Fluktuasi Harga Pangan, Problem Tahunan Jelang Hari Raya
OPINI
Oleh Tutik Haryanti
Pegiat Literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Masalah kenaikan harga pangan menjadi isu yang memengaruhi kehidupan masyarakat di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Setiap tahun masyarakat selalu disuguhi fluktuasi harga pangan yang menjadi tantangan bagi masyarakat dengan ekonomi rendah. Kenaikan harga pangan makin membebani rakyat ketika tidak ada langkah kebijakan efektif untuk menstabilkannya.
Dikutip dari Merdeka.com (15-02-2026), kenaikan harga pangan terjadi di Pasar Johor Baru dan Pasar Modern Lottemart Green Pramuka Jakarta Pusat. Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, melakukan pengecekan menjelang Imlek dan Ramadan. Ternyata memang benar kedua pasar tersebut mengalami kenaikan harga pangan di kisaran Rp2000,00 sampai Rp20.000,00, di antaranya harga bawang merah dan cabai rawit.
Begitu pun untuk harga telur dan daging ayam juga mengalami kenaikan. Diprediksi hal ini terjadi karena cuaca ekstrem di beberapa lokasi produksi sehingga mengakibatkan penurunan produksi. Namun, setelah Pemerintah Jakarta Pusat melakukan pemantauan, ketersediaan kebutuhan pangan masih dalam kondisi aman sehingga masyarakat dapat membeli kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.
Fenomena Fluktuasi Harga Pangan
Adanya fenomena fluktuasi harga pangan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah, pertama, ketergantungan negara terhadap impor pangan, seperti beras, daging, jagung, dan gula yang diimpor dalam jumlah besar. Ketika harga pangan internasional mengalami kenaikan maka akan memengaruhi pasokan domestik. Bila pasokan impor jumlahnya kecil, tentu tidak dapat memenuhi kebutuhan permintaan konsumen secara keseluruhan, akibatnya berpengaruh pada harga pangan yang kian melonjak.
Kedua, pengaruh dari geopolitik dan bencana alam yang akhir-akhir ini sering kali terjadi. Fenomena tersebut sangat berpengaruh terhadap pendistribusian yang sulit dan tidak dapat merata. Hal ini dikarenakan jalur infrastruktur yang rusak sehingga penyaluran bahan pangan akan tersendat, akibatnya terjadi lonjakan harga yang tidak terduga.
Ketiga, terjadi praktik monopoli atau oligopoli. Perusahaan besar atau pedagang besar yang menguasai rantai pasokan dan mengontrol pendistribusian sering kali menaikkan harga pangan dengan memanfaatkan momen-momen penting seperti hari raya nasional, dimana kebutuhan masyarakat meningkat sehingga berpeluang dapat keuntungan yang lebih besar.
Keempat, kebijakan pemerintah yang kurang tepat. Pemerintah berusaha mengendalikan harga pangan eceran tertinggi (HET) dan subsidi pangan. Kebijakan tersebut tidak efektif untuk jangka panjang. Ketika fokus kebijakan pada jangka pendek, maka masalah struktural yang mendasari tingginya harga pangan tidak akan terselesaikan dengan tuntas dan masih banyak hal lainnya yang memengaruhi fluktuasi harga pangan.
Upaya Pemerintah Menjaga Fluktuasi Harga Pangan
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menjaga fluktuasi harga pangan agar tetap dapat dijangkau masyarakat. Salah satunya dengan mengadakan operasi pasar di beberapa titik lokasi di Indonesia. Seperti halnya Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang bekerja sama dengan Kabupaten Lombok Timur, mengadakan pasar rakyat dan bazar UMKM. Kedua hal tersebut dilakukan pemerintah setempat untuk menstabilkan harga pangan yang terus merangkak naik.
Gubernur NTB, Muhammad Iqbal, menyatakan selama di tengah masyarakat tidak terjadi "panic buying", maka dipastikan stok bahan pokok tetap aman sehingga tidak terjadi lonjakan harga lebih tinggi. (Merdeka.com, 15-02-2026)
Namun, kebijakan-kebijakan yang diupayakan pemerintah seperti di atas, hingga kini tidak mampu menyelesaikan masalah yang sangat mendasar. Nyatanya dari tahun ke tahun fenomena fluktuasi harga pangan tersebut terus saja berulang. Masalahnya, kebijakan tersebut hanya menyelesaikan persoalan di permukaannya saja, tetapi tidak menyentuh akar masalah yang sebenarnya.
Kapitalisme Akar Masalah
Dalam sistem ekonomi kapitalis, fokus produsen hanya pada keuntungan individu dan pasar bebas. Ini akan menghasilkan ketidakseimbangan distribusi barang dan jasa, termasuk pangan. Kenaikan harga pangan jelang hari raya sering kali dikaitkan dengan pasokan dan permintaan konsumen yang dipengaruhi mekanisme pasar kapitalis.
Dalam logika kapitalisme harga barang dan jasa ditentukan oleh penawaran dan permintaan. Ketika permintaan suatu barang meningkat, misal seperti hari raya nasional, maka harga akan cenderung naik. Termasuk kebutuhan pangan.
Ketika menjelang ramadan dan hari raya biasanya konsumsi masyarakat akan meningkat tajam, maka permintaan pasokan pangan akan meningkat sehingga harga pangan pun ikut naik. Kesempatan seperti inilah yang akan selalu dimanfaatkan oleh para kapitalis untuk mendapatkan keuntungan yang besar tanpa mempertimbangkan kondisi masyarakat yang sedang sulit.
Pandangan Islam Tentang Fluktuasi Harga Pangan
Islam mengajarkan prinsip keadilan dalam distribusi kekayaan dan pangan. Rasulullah saw. bersabda, "Harga adalah di tangan Allah, dan jika kalian meminta kepada Allah, maka Allah akan memberikan rezeki yang cukup." (HR. Abu Daud)
Dalam Islam, pasar harus dijalankan dengan prinsip keadilan dan transparansi, dan dilarang untuk melakukan praktik spekulasi yang dapat merugikan orang banyak. Harga pangan yang melambung tinggi menjelang hari raya sering kali disebabkan oleh praktik-praktik yang merugikan konsumen, seperti monopoli, kartel, dan ekses profit. Islam mengajarkan bahwa pedagang harus adil dan tidak boleh menipu atau mengurangi hak orang lain demi keuntungan pribadi.
Solusi Islam dalam Menangani Kenaikan Harga Pangan
Islam hadir bukan saja mengatur peribadatan. Namun, Islam juga mengatur tentang pendistribusian dan menjaga stabilitas harga, agar umat dapat mengonsumsi dengan mudah tanpa merasa terbebani dengan kelangkaan dan lonjakan harga pangan di pasaran.
Rasulullah saw. bersabda,
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban…" (HR. Bukhari dan Muslim)
Makna ra'in (pemimpin) dalam hadits tersebut adalah "penjaga" dan "yang diberi amanah" atas bawahannya. Sudah semestinya seorang pemimpin menjaga amanah dari Allah Swt. dalam mengurus seluruh umat dari segala kesulitan.
Beberapa hal yang dilakukan oleh negara untuk mengatasi hal tersebut antara lain;
Pertama, manajemen rantai pasok oleh negara. Jika ada wilayah yang kekurangan pasokan, maka negara akan mendatangkan pasokan dari wilayah lain (distribusi) atau impor temporer secara adil. Sebagaimana yang terjadi pada masa Umar bin Khattab ra. ketika terjadi paceklik di Hijaz. Beliau mengirim surat untuk mendatangkan makanan dari Mesir dan Syam sehingga kebutuhan masyarakat Hijaz terpenuhi.
Kedua, pelarangan penimbunan (ikhtikar). Islam mengharamkan penimbunan bahan pokok yang bertujuan untuk menaikkan harga barang. Pelaku penimbunan dijatuhi sanksi tak'zir dan dipaksa melepas barang ke pasar.
Ketiga, adanya pengawasan pasar oleh Qadhi Hisbah. Lembaga tersebut akan mengawasi pasar untuk mencegah penipuan harga, penimbangan yang curang, dan intervensi harga yang tidak sah.
Keempat, subsidi dan bantuan sosial oleh pemerintah dengan mengambil dana dari baitulmal (kas negara) untuk membantu masyarakat kurang mampu saat masa paceklik atau kenaikan harga drastis.
Kelima, mendorong produksi pertanian. Memberdayakan petani dengan memfasilitasi teknologi dan sarana prasarana pengolahan lahan agar ketersediaan pangan mandiri.
Keenam, stabilitas mata uang. Islam mendorong penggunaan mata uang standar emas dan perak (dinar/dirham) untuk mencegah inflasi yang sering terjadi pada sistem mata uang kertas.
Ketujuh, moralitas pedagang. Mendorong pedagang untuk jujur dan tidak mengambil keuntungan berlebihan, mengingat pedagang yang jujur akan dikumpulkan bersama Nabi saw. di hari kiamat.
Khatimah
Demikianlah Islam dalam menjaga stabilitas harga pangan agar terhindar dari fluktuasi harga pangan yang menjadi problem tahunan, terutama di momen hari raya. Kenaikan harga pangan ini terjadi secara sistemik dengan paradigma kapitalisme.
Oleh karena itu, saatnya umat muslim terutama pemimpin muslim untuk merombak paradigma kapitalisme dengan sistem Islam sehingga dapat melayani serta menjamim kebutuhan umat secara hakiki dan menyeluruh.
Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar