Kegemilangan Sektor Pendidikan Islam
OPINI
Oleh Mimi Muthmainnah
Member Akademi Menulis Kreatif
Kunjungan perwakilan Kedutaan Besar Amerika Serikat ke Kota Samarinda baru-baru ini menjadi sorotan publik. Public Affairs Kedubes AS, John Slover, mengaku terkesan dengan kualitas siswa dan sekolah menengah atas di Samarinda.
Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan harapan agar dapat membuka akses dan kesempatan bagi pelajar Samarinda untuk melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Tawaran ini tentu terdengar menjanjikan: kesempatan belajar di negeri yang kerap disebut sebagai pusat pendidikan dunia. (Presisi.co, 4-2-2026)
Namun, di balik narasi kerja sama pendidikan, penting bagi umat khususnya kaum muslim untuk bersikap kritis. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga proses pembentukan cara pandang (worldview). Di sinilah persoalan mendasar muncul: sistem pendidikan seperti apa yang akan membentuk generasi kita? Dan ke mana arah kompas kehidupan mereka akan dituntun?
Pendidikan dan Misi Peradaban
Amerika Serikat dikenal sebagai salah satu pusat kapitalisme global. Sistem pendidikannya berdiri di atas fondasi sekularisme yakni memisahkan agama dari kehidupan, serta menjunjung tinggi nilai liberalisme. Dalam sistem seperti ini, agama ditempatkan sebagai ranah privat, bukan sebagai pedoman hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan.
Tawaran akses pendidikan tentu tidak bisa dipandang sebagai kunjungan biasa. Dalam politik global, pendidikan kerap menjadi instrumen soft power, sebuah cara halus untuk menanamkan pengaruh ideologis dan budaya. Generasi muda yang menempuh pendidikan di Barat bukan hanya mempelajari sains atau teknologi, tetapi juga menyerap nilai, gaya hidup, dan paradigma berpikir yang tumbuh dalam sistem tersebut.
Sejarah membuktikan bahwa penjajahan modern tidak selalu hadir dalam bentuk militer. Ia bisa hadir melalui pendidikan, budaya, ekonomi, dan media. Ketika generasi terbaik suatu negeri dididik dengan paradigma asing, maka bukan mustahil mereka akan menjadi penyambung lidah kepentingan ideologi yang membesarkan mereka. Inilah yang oleh banyak pemikir disebut sebagai penjajahan intelektual.
Pandangan bahwa Amerika adalah mercusuar pendidikan dunia juga tidak lepas dari konstruksi global kapitalisme. Negara-negara berkembang sering diarahkan untuk mengirim putra-putri terbaiknya ke Barat, sementara sistem pendidikan dalam negeri dibiarkan tertatih. Akibatnya, muncul ketergantungan intelektual dan hilangnya kepercayaan diri terhadap sistem pendidikan sendiri.
Bagi umat Islam, persoalannya bukan sekadar belajar di luar negeri, tetapi apakah sistem pendidikan itu selaras dengan akidah dan tujuan hidup seorang muslim. Ilmu memang universal, tetapi nilai yang membingkainya tidak pernah netral.
Islam sebagai Kiblat Pendidikan
Islam memiliki sejarah panjang sebagai mercusuar ilmu pengetahuan dunia. Pada masa kekhilafahan, pendidikan bukan sekadar sektor pelengkap, melainkan jantung peradaban. Negara bertanggung jawab penuh memastikan setiap individu memperoleh jaminan pendidikan yang akan membentuk kepribadian Islam sekaligus menguasai ilmu-ilmu kehidupan.
Allah Swt. berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu dalam Islam memiliki kedudukan tinggi, tetapi selalu diikat oleh iman. Ilmu tidak dipisahkan dari akidah, melainkan menjadi sarana untuk semakin mengenal dan mengagungkan Allah Swt.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan adalah membentuk insan yang dekat kepada Allah dan berakhlak mulia, bukan sekadar mengejar kedudukan dunia. Pendidikan dalam Islam membangun syakhsiyah islamiah, yakni kepribadian yang pola pikir dan pola sikapnya dibangun di atas akidah Islam.
Pada masa Abbasiyah, berdiri Baitul Hikmah di Baghdad sebagai pusat riset dan penerjemahan ilmu. Negara membiayai para ilmuwan, menyediakan perpustakaan besar, dan mendorong inovasi di bidang kedokteran, astronomi, matematika, dan teknik. Nama-nama seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Biruni, dan Ibnu Al-Haitsam lahir dari sistem yang memadukan iman dan ilmu.
Di Andalusia, Universitas Cordoba menjadi pusat pendidikan yang dikagumi dunia. Bahkan, banyak pelajar Eropa datang menimba ilmu dari peradaban Islam. Fakta ini membalik narasi yang hari ini berkembang. Padahal dahulu, Baratlah yang belajar kepada Islam. Keunggulan ini lahir bukan karena umat Islam meniru peradaban lain, melainkan karena mereka menjadikan wahyu sebagai fondasi berpikir.
Rasulullah saw. sendiri menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan. Di sanalah para sahabat dibina akidahnya, diajarkan Al-Qur’an, serta dipersiapkan menjadi pemimpin peradaban. Dalam waktu singkat, lahirlah generasi-generasi yang memimpin dunia tanpa kehilangan jati diri.
Tsaqafah Asing dan Sikap Selektif
Islam tidak menutup diri dari ilmu luar. Kaidahnya jelas: hikmah adalah milik kaum muslim yang hilang, di mana pun ia ditemukan, ia berhak mengambilnya. Namun, Islam membedakan antara ilmu yang bersifat sains dan teknologi dengan tsaqafah (pemikiran dan nilai) yang bertentangan dengan akidah.
Ilmu kedokteran, teknik, atau matematika boleh dipelajari selama tidak mengandung nilai yang merusak akidah. Akan tetapi, ketika pendidikan membawa serta paham sekularisme, relativisme moral, atau kebebasan tanpa batas, maka umat wajib waspada.
Ibnu Khaldun dalam _Muqaddimah_ mengingatkan bahwa bangsa yang kalah cenderung meniru bangsa yang menang, termasuk dalam gaya hidup dan pemikiran. Jika umat Islam terus memandang Barat sebagai kiblat tanpa kritis, maka lambat laun identitasnya akan terkikis. Perkara ini tentu sangat berbahaya.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar lokasi belajar, tetapi siapa yang mengendalikan arah pendidikan dan nilai apa yang ditanamkan. Tanpa sistem yang menjaga akidah, generasi muslim bisa tumbuh cerdas secara intelektual tetapi rapuh secara ideologis.
Sistem Pendidikan Islam
Sistem pendidikan Islam memiliki beberapa karakter mendasar di antaranya:
Pertama, berasaskan akidah Islam. Kurikulum dibangun dengan menjadikan akidah sebagai landasan seluruh mata pelajaran. Sains dan teknologi diajarkan sebagai bagian dari upaya memahami ciptaan Allah.
Kedua, negara bertanggung jawab penuh atas pembiayaan pendidikan. Pada masa Khilafah, pendidikan diberikan secara gratis dan berkualitas. Guru digaji dari baitulmal, fasilitas dibangun negara, dan akses terbuka luas bagi rakyat.
Ketiga, tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian Islam sekaligus membekali keterampilan hidup. Dengan demikian, lahir generasi yang tidak hanya ahli di bidangnya, tetapi juga memiliki integritas dan ketakwaan.
_Keempat,_ selektif terhadap _tsaqafah_ asing. Ilmu yang bermanfaat diambil, tetapi nilai yang bertentangan ditolak. Ini menunjukkan bahwa Islam bukan antiilmu, melainkan memiliki filter ideologis yang jelas.
Jika sistem ini diterapkan secara menyeluruh, umat tidak perlu bergantung pada negara lain untuk mencetak generasi unggul. Justru sebaliknya, dunia akan kembali melirik pendidikan Islam sebagai rujukan.
Menggantungkan Harapan pada Syariat
Realitas hari ini menunjukkan ketergantungan pada sistem pendidikan kapitalistik global. Namun, sejarah telah membuktikan bahwa kegemilangan sejati lahir ketika syariat Allah diterapkan secara kaffah.
Menggantungkan harapan pada syariat bukanlah utopia. Ia adalah janji Allah bahwa kemuliaan akan diberikan kepada mereka yang berpegang teguh pada agama-Nya. Pendidikan Islam bukan sekadar alternatif, tetapi solusi mendasar untuk membangun generasi yang unggul dunia dan akhirat.
Generasi yang dibentuk oleh sistem Islam akan memiliki visi hidup yang jelas: beribadah kepada Allah dan memakmurkan bumi dengan aturan-Nya. Mereka tidak mudah silau oleh gemerlap Barat, karena memiliki standar kemuliaan yang berbeda.
Khatimah
Tawaran studi ke Amerika mungkin tampak sebagai peluang emas. Namun, umat tidak boleh abai terhadap dimensi ideologis di balik pendidikan. Ilmu memang penting, tetapi arah dan tujuan hidup jauh lebih menentukan.
Sejarah telah mencatat bahwa Islam pernah menjadi mercusuar dunia. Dengan sistem pendidikan yang berlandaskan akidah, umat melahirkan ilmuwan dan pemimpin peradaban. Maka, sudah saatnya umat kembali menaruh harapan pada penerapan syariat secara menyeluruh.
Ketika pendidikan dibangun di atas fondasi iman dan tanggung jawab negara, lahirlah generasi ber syakhsiyah islamiah cerdas, berintegritas, dan berorientasi akhirat. Inilah kegemilangan sektor pendidikan Islam yang sejati: membentuk manusia unggul yang tidak hanya menguasai dunia, tetapi juga meraih rida Allah Swt.
Wallahualam bishawab

Komentar
Posting Komentar