika kasus serupa terus berulang. Kasus pelecehan seksual yang terjadi pada anak khususnya, karena peran ibu sebagai ummu warabatul bait tidak benar-benar berjalan sesuai fitrahnya.


Di mana tugas ibu yang seharusnya menjadi pelopor dalam pendidikan dan pembentukan karakter anak, serta memberikan rasa tenang pada anak ketika di dalam rumah, kini nyaris tidak ada. Perannya telah bergeser, dari pendidik menjadi tulang punggung keluarga. Ia harus bekerja keras, tidak jarang ada yang berangkat pagi pulang malam. Mereka dipaksa tahan banting hidup dalam sistem demokrasi-kapitalis sekuler, yang asasnya adalah materi. 


Keadaan ini membuat anak mengalami krisis identitas. Menjadi anak yang lemah, baik mental maupun imannya. Mereka tidak mendapatkan contoh yang baik di lingkungan terkecilnya (keluarga). Peran ibu tidak jalan, begitu juga sebaliknya. Hal ini terjadi karena minimnya lapangan pekerjaan untuk laki-laki, sehingga memandulkan fungsi dari keduanya. 


Alhasil, hak istri terabaikan, hak suami tidak terpenuhi, dan hak anak juga tidak didapat. Dari keadaan yang karut marut inilah, kasus pelecehan seksual atau kenakalan anak tidak terbendung. Akar permasalahannya karena kebutuhan ekonomi yang sulit dan tipisnya keimanan setiap individu karena tiangnya rapuh.


Akan berbeda ketika sistem Islam yang diterapkan. Seorang pemimpin akan serius meri'ayah rakyatnya dengan memenuhi kebutuhan pokoknya seperti, sandang, pangan, pendidikan, dan kesehatan. Setiap individu akan dijamin haknya atas itu. Negara juga membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya untuk laki-laki agar mereka mampu menghidupi keluarganya dengan layak. Jika kebutuhan pokoknya sudah terpenuhi, otomatis seorang ibu tidak akan disibukkan dengan urusan kebutuhan pokok saja. Sebab masalah kebutuhan pokok sudah selesai. 


Dengan terpenuhinya kebutuhan pokok, seorang ibu akan lebih bisa meningkatkan tsaqofahnya dan menjalankan perannya selain sebagai Ummu warabatul bait juga menjalankan kewajiban dakwahnya yang didasari kesadaran politik yang tinggi sehingga mampu memberi nyawa dan menghiasi perannya sebagai ibu yang bercita-cita menjadi pemimpin umat. 


Ia akan mampu mencetak generasi cemerlang, sebagaimana yang pernah ada di masa kejayaan Islam dulu, seperti kisah Muhammad al-Fatih yang mampu menaklukkan konstantinopel, yang saat itu terkenal sebagai kota perkasa dan tak tertandingi selama berabad-abad. Namun, Muhammad al-Fatih telah menjemput bisyarah Rasulullah, ia menaklukkan kota itu ketika berusia 21 tahun. Tentu itu semua tidak lepas dari peran seorang ibu yang luar biasa. 


Tidak dimungkiri bahwa dengan diterapkannya sistem Islam secara Kafah, akan lahir generasi unggul. Generasi yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri tetapi juga memikirkan umat. Siapa yang tidak kenal dengan Fatimah Al Fihri? Muslimah yang mendedikasikan hidupnya untuk umat. Ia mendirikan Universitas Qarawiyyin, yang tercatat sebagai universitas tertua di dunia dan masih beroperasi sampai sekarang. 


Universitas ini mampu mencetak tokoh besar seperti, Abu Al-Abbas Az zawari seorang pakar matematika, Ibnu Khaldun, dan dokter Abu Madhabal Fasi seorang pemuka mazhab Maliki. Tidak hanya itu, ia juga membangun Universitas tertua di Eropa yaitu, Bologna di Italia yang berdiri tahun 1088 M dan disusul Universitas Oxford, Hardvard serta Al-Azhar yang baru dibangun pada tahun 975 M. 


Inilah karya terbaik sosok muslimah Fatimah Al Fihri. Karya ini dapat diraih karena diterapkannya sistem Islam Kafah. Sistem yang akan memberikan kesejahteraan dan mengungguli seluruh peradaban dunia. Sebagaimana Allah Swt. berfirman;

 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرٰٓى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ...

"Dan sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastinya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi....(QS. Al-A'Raf [7]: 96)


Oleh karena itu, sudah menjadi tugas kita untuk bersama-sama menyadarkan umat agar mau diatur lagi dengan aturan Allah Swt., bukan diatur dengan aturan manusia yaitu kapitalis-demokrasi-sekuler yang hanya memikirkan urusan duniawi, tanpa memedulikan Allah rida apa tidak. Wallahu alam bissawaab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan