Dibawa kemana Pendidikan Saat Ini

 


OPINI 

Oleh Arda Sya'roni 

Pegiat Literasi 


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI-"Mau dibawa kemana hubungan kita?" Lirik lagu yang dibawakan oleh Armada ini tentu tak asing di telinga kita. Saat menjalin sebuah hubungan tentulah kedua belah pihak meminta adanya kejelasan dari hubungan tersebut. Kejelasan sebuah hubungan tentu saja akan berdampak pada langkah selanjutnya yang akan diambil. Tak hanya soal hubungan percintaan, dalam hubungan bisnis pun kejelasan hubungan berpengaruh, begitu pula dalam hubungan guru dan murid.


Viral di media sosial Agus Saputra, seorang guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi. Dikutip dari news.detik.com, 17-01-2026, kejadian tersebut viral setelah video berdurasi 58 detik yang memuat aksi adu jotos antara guru dan murid


Kronologi kejadian bermula dari peneguran siswa di kelas saat proses belajar mengajar dilakukan. Saat itu seorang siswa menegur sang guru dengan tidak hormat dengan perkataan yang tak sopan dan tak pantas. Namun, dalam video yang beredar diketahui awalnya sang guru melontarkan perkataan lewat mikrofon. Perkataan yang dilontarkan belakangan diketahui mengandung hinaan dan diduga menyulut amarah sang siswa. Tak hanya itu, menurut sang murid gurunya kerap melontarkan kata kasar, menghina orang tua dan murid dengan mengatakan bodoh dan miskin.


Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, mengatakan peristiwa tersebut merupakan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, sebagaimana dijamin dalam Konstitusi dan UU Perlindungan Anak. Jika demikian adanya maka patut menjadi pertanyaan tentang arah pendidikan saat ini ketika guru dikeroyok murid dan murid dihina guru? 


Akar Permasalahan Pendidikan 


Arah pendidikan semakin hari semakin tak jelas. Kebijakan yang diambil pun kerap tak menyentuh akar masalah, hanya berupa solusi praktis tambal sulam. Dunia pendidikan saat ini terus menghadirkan polemik di tengah masyarakat. Masalah yang muncul terus berulang dengan kasus yang beragam. Kasus Agus Saputra bukanlah yang pertama, telah banyak kasus serupa mulai dari pelaporan guru oleh wali murid, penganiayaan guru oleh murid, pelecehan murid oleh guru, perundungan, tawuran, dan lain sebagainya. Hal ini jelas bahwa permasalahan-permasalahan yang timbul bukan hanya karena masalah konflik personal atau emosi sesaat, melainkan karena sistem yang diterapkan.


Sistem kapitalis sekuler merupakan akar permasalahan pendidikan, karena sistem ini tidak memandang pendidikan sebagai suatu amanah besar, melainkan hanya sebagai industri yang menguntungkan dan meraup banyak cuan. Beberapa fakta yang terjadi jelas menunjukkan adanya kondisi serius bahwa dunia pendidikan tidak sedang baik-baik saja. Dunia pendidikan sedang sakit parah dan membutuhkan penanganan serius. Bila guru terlalu sering diperkarakan ke meja hijau perihal menegur dan mendisiplinkan murid, lalu bagaimana nasib generasi? Mau dibawa kemana generasi saat ini?


Hubungan harmonis guru dan murid tak lagi ada. Hubungan yang semestinya dibangun di atas penghormatan dan keteladanan tak lagi didapatkan. Ruh belajar mengajar tak lagi hadir. Adab tak lagi dijadikan landasan dalam meraih keberkahan ilmu. Baik guru maupun murid kerap bertindak di luar batas adab. Inilah buah pendidikan sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan Islam dari kehidupan. Negara selaku pembuat kurikulum pun tidak menjadikan Islam sebagai landasan kepemimpinan dalam berpikir. Negara justru berfungsi sebagai regulator bagi kaum kapital dalam mengkapitalisasi dunia pendidikan. Akibatnya kurikulum berganti setiap ganti menteri, tapi tak satupun yang mampu mendongkrak pola pikir sahih dalam diri murid. Murid bukannya semakin tinggi adab dan ilmunya, justru sebaliknya semakin niradab dan lemah dalam berpikir.


Sistem Pendidikan dalam Islam


Islam memandang pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia beradab dan melahirkan generasi cemerlang pembangun peradaban mulia. Rasulullah saw. bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak. Dengan demikian dalam sistem pendidikan Islam, adab adalah segalanya. Dalam Islam adab didahulukan sebelum ilmu karena dengan adab keberkahan ilmu akan diperoleh. Selain itu Islam juga memandang bahwa ilmu adalah warisan Rasulullah yang harus terus dijaga, seperti yang disebutkan dalam hadits, "Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, sesungguhnya mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)


Oleh karenanya sistem pendidikan dalam Islam akan dimulai dengan akidah dan adab sebelum ilmu pengetahuan. Murid dididik untuk memuliakan guru (ta'dzim), sementara guru diwajibkan untuk mendidik dengan penuh kasih sayang, bukan dengan hinaan maupun ancaman dan tekanan. Guru adalah figur teladan, bukan sekadar pengajar. Karenanya pengajaran bukan hanya berupa transfer ilmu, melainkan juga dengan pemahaman dan pendekatan dengan memberikan teladan yang baik sesuai akidah Islam. Demi mendukung pelaksanaan sistem pendidikan yang demikian, negara memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar kompetensi pasar.


Khatimah


Generasi cemerlang tidak terlahir dari sistem kapitalis sekuler karena sistem pendidikan tidak dibangun dengan pemahaman pemikiran yang mendalam. Pendidikan hanya dibangun untuk mencetak tenaga kerja, bukan pemimpin saleh. Guru dan murid hanya mengejar prestasi dan jabatan, bukan akhlak mulia. 


Berbeda dengan sistem Islam yang dibangun atas syariat Allah. Sistem pendidikan Islam mengajak guru dan murid bersinergi membangun pemahaman pemikiran yang mendalam dan sahih, mengedepankan adab dan akidah. Generasi cemerlang yang mampu membangun peradaban gemilang tentu hanya dapat diraih dengan penerapan Islam kafah dalam naungan negara Islam yang menerapkan syariat sebagai landasan hukumnya. Insan-insan hebat terbukti banyak dilahirkan saat penerapan Islam kafah dilakukan berabad silam dalam bingkai kekhilafahan


Wallahualam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic