Bencana Tiada Henti, Saatnya Introspeksi
OPINI
Oleh Yani Ummu Qutuz
Pegiat Literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Bencana silih berganti menghampiri beberapa wilayah di negeri ini. Akhir November lalu banjir bandang yang begitu dahsyat serta mengerikan terjadi di wilayah Sumatra dan Aceh. Menyisakan endapan lumpur yang begitu tinggi bahkan hingga saat ini penanganan bencana banjir jauh dari kata layak, malah cenderung abai. Masalah turunan muncul berupa kelaparan karena kekurangan pangan, kekurangan air bersih, penyakit-penyakit pascabanjir bermunculan, dan sebagainya.
Derita bencana masih menyisakan luka menganga, muncul lagi bencana di wilayah Jawa Barat. Musibah tanah longsor terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026.
Kronologis Kejadian
Dikutip dari detikjabar.com (30-1-2026), memberitakan sekitar pukul 02.30 WIB, peristiwa maut itu terjadi di saat warga tengah terlelap. Deru air dan material tanah meluncur bebas dari lereng bukit Burangrang. Dalam sekejap, longsor menerjang Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (24-1-2026).
Pada hari ke-10 pencarian, Senin (2-2-2026) siang, telah ditemukan semua korban tertimbun longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Tim SAR gabungan mengevakuasi total 80 kantong jenazah dan memastikan tidak ada lagi jenazah dalam pencarian.
Ade Adian Permana selaku Kepala Kantor SAR Bandung, dalam keterangan resminya, Senin (2-2-2026), mengatakan korban yang sudah dievakuasi sampai hari Senin ini pukul 11.45 WIB, sebanyak 80 bodypack, sesuai data korban yang hilang sebelum pencarian. Update korban terbaru hari ini, Senin (2-2-2026), Tim SAR Gabungan menemukan sebanyak 83 kantong jenazah. Temuan ini melebihi daftar pencarian korban yang semula 80 orang. (Antara.com, 2-2-2026)
Penyebab Bencana Longsor
Beberapa pekan terakhir ini, curah hujan di Bandung memang begitu ekstrem. Curah hujan di atas 200 milimeter per hari menjadi faktor utama terjadinya longsor di hulu sungai yang mengalir ke arah perkebunan dan pemukiman penduduk. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan curah hujan yang sangat tinggi menjadi pemicu utama penyebab longsor. Terlebih wilayah Kabupaten Bandung Barat memiliki topografi berbukit, curam, dan kondisi tanah yang labil.
Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB) DR. Eng. imam Ahmad Sadisun, S.T., M.T. menganalisis bahwa kejadian itu merupakan hasil dari interaksi faktor alamiah yang kompleks. Imam menilai bahwa kejadian longsor di Cisarua merupakan hasil dari interaksi faktor alamiah komplek dan ulah tangan manusia. Kolaborasi ini menghasilkan mekanisme aliran lumpur (mudflow) dan longsoran di bagian hulu sungai menjadi pemicunya.
Lingkungan geologi wilayah Kabupaten Bandung Barat berada pada tanah yang secara alamiah tersusun atas material vulkanik tua dan telah mengalami pelapukan relatif tebal. Batas tanah hasil pelapukan dan batuan dasar relatif lebih kedap air, inilah kadang yang menjadi medan gelincirnya ditambah dengan intensitas hujan yang panjang. Kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis. Pada kondisi ini, kadang lereng tidak mampu lagi menahan bebannya sendiri.
Alih Fungsi Lahan Diduga Menjadi Penyebab Longsor
Secara ekologis kawasan lereng dan hulu di Burangrang dan wilayah Lembang-Parongpong adalah wilayah penyangga utama di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Merupakan wilayah vital sebagai resapan air dan penyangga kehidupan Bandung Raya. Namun, sekarang wilayah ini beralih fungsi menjadi perluasan kawasan area wisata, pemukiman (vila/perumahan), konversi hutan menjadi kebun sayur. Akibat alih fungsi lahan membuat kawasan ini rawan longsor.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui sekdanya Herman Suryatman mengatakan melalui pengamatan awal menunjukkan adanya alih fungsi lahan. Kawasan ini dulunya merupakan hutan dengan tanaman keras, tetapi sekarang jadi perkebunan palawija. Saat hujan turun ditambah lagi adanya aliran air walaupun kecil, memungkinkan sekali terjadi bendungan alami dari batu dan kayu kemudian jebol. (Metrotvnews.com, 24-1-2026)
Beginilah ketika sistem kapitalis diterapkan. Menyerahkan pengelolaan alam pada hawa nafsu manusia. Eksploitasi alam yang berlebihan, penebangan hutan, dan alih fungsi lahan membuat ketidakseimbangan lingkungan. Mengedepankan keserakahan dan kerakusan manusia untuk mendapatkan keuntungan materi, daripada memikirkan dampaknya
Sistem ekonomi kapitalis berdiri di atas asas manfaat. Siapa yang memiliki kekuatan modal dan bisa memberikan manfaat berupa pajak, maka akan diberikan karpet merah oleh penguasa. Berbagai kebijakan akan berpihak pada mereka yang punya duit, tidak peduli ulah oligarki akan merusak daerah resapan air atau mengubah tata guna lahan bahkan menyebabkan bencana berupa banjir dan longsor.
Kerusakan Akibat Ulah Tangan Manusia, Saatnya Introspeksi
Setelah mencermati berbagai bencana yang terjadi di negeri ini kebanyakan akibat ulah tangan manusia. Dalam pandangan Islam secara umum kerusakan ini disebut fasad. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman-Nya dalam surah Ar-Ruum ayat 41.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia. Dengan itu Allah berkehendak agar manusia merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan-Nya.
Al-fasad dalam ayat ini artinya segala bentuk pelanggaran terhadap sistem yang Allah ciptakan. Manusia telah berpaling dari aturan Islam dengan menerapkan sistem kapitalis yang telah terbukti rusak dan merusak. Kerusakan demi kerusakan akan terus terjadi tatkala manusia masih menerapkan sistem kapitalis. Kebijakan-kebijakan yang melanggar syariat terus digulirkan, tentu hal ini akan mendatangkan bencana. Begitu kebijakan pengelolaan alam dan lingkungan harus diubah dengan paradigma syariat Islam.
Allah menciptakan manusia di muka bumi ini sebagai khalifah fil ardh. Artinya manusia diciptakan untuk memakmurkan bumi, manusia bertanggung jawab untuk mengelola alam sesuai syariat Islam. Menjaga amanah kelestarian alam bukan mengeksploitasinya.
Dalam Islam, SDA seperti air, api, dan padang gembalaan merupakan kepemilikan umum yang wajib dikelola oleh negara bukan oleh swasta apalagi individu. Pengelolaan SDA sesuai syariat Islam akan mendatangkan kemaslahatan bagi umat. Perusakan alam akibat aktivitas manusia adalah keharaman dan akan mengundang bencana dari Allah Swt..
Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi kita untuk introspeksi terhadap berbagai bencana yang terjadi. Banyak sekali kemaksiatan yang kita lakukan sehingga mengundang azab Allah Swt. terutama pengabaian penerapan syariat Islam di tengah kehidupan. Saatnya kaum muslim kembali untuk melanjutkan kehidupan Islam sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah saw., khulafaur rasyidin, dan para khalifah setelahnya. Berhukum hanya pada hukum Allah dan aturan Allah hanya bisa diterapkan dalam sebuah institusi Khilafah tidak yang lainnya. Wallahualam bissawab

Komentar
Posting Komentar