Potret Rapuhnya Bangunan Institusi Keluarga dalam Sistem Sekularisme
OPINI
Oleh Luluk Kiftiyah
Aktivis Muslimah
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Innalillahi wainnailaihi rojiun. Tak ada asap jika tak ada api, setiap kejadian atau masalah pasti ada penyebabnya. Sama seperti kasus pembunuhan yang dilakukan oleh darah dagingnya sendiri. Tidak mungkin tak ada sebab anak membunuh orang tuanya, artinya pasti ada sumber pemicunya, yang mana kasus pembunuhan serupa terus berulang.
Seperti halnya kasus pembunuhan Faizah Soraya yang dilakukan oleh putri kandungnya yang berinisial SAS atau AL (12) yang dipacu karena sakit hati lantaran ibunya sering melakukan kekerasan dan ancaman terhadap dirinya dan anggota keluarga lainnya. Puncaknya, ketika ibunya menghapus aplikasi game online yang ada di hpnya. (kompas.com, 29/12/25)
Selain kasus Faizah Soraya, lebih dulu kasus Dosen USU (Universitas Sumatra Utara) yang berinisial OKH (58) tewas ditusuk anak kandungnya yang berinisial H (18). Aksi penusukan terjadi karena ia kesal lantaran sang ayah menganiaya ibunya. Saat itu, korban cekcok dengan ibunya sambil melakukan KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga), emosi pelaku memuncak dan mengambil pisau dapur, lalu menusuk korban berkali-kali hingga meninggal. (detiknews.com, 21/12/25)
Kasus di atas mencerminkan betapa rapuhnya bangunan institusi keluarga dalam sistem sekularisme. Ini semua terjadi karena tidak ditanamkan nilai ruhiyah (kesadaran anak sebagai seorang hamba). Penting bagi seorang muslim untuk menanamkan akidah Islam sebagai pondasi hidup agar setiap perbuatannya tunduk pada hukum syarak.
Hal ini penting ditanamkan dan dipraktekkan oleh orang tua dalam lingkungan keluarga. Lewat pembiasaan dari orang tuanya di rumah maka akan membentuk karakter anak untuk taat pada hukum syarak, sehingga halal-haram menjadi standar perbuatannya. Pendidikan akidah Islam inilah yang sering lupa dan diabaikan oleh orang tua.
Padahal bagi seorang muslim, kebutuhan agama anak itu harus dipenuhi. Rasulullah saw. telah mencontohkan metode dalam mendidik anak itu ada empat fase yaitu: pertama, fase balita usia 0 sampai 6 tahun. Pada fase ini orang tua harus mendidik anak seperti seorang raja. Anak dilayani dengan sepenuh hati, dan dalam proses ini, fase pengasuhan ibu harus jauh lebih dominan.
Kedua, fase mumayiz (pra balig) usia 7 sampai 14 tahun. Pada fase ini orang tua harus mendidik anaknya seperti seorang tawanan. Orang tua mengajarkan anak kedisplinan dan tanggung jawab. Dalam hal ini, fase pengasuhan harus sesuai gender. Di mana anak laki-laki dekatkan dengan ayah dan anak perempuan dekatkan dengan ibu.
Ketiga, fase ketiga yaitu usia 15 sampai 21 tahun. Pada fase ini, orang tua harus mendidik anaknya seperti seorang sahabat. Fase di mana pengasuhan dibalik, yaitu anak perempuan didekatkan dengan ayahnya dan anak laki-laki didekatkan dengan ibunya.
Keempat, terakhir fase usia 21 tahun ke atas. Fase ini, orang tua memberikan kepercayaan dan kebebasan dengan pantauan dan peran orang tua dalam memberikan nasihat serta masukan kepada anak.
Pada fase balig, remaja hingga dewasa wajib dipahamkan kepada anak atas ketundukan pada syariat yang harus menjadi standar perbuatannya. Dengan begitu, anak tidak akan mudah untuk menyakiti bahkan membunuh. Sebab mereka sudah terpahamkan akan konsekuensi dari perbuatannya. Apabila mereka melakukan tindakan yang diharamkan atau dibenci Allah maka dosa balasannya. Dengan begitu mereka akan ingat bahwa tindakan tersebut salah dan ada hukuman tegas bagi yang melanggarnya.
Dalam Al-Qur'an jelas, Allah Swt. mengecam keras orang yang membunuh sesama mukmin dengan balasan neraka Jahanam dan kemurkaan-Nya. Allah Swt. berfirman:
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُتَعَمِّداً فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ ععَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً
"Siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya." (QS. An-Nisa [4]: 93)
Namun, karena hari ini kita hidup di bawah naungan sistem kapitalisme sekuler yang semua kesuksesan serba diukur dengan materi, anak tidak dikenalkan pada Rabbnya, dan tidak dipahamkan apa tujuan eksistensi mereka sebagai seorang hamba. Maka yang ada ialah bangunan institusi keluarga rapuh dan tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Sehingga model pengasuh ala kapitalis sekuler hanya mementingkan tampilan dari luar atau jasmaninya saja yang terlihat sempurna, padahal ruhaniyahnya kosong.
Standar perbuatannya tidak didasarkan atas keridaan Allah. Tidak melihat halal atau haram, melainkan hanya untuk memenuhi kepuasan nalurinya semata. Hal inilah yang menjadikan ketidakseimbangan kehidupan. Orang tua sibuk mencari nafkah tanpa memedulikan hak anak. Sedangkan anak disibukkan dengan gawainya dan game online. Keadaan ini membentuk karakter anak yang individualis dan cepat marah. Yang paling parah, mereka tidak mengenal tuhannya.
Dari pengasuhan ala kapitalis sekuler seperti itu tidak akan membentuk akhlak anak yang ideal. Tidak dimungkiri hidup di jaman kapitalis sekuler saat ini, butuh pengawasan penuh dari orang tua. Sehingga butuh menerapkan pengasuh yang dicontohkan oleh Rasulullah saw..
Namun, tugas ini sangat berat jika dilakukan dari keluarga saja, karena kerusakannya sudah masuk dalam segala lini. Terutama efek dari video game, di mana anak menjadi ketergantungan dengan gawainya. Maka butuh solusi dan penyangga yang kokoh untuk merubah arah pandang pendidikan anak-anak hari ini, yaitu dengan pilar syariat Islam, antara lain: pertama, ketakwaan individu, yang dibentuk oleh orang tua sedari kecil.
Kedua, kontrol masyarakat, aktifitas amar makruf nahi mungkar berjalan. Ketiga, negara sebagai pelaksana tata aturan. Negara tidak mandul dalam me-ri'ayah rakyatnya. Negara serius me-ri'ayah umat dan menerapkan sanksi yang tegas bagi yang melanggarnya.
Apabila tiga pilar ini diterapkan, maka kecil kemungkinan terjadi kekerasan bahkan pembunuhan secara berulang. Sebab akidah anak sudah benar dan kuat dari akarnya. Kontrol masyarakat berjalan dan sanksi yang tegas dari negara juga berfungsi sebagaimana mestinya. Dari sini insyaallah keberkahan akan Allah limpahkan.
Wallahualam bissawaab

Komentar
Posting Komentar