Gencatan Senjata dan BoP dibentuk, Gaza Makin Diremuk


OPINI

Oleh Jasli La Jate 

(Pegiat Literasi )


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Di tengah dewan perdamaian BoP yang digaungkan AS, lagi-lagi Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata. Jet-jet tempur Israel menggempur habis-habisan jalur Gaza, Palestina pada tanggal 4 Februari 2026. Akibat serangan ini, setidaknya menewaskan 23 orang, termasuk anak-anak. Kondisi ini memicu kekhawatiran eskalasi di wilayah tersebut. 

Kemudian Israel juga melancarkan serangan udara di wilayah Zeitoun, kota Gaza, Jumat 6 Februari 2026 waktu setempat. Sebuah gedung berlantai tiga hancur total. Militer Israel (IDF) berdalih gedung tersebut digunakan oleh Hamas sebagai fasilitas produksi dan penyimpanan senjata. Mereka juga mengatakan telah mengeluarkan perintah evakuasi resmi bagi warga sipil sebelum melakukan serangan udara sejak gencatan senjata dimulai pada Oktober 2025. Belum ada korban jiwa atau luka-luka yang dilaporkan atas serangan di Zeitoun ini. (liputan6.com, 7/2/2026) 

Sejak kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025, pasukan Israel telah membunuh 520 warga Palestina. Jika dihitung sejak Oktober 2023, agresi Israel ke Gaza sudah lebih dari 70.000 warga Palestina terbunuh dan jutaan orang terpaksa mengungsi. (cnnindonesia.com, 5/2/2026) 

BoP yang diklaim sebagai mediator internasional akan memantau pelanggaran genjatan senjata dan mendorong agar kedua bela pihak mau bernegoisasi di meja perundingan. Sampai saat ini, tidak ada pernyataan resmi atau sikap nyata yang dilihat langsung lembaga ini untuk menghentikan atau mencegah dampak serangan. Tak heran, berbagai pihak mempertanyakan akan efektivitas lembaga ini karena tindakan serangan ke Gaza terus berlangsung di tengah genjatan senjata sedang resmi berlaku. 


Topeng Penjajah

Pelanggaran gencatan senjata Israel yang telah menewaskan ratusan jiwa, termasuk anak-anak yang tak berdaya menunjukkan tidak akan ada yang bisa dipercaya dari penjajah Israel. Dunia internasional terlalu naif, percaya begitu saja dengan janji-janji gencatan senjata dan BoP yang dibentuk AS. Seakan ada upaya serius untuk meredam konflik dan menyelesaikan kekerasan. Padahal yang terjadi justru sebaliknya, Israel berulang kali sengaja melanggar perjanjian dengan alasan keamanan atau penumpasan kelompok bersenjata. 

Gencatan Senjata dan BoP (Board of Peace) hanyalah sandiwara AS-Israel untuk melanggengkan penjajahan di Palestina. Mereka bersembunyi di balik retorika diplomasi, topeng perdamaian yang terus dihembuskan. Nyatanya bak vampir yang terus menghisap darah kaum muslimin. Mereka terus melakukan serangan tanpa henti. Apalagi dengan payung BoP, makin menutupi realitas agresi militer Israel di lapangan. 

Gencatan senjata dan BoP sejatinya hanyalah alat politik negara kapitalis untuk terus mendukung Israel menghancurkan dan menguasai Palestina. Dengan dalih menjaga keamanan dan perdamaian, AS hadir sebagai mediator tetapi dalam waktu yang sama memberikan ruang kepada Israel untuk terus melakukan penjajahan dan menguasai wilayah Gaza. Keadaan ini memperlihatkan bagaimana kepentingan negara adikuasa lebih diutamakan dibanding keadilan rakyat Palestina yang makin menyedihkan. 

Lebih menyakitkan lagi, penguasa negeri-negeri muslim tak punya nyali untuk melawan negara penjajah sekelas AS-Israel, dengan alasan menjaga keamanan kawasan dan mencegah perang makin meluas. Mereka lebih memilih diam dan tidak lantang membela rakyat Gaza. Mereka hanya memberikan kecaman simbolik belaka. Bahkan, mereka rela bergabung dalam BoP dan siap membayar uang keanggotaan. 

Keengganan mereka menunjukkan ketidakmampuan dan ketakutan mereka melawan negara penjajah seperti AS dan Israel. Mereka lebih bersikap pragmatis dan berdampingan dengan penjajah demi keamanan politik dan kepentingan nasional. Dari sini makin memperlihatkan bagaimana dunia muslim lemah dan tak berdaya menghadapi tekanan kekuatan global. Sementara itu, rakyat Gaza terus menanggung penderitaan tanpa ada pelindungan yang nyata. 


Sikap Islam

Islam memberi sikap yang jelas dan tegas terhadap musuh. Allah Swt. berfirman:

"Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kami; karena fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhan.” (TQS. al-Baqarah :191) 

Ayat ini jelas menunjukkan bagaimana sikap terhadap penjajahan, pembunuhan, dan penindasan terhadap kaum muslim hanya bisa dilakukan dengan peperangan yakni jihad fisabillah bukan dengan sikap diplomatik.

Genjatan senjata yang terus dilanggar menunjukkan istilah perdamaian, diplomasi hanyalah sebagai strategi politik untuk melemahkan perlawanan dan meredam gejolak opini dunia. Perdamaian sejati tidak akan berdiri di atas penjajahan. Oleh karena itu, sikap umat Islam harus tegas, tidak boleh terpengaruh oleh narasi diplomatik semu. Sikap lantang dan keras zero toleran menjadi penting terhadap narasi gencatan senjata dan perdamaian yang digembar-gemborkan AS-Israel. Dengan demikian, umat Islam tidak tertipu pada harapan palsu. 

Dengan demikian, kesatuan umat dalam politik dan kepemimpinan saat ini sangat dibutuhkan untuk melawan hegemoni kafir penjajah. Umat Islam hari ini bukan hanya lemah dari sumber daya tetapi juga lemah karena terpecah belah tanpa kepemimpinan umat yang satu. Negeri-negeri kaum muslimin bergerak sendiri sehingga mudah ditekan kekuatan global. Padahal, sejarah menunjukkan ketika umat bersatu di bawah satu kepemimpinan politik global, kaum muslimin menjadi kuat. Bahkan, mampu menghentikan dan mengusir para penjajah. Keamanan kawasan pun terjaga secara mandiri dengan baik. 

Oleh karena itu, harus ada upaya memahamkan umat dan penguasa muslim bahwa harus ada kewajiban membela kaum tertindas yakni melalui jihad dalam makna syar'i. Selanjutnya, mendorong penyatuan negeri-negeri muslim di bawah satu kepemimpinan global yakni khilafah. Oleh karena itu, semua keputusan baik militer, politik, dan ekonomi berada di bawah satu arah komando. Hanya dengan satu komando maka kekuatan kaum muslim bisa diraih dan penjajahan bisa dilawan. Dengan demikian, pembelaan atas Palestina bukan hanya sebatas retorika semata atau simpati yang tidak memberikan penyelesaian, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh umat secara nyata dan terorganisir. 

Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic