Narasi “Marriage Is Scary” Menghantui Gen Z
Oleh Enggar Rahmadani
Aktivis Dakwah
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Berbeda generasi, berbeda pula tantangannya. Karena perbedaan tantangan tersebut, maka akan membentuk cara pandang yang berbeda pula. Salah satunya dalam hal memandang sebuah pernikahan.
Dahulu, anak muda menempatkan pernikahan sebagai tonggak kedewasaan yang harus dicapai. Bahkan, mereka yang sudah berumur 30-an, tetapi tidak kunjung menikah kerap dikaitkan dengan ”keterlambatan” melepas masa lajang. Terlebih bagi perempuan, anggapan ”perawan tua” kerap kali melekat pada mereka yang tidak kunjung menemukan jodohnya.
Namun, di era saat ini tampaknya pandangan tersebut mengalami pergeseran. Salah satunya bisa dilihat dari sebuah fenomena yang belakangan ini sedang hangat diperbincangkan di media sosial, yakni mengenai generasi muda yang lebih takut miskin daripada takut tidak menikah. (kompas.id, 13/12/2025)
Narasi “marriage is scary” ternyata masih banyak diperbincangkan di media sosial, terutama di kalangan generasi muda sekarang, atau yang sering disebut sebagai generasi Z. Akhirnya banyak dari mereka yang memutuskan untuk meghapus keinginannya untuk membangun sebuah keluarga atau untuk menikah.
Ketakutan mereka akan pernikahan bukan tanpa sebab. Banyak yang mereka takutkan, mulai dari enggan menikah karena belum siap secara mental sampai takut menikah karena belum siap secara finansial. Faktor utama mereka takut untuk menikah karena ketidakstabilan ekonomi di masa sekarang sehingga hal tersebut memperkuat ketakutan mereka akan pernikahan.
Cerminan dari realitas ekonomi dan sosial di masa sekarang yang semakin kompleks dapat dilihat dari berubahnya orientasi masyarakat, khususnya generasi Z. Dulu seseorang memandang bahwa pernikahan merupakan suatu hal yang penting, sekarang mereka menganggap bahwa sebuah kestabilan ekonomilah yang menjadi prioritas utama mereka.
Keadaan ekonomi saat ini memanglah sulit. Di mana sistem ekonomi yang kita pakai sekarang, yaitu sistem ekonomi kapitalis, manjadikan masyarakat kecil-menengah sering mengalami kesulitan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Di dalam sistem kapitalis semua hal dikapitalisasi dan harganya pun mahal. Mulai dari mahalnya biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok lainnya. Akan tetapi di sisi lain gaji mereka tidak mengalami kenaikan yang signifikan, sehingga gaji mereka akan habis untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka dan sulit untuk menabung. Mereka akan mengalami kesulitan untuk mencapai kestabilan ekonomi.
Banyak dari generasi Z yang membuat standar akan kesiapan untuk menikah dilihat dari materi saja. Padahal standar tersebut merupakan buah dari budaya konsumtif yang dibangun oleh sistem kapitalis itu sendiri.
Gaya hidup materialistik dan hedonisme banyak menjangkit generasi muda sekarang dan hal tersebut mempengaruhi orientasi hidup mereka. Oleh karena itu, jelas bahwa ketakutan yang mereka alami merupakan akibat dari sistem ekonomi kapitalis yang diemban saat ini. Alhasil, tidak heran kalau generasi Z memandang bahwa pernikahan merupakan sebuah beban, bukan lagi sebagai suatu ladang kebaikan dan jalan melanjutkan keturunan.
“Marriage is scary” yang disebabkan karena ketidakstabilan ekonomi mencerminkan bahwa negara gagal dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya. Negara cenderung lepas tangan dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya sehingga beban hidup dipikul individu.
Guna mengatasi ketakutan mereka akan pernikahan, tentu tidak cukup dengan ajakan moral atau kampanye untuk segera menikah. Akar persoalannya adalah ketidakpastian ekonomi. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi konkret secara struktural dalam mengatasinya.
Islam adalah agama yang lengkap. Islam mengatur manusia dalam urusan ibadah, serta mengatur urusan sosial dan ekonomi. Berbeda halnya dengan negara yang menerapkan sistem Islam, di mana semua peraturan dan regulasi didasarkan atas hukum syara’. Negara Islam akan menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat, dan setiap orang mendapat kesempatan meraih kebutuhan sekunder maupun tersier.
Pemenuhan kebutuhan dasar rakyat merupakan tenggung jawab negara melalui mekanisme Baitul Mal. Negara dengan menerapkan sistem ekonomi Islam akan banyak membuka lapangan kerja. Rakyat akan mudah untuk mendapatkan pekerjaan serta mereka akan mendapatkan upah yang sesuai dengan realitas biaya kehidupan sehari-hari.
Dalam sistem kapitalis, mekanisme upah sering timpang, sedangkan sistem ekonomi Islam, mereka memiliki sistem upah yang lebih adil dan fleksibel. Di dalam negara Islam, pengelolaan milkiyyah ammah dilakukan oleh negara, bukan swasta/asing, sehingga hasilnya kembali untuk kesejahteraan masyarakat dan mampu menekan biaya hidup.
Selain itu, negara juga memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan gratis bagi seluruh rakyat. Dalam pendidikan, negara juga menggunakan sistem Islam dengan berbasis aqidah. Pendidikan yang berbasis aqidah akan membentuk generasi berkarakter, tidak terjebak hedonisme dan materialisme. Mereka justru menjadi penyelamat umat.
Dalam membentuk generasi yang cemerlang perlu adanya penguatan dalam institusi keluarga, yaitu dengan mendorong pernikahan sebagai ibadah dan penjagaan keturunan. Pentingnya keteladanan orang tua dalam membentuk persepsi positif tentang keluarga. Sebagai seorang muslim, kita harus yakin bahwa Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk dan tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan manusia.
Semua ketakutan dan tantangan yang dihadapi saat ini mampu kita atasi jika kita mau kembali kepada hukum syara’. Karena hanya Islam, yang mampu mengatasi segala problematika hidup manusia serta mampu menciptakan generasi yang cemerlang. Seluruhnya hanya dapat terwujud dalam sistem Khilafah sebagai satu-satunya sistem pemerintahan Islam yang menerapkan Islam secara menyeluruh.
Wallahualam bi ash-shawab.

Komentar
Posting Komentar