Ketika Al-Qur’an Dijaga di Negeri Terjajah, Mengapa Ia Terlupa di Negeri Merdeka?

 


OPINI


Ayat ini mengingatkan bahwa ujian hidup bukan semata tentang kehilangan, tetapi tentang bagaimana manusia meresponsnya dengan kesabaran dan keteguhan iman. Di Gaza, ujian dijawab dengan kelekatan pada Al-Qur’an. Di negeri kita, ujian sering hadir dalam bentuk kenyamanan yang perlahan melalaikan

Oleh Anita Humayroh 

Pegiat Literasi


Muslimahkaffahmedia.eu.org, Di tengah reruntuhan rumah, debu yang tak kunjung reda, dan suara sirene yang menghantui setiap waktu, masih ada lantunan yang terus bergema—suara anak-anak Palestina yang membaca dan menghafal Al-Qur’an. Baru-baru ini, di Kamp Pengungsi Al-Shati, Gaza, sebanyak 500 penghafal Al-Qur’an mendapat penghormatan dari masyarakat setempat melalui sebuah perayaan sederhana namun sarat haru, meskipun perang masih berlangsung di sekeliling mereka. Peristiwa ini menjadi simbol kuat keteguhan spiritual masyarakat Palestina serta bukti bahwa Al-Qur’an tetap hidup di tengah kondisi paling gelap. (detik.com, 29/12/25)

Bayangkan sejenak, jalanan yang porak poranda berubah menjadi ruang damai selama beberapa jam. Masyarakat berjalan beriringan, melafalkan takbir, membaca ayat-ayat suci, sambil membawa bendera dan plakat penghormatan. Acara yang sederhana itu seolah menegaskan satu hal penting: ketika dunia runtuh dan harapan nyaris hilang, Al-Qur’an tetap menjadi sumber kekuatan dan sandaran jiwa yang tak tergantikan.

Lebih dari itu, semangat menghafal Al-Qur’an tidak hanya hadir di satu lokasi. Di sejumlah kamp pengungsian lain, termasuk wilayah Rafah yang terus digempur, puluhan markas hafalan Al-Qur’an berdiri di antara tenda-tenda darurat. Anak-anak hingga orang dewasa tetap bersungguh-sungguh mempelajari ayat-ayat suci, meskipun tanpa fasilitas layak dan dalam kondisi yang jauh dari kata aman.

Kisah-kisah ini bukan sekadar deretan angka atau berita inspiratif sesaat. Ia adalah pernyataan tegas tentang prioritas iman. Ketika anak-anak seusia tujuh tahun memilih menghabiskan waktu untuk menghafal Al-Qur’an di tengah ketidakpastian hidup, kita seharusnya berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya kita kejar hingga sering meninggalkan petunjuk hidup ini?

Sementara itu, di negeri yang aman, nyaman, dan bebas dari ancaman perang, ujian yang kita hadapi justru hadir dalam bentuk yang lebih halus. Bukan bom atau senjata, melainkan godaan tanpa henti: hiburan tanpa batas, media sosial yang tak pernah sepi, budaya FOMO, joget-joget demi popularitas, serta obsesi terhadap pengakuan duniawi.

Tak sedikit generasi muda menghabiskan waktunya dengan menggulir layar tanpa henti, larut dalam budaya konsumtif dan hedonistik yang justru menjauhkan hati dari ketenangan. Di satu sisi, anak-anak Palestina menghafal Kalamullah di bawah ancaman nyata; di sisi lain, kita yang hidup dalam kelapangan justru merasa terlalu sibuk dengan tontonan dan tren yang tidak pernah benar-benar memuaskan jiwa. 

Fenomena ini bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan cermin dari prioritas spiritual yang perlu ditata ulang.

Renungan ini bukan dimaksudkan sebagai cercaan, melainkan sebagai cermin yang jujur untuk umat. Jika anak-anak di Gaza mampu menjaga hafalan Al-Qur’an di tengah perang, mengapa kita sering lupa membaca Al-Fatihah di pagi hari? Jika mereka memaknai waktu sebagai kesempatan untuk mendekat kepada Allah, mengapa kita justru memberi nilai lebih pada konten yang mengalihkan hati? Jika mereka memahami tujuan hidup di tengah kekacauan, mengapa kita terseret oleh kejaran dunia yang fana?

Banyak laporan dan dokumentasi menunjukkan bagaimana anak-anak Palestina tetap memegang Al-Qur’an meskipun sekolah ditutup dan masjid rusak. Mereka belajar di bawah tenda, bersama saudara-saudara mereka, membuktikan bahwa tidak ada kondisi seberat apa pun yang mampu menghalangi manusia dari wahyu Allah.

Allah berfirman, “Dan sungguh, kamu benar-benar akan diuji dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini mengingatkan bahwa ujian hidup bukan semata tentang kehilangan, tetapi tentang bagaimana manusia meresponsnya dengan kesabaran dan keteguhan iman. Di Gaza, ujian dijawab dengan kelekatan pada Al-Qur’an. Di negeri kita, ujian sering hadir dalam bentuk kenyamanan yang perlahan melalaikan.

Renungan ini tidak berhenti pada rasa haru atau amarah sesaat. Ia seharusnya menjadi panggilan untuk menyadarkan hati yang mungkin telah lama tertidur. Palestina menunjukkan bahwa iman tetap hidup bukan karena kondisi ideal, melainkan karena hati yang teguh.

Kita memiliki segalanya—akses Al-Qur’an digital, kajian daring, masjid yang terbuka—namun sering kali justru tenggelam dalam kelalaian. Ketika sebagian generasi muda sibuk mengejar tren dan pencapaian duniawi, anak-anak Palestina justru tumbuh dengan Al-Qur’an sebagai pelukan terakhir mereka.

Kini pertanyaannya kembali kepada kita: apakah kita terus mengejar dunia hingga melupakan akhirat, atau mulai menata ulang hidup dengan mengutamakan Allah dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan