Harga Bahan Pokok Naik, Bukti Negara Berpihak Kepada Pemilik Modal


OPINI


Oleh Tinah Asri 

Aktivis Dakwah dan Pegiat Literasi 


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Sama seperti yang terjadi di daerah lain, menjelang bulan suci Ramadan harga bahan pokok di Kota Bandung pun ikut naik. Untuk mengantisipasi lonjakan harga tersebut Pemerintah Kota Bandung menggelar program Gerakan Pangan Murah (GPM). Melalui program ini diharapkan tekanan harga di pasaran dapat diredam sehingga masyarakat kota Bandung tetap bisa memenuhi kebutuhannya.


Pantauan di lapangan khususnya di Pasar Kosambi, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, sejak awal Februari sejumlah komoditas pangan mengalami lonjakan harga yang sangat tajam. Harga cabai rawit tercatat yang paling tinggi kenaikannya, sebelumnya Rp40 ribu per kilogram, kini menembus harga Rp100 ribu per kilogram. Sementara itu daging sapi naik dari Rp130 ribu menjadi Rp145 ribu per kilogram. Ayam potong melonjak dari Rp33 ribu menjadi Rp42 ribu per kilogram. Sedangkan telur ayam dari Rp27 ribu kini menjadi Rp31 ribu per kilogram. (RadarBandung.id 14-02-2026).


Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung memastikan ketersediaan bahan pokok di Kota Bandung tetap aman. Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar menegaskan bahwa GPM ditekankan hanya untuk komoditas yang sedang mengalami kenaikan, melalui intervensi diharapkan daya beli masyarakat tetap terjaga. 


Lebih lanjut Gin Gin Ginanjar menjelaskan, DKPP akan melakukan pembelian langsung ke distributor, produsen, atau ke petani langsung. DKPP menyediakan kendaraan layanan khusus, sehingga produk yang dijual kepada masyarakat bisa dipangkas dari sisi transportasi terutama pada ongkos angkut dari produsen, distributor sampai ke lokasi pelaksanaan. Dengan begitu harga barang bisa ditekan dan kualitas masih tetap terjaga.


Problem yang Berulang


Kenaikan harga menjelang bulan suci Ramadan sebenarnya bukan kali ini saja terjadi, melainkan sudah menjadi rutinitas setiap tahunnya. Alasannya klasik, tingginya permintaan pasar menjelang hari raya. Dengan melihat data pada tahun-tahun sebelumnya, negara bisa mengalkulasi stok bahan pangan yang tersedia, kemudian memastikan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya menjelang Ramadan.


Stok bahan pangan aman, tidak menjamin semua lapisan masyarakat mampu menjangkaunya, karena, lonjakan harga yang tak bisa dihindari. Untuk para pejabat dan masyarakat kelas atas lonjakan harga tidak terlalu jadi masalah, berbeda dengan masyarakat kelas menengah ke bawah yang berpenghasilan rendah, kenaikan harga bahan pokok dampaknya sungguh luar biasa.


Akibat Diterapkannya Sistem Ekonomi Kapitalis 


Kenaikan harga yang berulang-ulang membuka mata kita bahwa pemerintah tidak sepenuh hati mengurus urusan rakyatnya. Pemerintah lebih berpihak kepada pemilik modal. Buktinya, praktik permainan harga, monopoli, dan penimbunan masih saja terjadi berulangkali, tanpa ada upaya untuk mengantisipasi. Pemerintah sekadar mengawasi tanpa mampu memberi solusi. Sekali pun ada solusi, hanyalah kebijakan populis dan bersifat sesaat. Operasi pasar yang sering diadakan pun seringkali hanya dinikmati oleh orang-orang yang punya uang. Pemerintah hanya memberi imbauan kepada pengusaha supaya bersedia menstabilkan harga, agar rakyat tenang sehingga gejolak karena kenaikan harga bisa diredam.


Praktik monopoli dalam sistem ekonomi kapitalis menjadikan penentuan harga di pasaran dan distribusi dikuasai oleh segelintir orang. Penimbunan menyebabkan kelangkaan semu, seolah-olah barang langka di pasaran, padahal tersimpan di gudang-gudang para kapitalis. Tingginya permintaan masyarakat sejatinya hanyalah alasan yang sengaja dibuat untuk menipu rakyat. Para kapitalis memanfaatkan kebutuhan rakyat untuk mencari keuntungan pribadi khususnya saat menjelang bulan suci Ramadan dan Idul Fitri.


Inilah gambaran nyata dari diterapkannya sistem ekonomi kapitalis di negeri ini. Sistem yang menjadikan pemerintah tidak mampu bertindak tegas. Sistem yang meniscayakan negara berperan sebagai regulator saja, penyambung antara rakyat yang membutuhkan dan pengusaha yang punya kepentingan. Para kapitalis memanfaatkan derita rakyat untuk mencari keuntungan, sementara negara kalah, tak punya kuasa untuk melarangnya. 

 

Islam Menjamin Kestabilan Harga


Berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis yang tidak mampu memberi solusi terhadap setiap permasalahan rakyat, Islam hadir membawa aturan sempurna dan menyeluruh yang mampu memberikan solusi terhadap seluruh permasalahan manusia. Islam mengatur tentang fungsi dan peran negara, bukan sebagai regulator seperti dalam kapitalisme, tetapi negara hadir sebagai pengatur urusan rakyat. Rasulullah saw. bersabda:

" Sesungguhnya imam (penguasa) adalah raa'in (pengurus) dan ia bertanggung jawab terhadap (rakyat) yang dipimpinnya. (HR Bukhari)


Di dalam negara Islam tidak diperbolehkan adanya pedagang curang, penimbunan barang, bahkan praktik monopoli pun dilarang. Sebab, transaksi apa pun yang terjadi di tengah-tengah masyarakat harus sesuai dengan aturan Islam, baik itu dilakukan oleh Muslim ataupun non muslim. 


Terkait produksi, negara Islam akan meningkatkan produksi pangan dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Dengan begitu, kelangkaan yang disebabkan tingginya permintaan bisa terhindarkan. Negara Islam pun akan mewujudkan ketahanan pangan nasional, yakni dengan memberikan dukungan penuh terhadap para pelaku usaha baik sektor pertanian, peternakan, dan industri dalam negeri untuk tetap berproduksi guna mencukupi kebutuhan pangan seluruh rakyat.


Di sektor pertanian, negara Islam akan memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada rakyat untuk mengelola tanah pertanian agar produksi pangan tetap berjalan. Negara memberikan fasilitas terhadap para petani, mulai dari lahan pertanian, menyediakan bibit unggul, memberikan alat-alat pertanian, pupuk, dll. Begitu pula dalam hal peternakan, negara Islam akan memberikan dukungan penuh kepada para peternak agar bisa meningkatkan hasil produksinya. Negara menyediakan bibit, pakan, vitamin, vaksin, dll agar produksi protein masyarakat bisa terpenuhi.


Negara Islam (khilafah) akan membangun infrastruktur seperti, jalan, pasar, dan gedung penelitian, agar sektor pertanian dan peternakan terus berkembang. Khalifah sebagai kepala negara akan memastikan tersedianya alat-alat transportasi untuk mengangkut hasil pertanian dan peternakan sehingga produksi pangan tertampung dan terdistribusikan ke seluruh pelosok negeri.


Negara khilafah akan memastikan tidak ada praktik curang. Negara akan menindak tegas jika ada yang melakukan kecurangan baik monopoli, penimbunan, permainan harga, dll. Sebab, praktik-praktik tersebut masuk ke dalam kategori pelanggaran syariat yang jelas hukumnya haram, dan terkategori dosa besar. Dengan begitu stabilitas pangan bisa tetap terjaga, masyarakat bisa hidup dengan tenang tanpa khawatir dengan lonjakan harga makanan pokok setiap menjelang bulan Ramadan.


Itulah gambaran jika negara menerapkan sistem Islam sebagai satu-satunya aturan untuk mengurusi seluruh aspek kehidupan manusia. Sistem yang diturunkan oleh Allah Swt. pemilik kehidupan yang pasti akan membawa kemaslahatan dan menjamin kesejahteraan rakyat. Aamiin yaa Rabbal 'alamiin 


Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic