Board of Peace Seperti Perjanjian Hudaibiyah, Yakin?

 


Rasulullah saw. ketika melakukan perjanjian Hudaibiyah karena perintah Allah Swt.. Jadi meskipun para sahabat pada waktu itu banyak yang protes tidak bisa dibatalkan. Sementara BoP adalah ide gila Donald Trump, otak penjajahan nomor satu di dunia. Ide yang berasal dari manusia yang dipenuhi hawa nafsu dunia.


OPINI 

Oleh Yuli Ummu Raihan 

Muslimah Peduli Generasi 


Muslimahkaffahmedia.eu.org,Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto memiliki orientasi ke masa depan dan mampu membaca tanda-tanda zaman. Menag mengatakan kita bersyukur berharap ini adalah jalan terbaik untuk bangsa kita karena posisi Indonesia saat ini sangat-sangat penting. Menag mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh presiden kita hari ini seperti Perjanjian Hudaibiyah di masa Rasulullah saw..

Saat itu banyak sahabat yang menentang dan salah paham, tetapi setelah melihat hasilnya ternyata itu yang terbaik untuk dunia Islam pada waktu itu. Beliau berharap melalui doa para ulama dan masyarakat Indonesia akan membawa Indonesia makin memiliki posisi penting di dunia internasional. Kementerian Agama selalu proaktif dalam mengartikulasikan pernyataan presiden ke organisasi masyarakat (ormas) Islam dan kalangan akademisi. (JawaPos.com, 3/2/2026)

Board of Peace atau BoP memang kontroversial, mulai dari penggagasnya (Donald Trump), agendanya, serta iuran anggotanya. Beberapa negara seperti Prancis, Inggris, dan Norwegia menolak bergabung dengan BoP. Sementara Kanada dan Brasil khawatir ini akan menjadikan AS makin mendominasi dan PBB diabaikan perannya. Namun, ironisnya negara-negara muslim serta ormas Islam justru mendukung agenda ini, termasuk Indonesia.

Pada Selasa 3 Februari 2026, Presiden Prabowo Subianto mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh muslim dan ormas Islam serta pimpinan pondok pesantren di Istana Merdeka Jakarta. Prabowo mengatakan bergabungnya Indonesia dalam BoP ini untuk membela dan membantu kemerdekaan rakyat Palestina. Prabowo juga berjanji akan mengirimkan pasukan perdamaian ke Palestina. Hal ini kontras dengan pernyataan presiden sendiri dalam beberapa kesempatan yang menjelaskan bahwa perdamaian Palestina hanya dapat terwujud apabila keamanan Israel juga dijamin.

Tokoh muslim Ustaz Yasin Muthohar melalui akun Instagramnya @Abi.Yasinmuthohar, berpendapat bahwa menyamakan BoP dengan perjanjian Hudaibiyah adalah qiyas ma'al fariq atau qiyas yang batil, karena keduanya berbeda. Perjanjian Hudaibiyah untuk kepentingan umat Islam, sedangkan BoP untuk kepentingan Barat, Amerika, Israel, dan bentuk normalisasi penjajahan.

Sementara advokat dan aktivis Islam Ahmad Khozinudin dalam tulisannya menyebutkan derita yang dialami warga Palestina karena tiga sebab utama, yaitu runtuhnya Kekhilafahan Turki pada tahun 1924, sokongan Inggris yang dilanjutkan Amerika, dan pengkhianatan dunia Islam. Tujuan BoP adalah melegitimasi penjajahan Israel atas Palestina, menghapus Palestina dari peta dunia, dan melibatkan dunia ketiga untuk menampung rakyat Palestina yang diusir dari tanahnya setelah nanti dikuasai Israel. Maka aneh dan tidak ada rasa malu mengutip perilaku Rasulullah saw. yang mulia saat melakukan perjanjian Hudaibiyah dengan BoP. Ini adalah bentuk pengkhianatan kepada Allah Swt., Rasulullah, dan kaum muslim.

Rasulullah saw. ketika melakukan perjanjian Hudaibiyah karena perintah Allah Swt.. Jadi meskipun para sahabat pada waktu itu banyak yang protes tidak bisa dibatalkan. Sementara BoP adalah ide gila Donald Trump, otak penjajahan nomor satu di dunia. Ide yang berasal dari manusia yang dipenuhi hawa nafsu dunia.

Rasulullah saw. ketika melakukan perjanjian Hudaibiyah adalah seorang kepala negara di Madinah. Seseorang yang memiliki kedaulatan dan kekuatan. Sementara hari ini negara-negara yang menjadi anggota BoP tidak punya kekuatan apa pun. Tidak ikut merumuskan visi misi pembentukan. Hanya mengikuti apa yang sudah ditetapkan oleh Donald Trump termasuk harus menyetor sejumlah uang sebagai konsekuensi bergabung ke dalam BoP.

Perjanjian Hudaibiyah memiliki target, yaitu pembebasan kota Mekah atau Fathul Mekah. Hal ini dapat kita buktikan ketika kafir Quraisy melanggar isi perjanjian tersebut. Rasulullah saw. segera mengirimkan pasukan untuk menaklukkan Mekah. Sementara baru sehari setelah penandatanganan BoP, Israel kembali melakukan penyerangan terhadap Palestina. Israel telah berkali-kali pula melanggar perjanjian gencatan senjata. Namun, apa yang bisa dilakukan oleh BoP? Tidak ada, hanya menutup mata. Dunia Islam lagi-lagi hanya bisa mengecam, bukan mengirim pasukan atau keluar dari BoP.

Perjanjian Hudaibiyah memiliki batas waktu, yaitu 10 tahun. Sementara BoP tidak ada batas waktunya. Bahkan Donald Trump ditetapkan sebagai Ketua Dewan Perdamaian tanpa batas waktu. Maka bagaimana bisa menyamakan antara BoP dengan perjanjian Hudaibiyah. Ini adalah bentuk penyesatan politik untuk meraih dukungan umat Islam. 

Berhentilah mencari dalil atau perumpamaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Katakan yang haq itu haq dan yang batil itu batil. Jangan mencampuradukkan keduanya atau berupaya melakukan cocokologi agar terkesan islami.

Seperti penyataan Pimpinan Wahdah Islamiyah Zaetun Rasmin yang menganalogikan bergabungnya Indonesia ke dalam BoP seperti masuknya Nabi Musa ke dalam kekuasaan Fir'aun yang justru di kemudian hari menjadi blunder bagi Fir'aun. Mirisnya lagi beliau mengatakan kita tidak boleh menutup mata, bahkan iblis sekalipun memiliki kebaikan. Astaghfirullah!

Allah telah menjelaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 9: "Jika dua golongan mukmin saling membunuh, maka hendaklah kalian damaikan mereka. Jika salah satunya berbuat zalim kepada yang lain, maka perangilah pihak yang berbuat zalim hingga mereka kembali kepada syariat Allah, jika mereka mau kembali kepada syariat Allah, maka damaikanlah mereka dengan adil. Wahai orang-orang mukmin, berlakulah adil, sungguh Allah menyukai orang-orang yang adil."

Ayat ini menekankan pentingnya keadilan dan perdamaian. Maka mengapa hari ini dunia khususnya negeri-negeri Islam tidak mau memerangi Israel yang jelas-jelas sudah menzalimi saudara kita di Palestina? Mengapa malah memilih tunduk pada agenda mereka, bahkan rela mengeluarkan uang yang nilainya fantastis? Padahal tidak ada jaminan uang tersebut benar-benar untuk pembangunan Palestina atau justru menjadi senjata untuk menghancurkan Palestina.

Takutlah kelak kita semua akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang kita lakukan hari ini untuk saudara kita di Palestina. Palestina pasti akan merdeka, itu adalah janji Allah Swt., tetapi bukan melalui BoP. Wallahua'lam bishawab.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic