Game Kekerasan dan Runtuhnya Nurani Anak
OPINI
Oleh Ummu Qianny
Aktivis Muslimah
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI _Ada kabar yang seharusnya tidak pernah kita baca. Namun kini justru menjadi kenyataan yang menampar nurani. Seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar di kota Medan tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri. (tribunnews.com, 29/12/2025)
Fakta yang membuat dada sesak. Peristiwa itu berawal dari kecanduan game online yang sarat dengan kekerasan. (kompas.com, 30/12/2025)
Pertama kali saat berita itu ada, publik bahkan mengaitkan dengan suami korban sebagai pelaku, karena melihat wajah polos sang anak. Namun meskipun saat ini sudah ada penjelasan dari pihak kepolisian dan juga dari psikolog sebagian masyarakat masih sulit menerima dengan akal sehat mereka.
Sesungguhnya, kasus pembunuhan yang dilakukan oleh anak-anak bukan pertama kali terjadi, sebelum kasus anak membunuh ibu di kota Medan itu, hingga tahun 2024 saja menurut data dari kepolisian lebih dari 1000 anak perbulan dijadikan sebagai tersangka kejahatan. (pusiknas.polri, 30/07/2024)
Inilah wajah zaman yang sedang kita hadapi saat ini. Kekerasan yang dahulu terasa menyeramkan, justru kini menjadi tontonan harian anak-anak. Yang dulu tabu, sekarang dianggap hiburan. Yang dulu mustahil, kini menjadi berita. Kasus ini bukan kecelakaan tunggal. Ia hanyalah puncak dari gunung es kerusakan generasi yang selama ini kita abaikan.
Hari ini, game online dengan konten game sarat kekerasan menimbulkan berbagai efek, diantaranya perkelahian brutal, dan kekuasaan berbasis kekerasan beredar bebas. Anak-anak mengaksesnya tanpa rasa bersalah, tanpa pengawasan, bahkan sering kali dengan dalih “agar tidak ketinggalan zaman”. Padahal pola pkir mereka masih rentan, jiwa-jiwa mereka pun belum matang untuk mencerna apa yang mereka lihat. Ketika kekerasan terus-menerus masuk ke mata dan telinga, ia akan turun ke hati, lalu keluar melalui tangan.
Rasulullah saw. bahkan telah mengingatkan dengan tegas, “Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ahmad, Malik, dan Ibnu Majah)
Namun hari ini, bahaya malah diproduksi secara massal dan justru dijual pula dengan dalih sebagai hiburan. Tidak kalah menyedihkan, ruang digital yang katanya netral ternyata justru penuh muatan nilai-nilai yang merusak. Game bukan hanya sekadar permainan belaka, melainkan alat pembentuk cara berpikir dan cara berperilaku. Anak-anak diajari bahwa menyelesaikan masalah bisa dengan kekerasan. Bahwa nyawa bisa diambil tanpa rasa bersalah. Bahwa kemenangan diraih dengan menghancurkan lawan adalah hal yang lumrah. Ketika nilai-nilai ini yang tertanam perlahan, diam-diam, maka akan menghujam dalam.
Semua ini tidak lepas dari sistem kapitalisme global yang menguasai ruang digital. Anak-anak dipandang sebagai pasar bukan sebagai yang harus dilindungi dan dijaga. Selama game menghasilkan uang, selama server hidup dan transaksi berjalan, kerusakan jiwa dan akhlak tidak pernah menjadi hitungan. Kapitalisme tidak mengenal kasih sayang, apalagi tanggung jawab moral.
Allah Swt. telah mengingatkan, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar." (QS an-Nur [24]: 21 )
Sayangnya, sistem hari ini justru membuka jalan selebar-lebarnya bagi langkah setan masuk ke dalam rumah-rumah kita melalui gadget di tangan anak-anak.
Lalu di mana keberadaan negara? Negara hadir dan ada, tetapi peran dan fungsinya sangat lemah. Negara memiliki aturan, namun longgar. Ada peringatan, namun tanpa ketegasan. Negara justru lebih takut mengganggu industri digital daripada melindungi akal dan jiwa generasi. Padahal Rasulullah saw. bersabda, “Pemimpin adalah pengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan mereka.” (HR. Al-Bukhari)
Ketika anak-anak tumbuh dalam kekerasan virtual hingga berani menghilangkan nyawa ibu sendiri, maka kegagalan itu bukan hanya kegagalan keluarga, tetapi kegagalan sistem.
Islam tidak membiarkan persoalan ini tanpa solusi. Islam mewajibkan negara menjaga kehidupan, akal, dan generasi. Segala sesuatu yang terbukti merusak harus dicegah, bukan ditoleransi. Dalam Islam sejatinya negara tidak ragu menutup konten dan industri yang meracuni generasi, karena menjaga jiwa manusia jauh lebih mulia daripada menjaga keuntungan.
Lebih dari itu, Islam menolak tunduk pada hegemoni kapitalisme global. Ruang digital harus berada di bawah kedaulatan nilai Islam, bukan dikendalikan oleh korporasi rakus. Teknologi diarahkan untuk mendidik, menumbuhkan iman, dan menjaga fitrah manusia.
Kerusakan generasi hanya bisa dihentikan dengan tiga pilar yang berjalan bersama, yaitu pilar ketakwaan individu yang dibangun dengan akidah. Pilar kontrol masyarakat yang hidup dengan amar makruf nahi mungkar. Dan pilar negara yang hadir sebagai pelindung sejati.
Tanpa salah satu pilar ini, tragedi akan terus berulang. Kasus anak SD di Medan bukan sekadar kisah tragis. Ia adalah jeritan seorang ibu yang terlambat kita dengar. Jika sistem ini terus dipertahankan, jangan kaget bila kelak berita serupa kembali menghantam kita. Saatnya umat sadar, generasi tidak akan selamat dengan sistem rusak. Hanya Islam kafah yang mampu menjaga kehidupan, akal, dan masa depan manusia.
Wallahualam bissawab

Komentar
Posting Komentar