Di Balik Dokumen Epstein, Antara Skandal Kekuasaan dan Dakwah

 


OPINI 

Oleh Elfia Prihastuti,S.Pd

Praktisi Pendidikan 


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -elama bertahun-tahun nama Jeffrey Epstein identik dengan misteri, kekuasaan, dan sisi gelap elite global. Namun, ketika ribuan halaman dokumen pengadilan mulai dibuka untuk publik, tabir itu perlahan tersingkap. Bukan sekadar daftar nama pesohor yang mengejutkan dunia, dokumen-dokumen ini menceritakan kisah yang lebih dalam: tentang bagaimana sistem hukum bisa dibuat buta oleh kekayaan dan bagaimana para penyintas terus berjuang menuntut kebenaran di tengah tumpukan rahasia yang sengaja dikubur rapat.


Departemen Kehakiman AS merilis dokumen terbaru Jeffrey Epstein pekan lalu. Di dalamnya berisi 3 juta dokumen, foto, dan video terkait dengan penyelidikan Epstein. Epstein merupakan terpidana yang terlibat dalam perdagangan seks. Ia akhirnya meninggal di tahanan pada 10 Agustus 2019. Otoritas AS menyebutkan penyebab kematiannya adalah bunuh diri. Namun, banyak pihak yang meragukan hal itu. (Kompas, 8/2/2026)


Rilis dokumen oleh Departemen Kehakiman juga mengungkap hubungan dekat Epstein dengan tokoh-tokoh terkemuka dunia di bidang politik, keuangan, akademik, dan bisnis, baik sebelum maupun setelah ia mengaku bersalah pada 2008 atas dakwaan prostitusi, termasuk meminta layanan dari anak di bawah umur. (Kontan.co.id, 18/2/2026)


Mengguncang Dunia 


'Epstein file', jutaan dokumen yang mengungkapkan sebuah kejahatan yang memenuhi ambang batas hukum. Dokumen ini menampilkan tindak kriminal perdagangan seks dan eksploitasi seksual anak di bawah umur yang dilakukan oleh seorang konglomerat AS bernama Jeffrey Epstein. Rangkaian investigasi pengadilan, jejak penyelidikan, korespondensi pribadi serta bukti-bukti pendukung yang dikemas dalam sebuah file selama proses hukum berjalan turut melengkapi berkas Epstein.


Dalam berkas Epstein ini juga tercakup foto, email pribadi, log penerbangan, arsip kejaksaan, penyelidikan FBI hingga ungkapan para saksi yang sebelumnya disegel. Dibukanya dokumen ini di hadapan publik bertujuan meningkatkan transparansi terhadap kasus paling besar dan fenomenal dalam sejarah modern Amerika Serikat.


Skandal Epstein berhasil menciptakan guncangan bagi dunia. Karena file ini menguliti habis moral para petinggi elite global. Dari presiden, perdana menteri, dokter, anggota kerajaan, profesor, dan sejumlah publik figur dari dunia hiburan dan bisnis global. Epstein bukan sekadar miliarder; ia adalah seorang "kolektor relasi." Ia membangun jaringan yang membuatnya merasa tidak tersentuh oleh hukum melalui beberapa cara:


Lingkaran Politik dan Kekuasaan: Ia menjalin kedekatan dengan tokoh-tokoh paling berpengaruh, termasuk mantan Presiden AS (Bill Clinton), anggota keluarga kerajaan (Pangeran Andrew), hingga pebisnis papan atas (Bill Gates). Kehadiran tokoh-tokoh ini di sekitarnya memberikan citra "legitimasi."


Filantropi sebagai Topeng: Epstein menyumbangkan jutaan dolar ke institusi pendidikan elite seperti Harvard dan MIT. Dengan mendanai sains dan penelitian, ia membangun reputasi sebagai orang yang cerdas dan dermawan, yang membuatnya sulit dicurigai sebagai predator.


Pemerasan yang Diduga (Blackmail): Banyak teori dan kesaksian menyebutkan bahwa Epstein mengumpulkan informasi sensitif atau "kartu as" dari orang-orang kuat yang mengunjungi pulau pribadinya. Hal ini menciptakan situasi di mana orang-orang berkuasa memiliki kepentingan untuk tetap diam atau melindunginya agar rahasia mereka tidak terbongkar.


Akses Tak Terbatas: Ia memiliki pesawat pribadi (yang dijuluki "Lolita Express") dan pulau pribadi (Little St. James). Fasilitas ini digunakan untuk memanjakan tamu-tamunya yang berpengaruh, menciptakan ikatan loyalitas yang gelap.


Semua itulah yang menjadikan dunia terguncang, ketika file yang di dalamnya berisi skandal Epstein dibuka.


Kebobrokan Peradaban Barat


Skandal Epstein bukanlah sekadar skandal pribadi yang melibatkan para elite global. Seperti skandal Watergate atau Iran-Contra, tetapi ini merupakan skandal publik: sosial, politik, moral, dan etika.


Barat selama ini selalu mendengung-dengungkan hak asasi manusia dan mengklaim membela hak perempuan dan hak anak. Fakta skandal Epstein ternyata mampu membongkar topeng kepalsuan yang selama ini selalu dipropagandakan.


Barat dengan pemikiran sekulernya, menabrak fitrah yang jauh melampaui batas moral. Manusia diperlakukan tak ubahnya hewan yang tanpa emosi dan moral. Barat memandang wanita hanyalah komoditas yang dijual murah di pasar budak dan rumah bordir untuk diambil keuntungan melalui pelampiasan syahwat. Anak kecil juga dianggap sumber kesenangan dengan menyiksanya.


Skandal publik ini melibatkan para elite global seperti Trump dan Clinton, pangeran dan putri dari Inggris, Swedia, dan Norwegia, miliarder seperti Bill Gates dan Elon Musk, ilmuwan seperti Stephen Hawking, serta politisi, aktor, penyanyi, ilmuwan, pengusaha, dan selebriti dari seluruh dunia.


Para elite tersebut telah melampiaskan kesenangan di bawah jebakan Epstein dan menganggap kesejahteraan dan kebahagiaan bagi mereka. Tak peduli sejatinya mereka telah melakukan penyimpangan dan kejahatan. Bukan terbatas pada pelanggaran kehormatan, penjualan gadis di bawah umur dan pembunuhan atas kepolosan mereka, tetapi juga runtuhnya keadilan dan peradilan, kerusakan pengadilan dan hukum, serta upaya menutupi kejahatan tersebut dengan penipuan dan kesepakatan hukum yang mencurigakan selama seperempat abad atau lebih.


Selama bertahun-tahun praktik peradilan dibutakan oleh harta kekayaan. Keadilan telah mati terkubur bersama terbelinya kejahatan di meja hijau pengadilan. Sampai saat ini tak ada tersangka yang dibawa ke tiang gantungan karena mendapat perlindungan dari jabatan yang masih diduduki. 


Peradaban Barat sejatinya telah menghancurkan diri sendiri meski tak ada pihak yang menghancurkan. Pantaskah peradaban rusak ini dipercaya? Faktanya tidak dinafikkan sampai hari ini peradaban ini masih dipertahankan, termasuk oleh negeri-negeri muslim. Padahal Islam memiliki peradaban jauh lebih mulia.


Momentum.Umat Gencarkan Dakwah


Skandal Epstein yang melibatkan kelompok elite global secara tidak langsung telah mengungkapkan kebobrokan ideologi kapitalisme yang sekarang diemban Barat. Skandal Epstein tidak hanya dipandang dari sisi moral semata, tetapi juga dari sisi peradilan. Kebenaran tak akan pernah menemukan jalan dalam sistem buatan manusia ini.


Materi selalu menjadi ujung pencapaian dari berbagai upaya yang dilakukan. Faktanya harta duniawi mampu membutakan sistem peradilan yang disembunyikan bertahun-tahun. 


Cendekiawan Muslim Ustaz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) dalam Fokus: Skandal Epstein Mengguncang Elite Dunia, Ahad (8/2/2026) di kanal YouTube UIY Official mengungkapkan skandal Epstein harus menjadi momentum bagi para pengemban dakwah untuk menanamkan optimisme pada umat tentang masa depan umat di bawah naungan kekuasaan Islam.


Kapitalisme tidak akan membawa keberkahan bagi kehidupan manusia. Sebab sistem ini lahir dari pikiran manusia yang lemah dan tidak sempurna. Berbeda dengan Islam yang aturan-aturannya berasal dari pencipta.


Allah Swt. mengetahui segala sesuatu yang patut dan tepat bagi manusia sebagaimana pengetahuan-Nya terhadap jumlah dedaunan yang gugur di permukaan bumi. Karenanya dia mensyariatkan untuk manusia hukum dan peraturan yang akan memenuhi segala kebutuhan sekaligus merealisasikan kemaslahatan menolak kejahatan dan kerusakan serta menjamin adanya kehidupan yang aman dan tenteram.


Tuhan Yang Maha Mengetahui makhluk-Nya ini telah mensyari'atkan dan mengatur kehidupan manusia secara sempurna dan mewajibkan manusia agar menerapkan semua yang telah diturunkan-Nya melalui Rasul-Nya.


اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ


Artinya:


"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu". (QS. Al-Maidah: 3)


Oleh karena itu, para pengemban dakwah harus menjadikannya sebagai kesempatan untuk makin menggencarkan dakwah Islam kaffah sebagai alternatif sistemik.


Artinya, upaya menyerukan dan menerapkan ajaran Islam secara utuh, menyeluruh (komprehensif), dan terintegrasi (tidak sepotong-sepotong) sebagai solusi atau jalan keluar atas berbagai permasalahan kehidupan manusia, yang sekaligus menggantikan sistem-sistem yang dianggap tidak membawa kemaslahatan seperti kapitalisme berikut turunannya, sekularisme/liberalisme. Wallahualam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic