Mahalnya Harga Sebuah Buku

 


OPINI 

Oleh Arda Sya'roni 

Pegiat Literasi 


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI-Setitik noda hitam kembali mewarnai dunia pendidikan. Dunia pendidikan yang sejatinya mengantarkan anak bangsa meraih cita-citanya, menggantungkan harapan setinggi langit, justru membawanya terjungkal hingga terkubur dalam tanah. Sungguh sebuah ironi, di saat negara ingin mewujudkan generasi Indonesia emas, justru ditampakkan fakta-fakta sebaliknya, kasus bunuh diri, perundungan juga pelaporan guru ke meja hijau. Tragisnya kebanyakan permasalahan tersebut timbul hanya karena perkara yang mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang, tetapi merupakan perkara vital bagi sebagian orang.


Dikutip dari news.detik.com, 05-02-2026, Yohanes Bastian Roja (10), seorang siswa kelas 4 SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur ditemukan tewas gantung diri lantaran orang tuanya tidak mampu membelikan buku tulis dan pulpen. Bagi sebagian orang mungkin ini hanya perkara sepele dengan nominal yang tak seberapa, tetapi bagi sebagian orang ini sangatlah besar. Betapa mahalnya harga sebuah buku tulis dan pulpen hingga harus dibayar dengan nyawa seorang anak. Kasus YBR ini hanyalah puncak dari sebuah gunung es di dunia pendidikan. Beragam kasus yang tak terdeteksi menjadi pertanda ada sesuatu yang salah dalam sistem pendidikan saat ini.


Harga Mahal Pendidikan 


Duka YBR menguak fakta harga mahal sebuah pendidikan dalam sistem kapitalis. Ketika pendidikan dianggap sebagai sebuah pundi-pundi rupiah yang menggiurkan, bukan sebagai amanah mencerdaskan generasi. Sebelum tragedi gantung diri tersebut, diketahui bahwa SD negeri tempat YBR bersekolah memungut biaya sebesar Rp1.220.000,- per tahun dengan dicicil selama setahun. Sebelumnya YBR dan anak-anak lain yang masih mempunyai tunggakan telah ditagih pihak sekolah. Adapun ibu YBR telah membayar Rp500ribu di semester I, sisanya Rp720 ribu belum terbayarkan. 


YBR sendiri diketahui sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Karena keterbatasan ekonomi, YBR tinggal dengan neneknya di Ngada. Ayah YBR bekerja di Kalimantan sejak 11 tahun silam dan belum kembali hingga saat ini. Sebagai orang tua tunggal, ibu YBR mengalami kesulitan ekonomi. Sebenarnya YBR mendapatkan bantuan PIP, tetapi belum bisa dicairkan karena terkendala KTP sang ibu yang bukan berdomisili di Ngada. 


Pendidikan dalam Genggaman Kapitalisme Sekularisme 


Beginilah bentuk pendidikan dalam genggaman kapitalisme sekularisme, segala sesuatu dinilai dari uang. Kapitalisme yang merupakan buah dari paham sekularisme, yaitu menjauhkan agama dari kehidupan, menjadikan sistem pendidikan sebagai bisnis belaka, bukan sebagai sebuah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, pendidik hanya dinilai dari untung rugi bagi negara, tidak memedulikan halal haram. 


Bunuh diri siswa SD hanya karena tidak punya uang untuk buku tulis dan pulpen yang bahkan mungkin hanya merogoh kocek sebesar sepuluh ribu rupiah telah membuka tabir ada fenomena yang lebih gelap dari sekadar tidak punya uang. Buku dan pulpen adalah senjata utama dalam pendidikan. Di sini tampak jelas ada yang salah dalam penggunaan anggaran pendidikan negara


Dalam RAPBN 2026 di gedung DPR, anggaran pendidikan direncanakan 20%, yaitu sekitar Rp757,8 triliun. Jumlah anggaran ini merupakan yang "terbesar sepanjang sejarah kita". Anggaran pendidikan RAPBN 2026 ini naik dari Rp724,3 triliun pada APBN 2025. Bedanya, hampir setengah dari anggaran pendidikan RAPBN 2026 (Rp335 triliun) akan dialokasikan ke program Makan Bergizi Gratis (MBG). (bbc.com, 21-08-2025)


Dengan dana MBG yang sedemikian besar semestinya bisa digunakan untuk alokasi di penyediaan alat tulis di sekolah-sekolah ataupun sarana dan prasarana penunjang lainnya. Permasalahan-permasalahan pemenuhan gizi anak seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua. Namun sayangnya, sistem kapitalis menjadikan lapangan kerja, bahan pangan, sandang, pangan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan menjadi komoditas yang hanya mampu dinikmati segelintir orang. Kebutuhan dasar rakyat tidak pernah benar-benar ditangani dengan serius. Kebutuhan dasar hanya menjadi permainan elite politik sehingga terjadi kesenjangan sosial yang cukup tinggi. 


Faktor ayah yang terpaksa bekerja jauh di perantauan cukup menjadi bukti sulitnya lapangan pekerjaan. Tak hanya itu, ibu terpaksa keluar rumah untuk menyambung hidup. Alhasil, perhatian dan tanki cinta anak tak terisi penuh. Anak yang terabaikan akan rentan akan stres, merasa dikucilkan, hilang arah, sehingga bunuh diri menjadi solusi cepat. 


Pendidikan dalam Islam


Dalam negara Islam yang diatur oleh syariat Islam sebagai landasannya, sistem pendidikan akan diperhatikan secara detail. Hal ini karena dalam Islam pendidikan merupakan suatu kewajiban bagi umat, sesuai hadis, "Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim." (HR. Ibnu Majah)


Dalam Islam ada 2 hukum menuntut ilmu, yaitu fardu 'ain dan fardu kifayah. Fardhu 'ain bagi setiap mulim wajib untuk mempelajari ilmu tauhid, ilmu tentang ibadah dan ilmu dasar syariat, sedangkan fardu kifayah adalah dalam mempelajari ilmu tertentu seperti, ilmu kedokteran, ilmu farmasi, ilmu astronomi, dan lain sebagainya.


Sistem Islam akan memudahkan segala urusan yang berkaitan dengan pendidikan, sarana dan prasarana akan dipenuhi di semua wilayah, bahkan di daerah terpencil sekalipun. Semua pelayanan ini akan diberikan secara gratis dari jenjang tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Tak hanya itu, gaji guru pun akan diberikan dengan sangat layak sehingga para guru akan fokus pada pengajaran anak didik. Pemimpin dalam negara Islam (khalifah) menganggap jabatan yang dipanggulnya adalah amanat yang akan dihisab. Khalifah adalah raa'in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi umat. Karenanya khalifah akan bekerja untuk kesejahteraan rakyat.


Selain itu, dalam sistem Islam untuk kesejahteraan rakyat negara akan menyediakan banyak lapangan kerja untuk para ayah sehingga para ibu bisa fokus mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Harga bahan pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan akan dikelola dengan penuh amanah agar rakyat dapat menikmati tanpa mencekik leher.


Dalam sistem pendidikan Islam akidah Islam akan ditanamkan terlebih dahulu sebelum ilmu pengetahuan lainnya. Dengan dasar akidah yang kokoh maka akan terbentuk masyarakat yang satu pemikiran, satu perasaan, dan diikat oleh satu peraturan, yaitu aturan dari syariat Islam. Dengan demikian maka akan terlahir generasi yang tangguh, cerdas, dan taat. 


Khatimah


Generasi emas hanya akan terwujud nyata bila syariat Islam ditegakkan dalam negara Islam (daulah). Dengan satu komando akan lebih memungkinkan terwujudnya lingkungan saleh yang saling beramar makrif nahi mungkar. Dengan demikian, umat tak hanya meneruskan pendidikan dari sekolah, melainkan dari lingkungan yang telah terkondisikan dengan Islam. Bukti nyata dari sistem pendidikan Islam dapat kita tengok pada masa kekhilafahan, di mana pendidikan Islam dijadikan sebagai mercusuar bagi dunia, bahkan negeri Barat pun berbondong-bondong berguru di negara Islam. Wallahualam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic