Di Balik Tren 'Marriage is Scary'
OPINI
Oleh Elfia Prihastuti, S.pd.
Praktisi Pendidikan
Muslimahkaffahmedia.eu.org'Marriage is scary'. Satu frasa yang kerap diulang media sosial dalam dekade terakhir. Fenomena ini bukan semata tren sesaat, bukan pula sekadar meme. Fakta ini merupakan refleksi jujur dari kegelisahan akut yang mewarnai pemikiran anak muda terutama Gen Z terhadap institusi pernikahan.
Akhir-akhir ini sebuah narasi kolektif marriage is scary atau pernikahan itu menakutkan tengah ramai di Tik Tok. Sebuah potongan video pendek yang memperlihatkan kisah perselingkuhan, beban domestik yang timpang, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) cukup menggetarkan lini masa. (publikmalutnews.com, 5/1/2026)
Sementara data Badan Statistik mencatat dalam kurun sepuluh tahun terakhir jumlah pernikahan mengalami penurunan cukup signifikan. Pada tahun 2014, jumlah pernikahan masih berada pada angka 2,1 juta. Namun, di tahun 2024 mengalami fluktuasi penurunan yang cukup drastis hampir mencapai 30 persen sebanyak 1,47 juta. Penurunan juga tampak pada kelompok usia 16-30 sekitar 71,04 persen masih melajang.
Forum Generasi Berencana (GenRe) telah melakukan survei pada tahun 2024. Hasilnya menunjukkan bahwa di kalangan pemuda usia 21-24 tahun hanya sekitar 26% yang menyatakan tidak takut menikah, artinya mayoritas menyatakan ragu atau takut. (Kompasiana.com, 19/10/2025)
Paparan Fakta Intergenerasi
Berbagai alasan mewarnai mengapa anak muda enggan untuk menikah. Bagi generasi terdahulu ungkapan takut menikah merupakan sinisme atau ketakutan untuk berkomitmen. Namun, ketika dibedah lebih dalam akan ditemukan bahwa tren ini bisa menjadi sinyal bagi ketimpangan emosional yang selama ini tersembunyi di antara paparan luka intergenerasi.
Bagi Gen Z marriage is scary bukan sekadar tren musiman atau alergi terhadap komitmen. Namun, lebih dari itu kaum muda mengungkapkan ini sebagai emergensi terhadap sebuah hubungan yang sangat kompleks sehingga terjadi perubahan cara pandang terhadap pernikahan.
Lini masa Tik Tok belakangan ini riuh oleh tagar #MarriageIsScary. Fenomena ini menjadi informasi serius bagi Gen Z bahwa faktor domestik intergenerasi menjadikan kesepakatan luka kolektif. Maraknya kasus perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kasus perceraian dalam dua tahun terakhir, menjadi pemicu lahirnya marriage is scary.
Dari tahun 2023 sampai dengan 2024 tercatat total kasus sebanyak 46.500 kasus kekerasan terhadap perempuan dalam hubungan rumah tangga dengan persentase lebih dari 70% dalam Simfoni PPA oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Semua itu masih terdominasi dengan pelaku terbanyak adalah suami dalam catatan Komnas Perempuan mencatat bahwa kekerasan di ranah personal (termasuk KDRT).
Kasus perselingkuhan dan perceraian juga marak terjadi dalam dua terakhir. Total perceraian yang terjadi sebanyak 463.360 kasus di tahun 2023 dalam laporan Badan Pusat Statistik dengan faktor perselisihan dan pertengkaran yang tercatat sebanyak 233.162 kasus dan 105.980 kasus masalah ekonomi.
Paparan data yang tersebar masif tersebut menjadi audit realitas bahwa pernikahan tak seindah yang terlihat di permukaan. Gen Z lebih menyentuh lapisan inti dari sebuah pernikahan yang penuh kerentanan. Hal ini menjadi hambatan psikologis untuk melangkah membuka lapisan diri menuju ke arah pernikahan. Karena takut yang mereka temukan bukan stabilitas, tetapi kehancuran emosional.
Luka Ekonomi
Sebuah unggahan pada lini masa threads yang membahas bahwa anak muda saat ini lebih takut miskin daripada takut tidak menikah cukup viral. Unggahan ini mendapat like 12.500 dan ditayangkan ulang sebanyak lebih dari 207.000.
Kondisi ekonomi yang tidak stabil menjadikan generasi muda khawatir akan masa depan yang akan dilewati dalam sebuah pernikahan. Menurut data Bank dunia, 4 juta jiwa (68,2%) penduduk Indonesia terkategori miskin.
Sulitnya ekonomi yang dihadapi oleh anak muda saat ini bukan terjadi begitu saja. Ketika memasuki dunia kerja anak muda terpukul melihat kenyataan dunia ekonomi menghanguskan harapan masa depan mereka. Ternyata mereka mulai menyadari bahwa ekonomi mengalami krisis yang panjang akibat kerusakan dalam pengelolaan yang dilakukan oleh sistem.
Generasi muda harus berhadapan dengan luka ekonomi yang kian menganga. Saat terbentur fakta, sulitnya mengakses pekerjaan, fakta gelombang PHK besar-besaran yang terus menghantam, iklim usaha yang tidak sehat, dan berbagai luka ekonomi lainnya. Pada akhirnya, para pemuda menjadikan keamanan finansial sebagai prioritas utama dibandingkan menikah.
Bencana Demografi
Luka ekonomi membawa generasi muda pada cara pandang bahwa menikah itu membutuhkan biaya besar. Biaya yang harus dikeluarkan tidak hanya untu pesta pernikahan, melainkan untuk hidup setelah menikah.
Akhirnya mereka tidak punya nyali untuk menikah. Apalagi gaji yang diterima hanya UMR. Laki-laki enggan melamar, sementara wanita pikir-pikir dalam menerima lamaran. Sementara perzinaan terjadi di mana-mana. Praktik hidup bersama tanpa komitmen kian diminati dan menjadi gaya hidup untuk melampiaskan kebutuhan biologisnya.
Bahaya takut menikah tidak hanya berhenti pada persoalan pada maraknya perzinaan, tetapi ada bahaya yang jauh lebih besar, yakni tersebarnya penyakit kelamin dan musnahnya generasi. Padahal generasi merupakan tonggak estafet bagi peradaban sebuah bangsa. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa angka kelahiran di Indonesia terus turun dalam beberapa tahun terakhir.
Sebaliknya, jumlah penduduk lanjut usia (lansia) meningkat pesat. Indonesia resmi memasuki fase masyarakat menua (aging population) sejak 2021. Menurut data BPS 2024, 29 juta (12%) penduduk Indonesia saat ini terkategori lansia. Jumlah tersebut diprediksi terus meningkat hingga mencapai 20% pada 2045. Bahkan saat ini jumlah lansia telah melampaui jumlah balita di beberapa wilayah.
Ini semua akan menjadi bom waktu demografi, di mana negeri ini akan kehilangan generasi penerus di masa depan dan menanggung para lansia. Dengan demikian, bangsa ini akan kehilangan tonggak peradaban.
Kapitalisme Sekularisme Akar Masalah
Berbagai alasan takut menikah sejatinya berakar pada dua hal mendasar, yaitu pertama masalah pola pikir tentang pernikahan yang makin menjauh dari tanggung jawab dan pengabdian. Kedua, sistem hidup sekularisme yang gagal memberikan kepastian masa depan.
Sistem kapitalis sekuler tidak memberikan kesejahteraan dan memaksa individu bertahan hidup sendiri dalam kerasnya hidup sekaligus menormalisasi kemaksiatan, seperti pergaulan bebas sehingga pernikahan tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan mendesak.
Marriage is scary membuat membuat generasi kehilangan landasan yang kokoh tentang keluarga, padahal keluarga adalah madrasah pertama dalam pembentukan peradaban.
Pandangan Islam
Dalam Islam, pernikahan dipandang sebagai institusi mulia yang mempunyai peran strategis untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi.
Allah Swt. menegaskan bahwa tujuan penciptaan manusia bukan sekadar untuk hidup, tetapi untuk beribadah dan memakmurkan bumi sesuai aturannya. Firman Allah Swt.,
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku." (QS. Adz-Dzariyat: 65)
Pernikahan adalah jalan besar untuk melahirkan generasi yang selalu beribadah kepada Allah dan kekhilafahan secara berkesinambungan. Islam mendorong pernikahan sebagai nasab kehormatan dan keberlanjutan generasi.
Syariat Islam tidak mempersulit pernikahan bahkan mempermudah. Mahar tidak boleh memberatkan dan pesta pernikahan tidak selalu mewah bisa dilaksanakan secara sederhana dan negara harus menjamin kondisi yang kondusif bagi terbentuknya keluarga.
Dalam negara Islam di bawah naungan Khilafah pernikahan mendapat dukungan yang sistemik. Negara menjamin kebutuhan rakyat terpenuhi. Negara menjamin lapangan pekerjaan dan nilai-nilai Islam terjaga dalam kehidupan sosial. Dalam sistem ini, keluarga sakinah mawaddah warahmah tumbuh secara alami. Wallahualam bissawab

Komentar
Posting Komentar