Kepiluan Korban Sumatra Menghadapi Ramadan

 



OPINI 

Oleh Tri Sundari 

Pegiat literasi 


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI-Memasuki bulan ketiga pasca musibah yang melanda Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, ribuan warga masih belum dapat kembali pada kehidupan normalnya. Para korban bencana, terutama anak-anak masih dihantui oleh rasa khawatir dan takut.


Kebutuhan dasar masyarakatnya masih sulit dipenuhi, karena masih banyak warga yang kehilangan pekerjaan dan saat ini masih mengandalkan pada bantuan. Dampak bencana yang terjadi, juga menyebabkan perekonomian terpuruk.


Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, mengatakan bahwa keluarga yang terkena bencana, memiliki risiko menjadi miskin akan jauh lebih besar dibanding yang tidak terdampak bencana. Pembangunan sebaiknya lebih ke sektor yang memperhatikan ketahanan masyarakat, bukan hanya sekadar angka pertumbuhan ekonomi. (IDN Times.com, 11/02/2026)


Bantuan dari pemerintah 


Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah (Dek Fadh), mengungkapkan bahwa sampai dengan saat ini masih ada sekitar 17.000 kepala keluarga (KK) atau 69.000 jiwa korban bencana yang tinggal di tenda-tenda pengungsian. Dek Fadh mengharapkan, agar proses pengerjaan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bisa dipercepat, sehingga masyarakat dapat segera tinggal di tempat yang lebih layak.


Dek Fadh juga menyampaikan permohonannya terkait dana bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) agar dapat segera disalurkan. Adapun bantuan dari Kementerian Sosial RI rencana alokasi bantuan untuk jatah hidup sebesar Rp15.000 per orang per hari selama 90 hari, bantuan pemulihan ekonomi Rp5 juta per kepala keluarga serta bantuan isi rumah sebesar Rp3 juta per kepala keluarga. (Kompas.com, 10/02/2026)


Kekhawatiran akan kehidupan di masa datang


Menjelang Ramadan, biasanya masyarakat Aceh memiliki tradisi meugang. Dalam tradisi ini, masyarakat Aceh memasak dan menyantap daging sapi bersama keluarga sebagai bentuk rasa syukur dan persiapan batin menyambut hari besar Islam. Akan tetapi Ramadan tahun ini mereka berada dalam kondisi sulit pasca bencana, sehingga mereka tidak berharap banyak.


Sementara itu pada Senin (9/02/2026) jumlah pengungsi korban banjir di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, masih sekitar 20.964 jiwa. Para pengungsi tersebut tersebar di 118 titik pengungsian. Warga yang saat ini tinggal di pengungsian memiliki ketahanan pangan yang sangat rapuh. Mereka mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan mereka tidak tahu sampai kapan kondisi seperti ini akan berakhir. 


Warga hanya bisa menggantungkan pemenuhan kebutuhannya pada bantuan swadaya masyarakat, karena untuk saat ini mereka belum bisa bekerja lagi. Sementara itu, bantuan dari pemerintah yang sangat mereka harapkan dinilai sangat lambat.


Mereka berharap dengan bantuan dari pemerintah tersebut, akan bisa dipergunakan untuk mulai menata lagi kehidupannya. Saat ini yang bisa mereka lakukan adalah mencoba untuk menghemat bantuan yang datang, karena mereka menyadari entah sampai kapan bantuan tersebut mereka terima. 


Kemana negara saat rakyat menderita?


Negara saat ini abai terhadap nasib korban bencana Sumatra, terutama Aceh. Pada bulan Ramadan ini, umat muslim seharusnya bisa lebih khusyuk beribadah mendekatkan diri pada Sang Pencipta, namun mereka khawatir ketika memikirkan bagaimana kelanjutan hidup mereka kelak. 


Kehidupan mereka di pengungsian sangat memprihatikan. Tinggal di tenda-tenda tempat pengungsian membuat mereka tidak nyaman untuk beribadah. Ketika melakukan salat, mereka mengalami kesulitan dengan ketinggian tenda yang ditempatinya karena biasanya tenda tersebut tidak terlalu tinggi. 


Pemerintah mengklaim bahwa sudah melakukan berbagai kebijakan untuk rekonstruksi pasca bencana. Akan tetapi faktanya di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat tidak mendapatkan riayah yang memadai. Rumah hunian sementara (huntara) atau hunian tetap (huntap) baru sedikit yang selesai, sehingga baru sebagian kecil yang bisa menempatinya. Infrastruktur masih banyak yang rusak dan belum bisa digunakan.


Negara tidak menjalankan tugasnya sebagai raa'in, sehingga kondisi wilayah bencana tidak kunjung pulih. Warga setempat sudah berupaya keras dengan berbagai keterbatasan untuk berusaha memperbaiki infrastruktur semampunya. Akan tetapi tanpa dukungan dari pemerintah pusat maupun daerah maka rekonstruksi akan berjalan lambat.


Pemerintah pusat seolah lepas tangan dan menyerahkan upaya pemulihan pasca musibah kepada pemerintah daerah. Padahal wilayah terdampak yang luas dan mengalami kerusakan yang parah, akan tetapi tidak serta-merta membuat pemerintah pusat menetapkannya sebagai bencana nasional.


Islam menuntaskan masalah pasca musibah


Saat ini pemerintah mengadopsi model kepemimpinan kapitalistik, sehingga menjadikan kebijakan hanya bersifat pencitraan dan tidak solutif. Ketika memberikan bantuan hanya sebagai seremoni karena memiliki kepentingan agar dianggap baik atau berempati. 


Pemerintah sejatinya dapat meri'ayah rakyatnya dengan baik. Harapan rakyat saat ini sesungguhnya tidak terlalu berlebihan, rakyat berharap pemerintah dapat melakukan rekonstruksi secepatnya dan saat ini bisa melakukan ibadah dengan khusyuk, sehingga Ramadan akan disuasanakan secara serius dan bisa beribadah secara optimal.


Kondisi memprihatinkan saat ini tidak akan terjadi, ketika negara menerapkan sistem Islam, tentu ri'ayah terhadap rakyatnya akan lebih baik. Daulah Khilafah yang berdasarkan pada syariat, akan menjadikan Khalifah sebagai pemimpin negara yang meri'ayah rakyatnya dengan sangat baik. Khalifah akan memberikan perhatian khusus pada wilayah bencana. 


Kebijakan yang dibuat akan mempercepat rekonstruksi daerah terdampak, sehingga rakyatnya dapat segera kembali beraktivitas dengan baik. Pengelolaan anggaran akan dibuat seefektif mungkin, tidak ada rakyat terdampak yang akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.


Visi ri'ayah pada Khilafah menjadikan pengelolaan anggaran dan kebijakan yang dibuat untuk wilayah bencana bersifat efektif dan solutif, bukan untuk pencitraan semata. Khalifah akan mengerahkan sumber daya manusia semaksimal mungkin untuk segera merekonstruksi daerah terdampak.


Mereka bahu-membahu membantu saudara-saudaranya yang tertimpa musibah di bawah komando Khalifah. Mereka akan menjaga semangat ukhuwah di antara sesama, sebagaimana sabda Rasulullah saw., "Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585)


Daulah Khilafah tidak akan membatasi anggaran untuk rekonstruksi bencana. Ketika bencana terjadi, Daulah tidak akan pusing dengan anggaran, karena akan selalu ada dana untuk bencana, baik dari pos pemasukan yang bersifat tetap maupun dharibah


Wallahualam bisawwab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic