MBG Antara Harapan dan Realita
OPINI
Oleh Arda Sya'roni
Pegiat literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Makanan Bergizi Gratis program ini merupakan salah satu program yang dicanangkan Presiden Prabowo saat kampanye pemilihan presiden. Program ini diharapkan mampu memperbaiki gizi anak-anak Indonesia akibat stunting. Kasus stunting sendiri banyak mendominasi anak-anak Indonesia.
Gizi buruk tentulah menjadi penyebab utamanya. MBG menjadi salah satu alasan untuk memperbaiki gizi buruk tersebut. Harapannya dengan adanya MBG maka para pelajar dapat memperoleh gizi yang lebih baik sehingga akan melahirkan generasi emas.
Sekilas tak ada yang salah dengan gagasan program ini, tetapi fakta yang berjalan tidak sesuai dengan harapannya. Harapan hanyalah harapan, realitas justru menampakkan hadirnya banyak kasus dalam pelaksanaan MBG hingga saat ini.
MBG belum menyasar di semua sekolah, keracunan, makanan basi, belatung dalam makanan, serta kecelakaan di sebuah SD oleh mobil pengantar MBG merupakan beberapa fakta yang terjadi semenjak MBG direalisasikan hingga detik ini. Tak hanya itu, beberapa SPPG juga pernah menghentikan distribusi MBG sebab dana tak kunjung diterima.
Kebijakan Populis
Dikutip dari bbcnews.com, 30-01-2026, sebanyak 118 pelajar SMA Negeri 2 Kudus, Jawa Tengah, mengalami keracunan usai menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) yang dibagikan pada Rabu (28/01). Dari ratusan itu, 46 di antaranya harus menjalani rawat inap.
Tak tanggung-tanggung dalam periode 1-13 Januari 2026, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat 1.242 orang diduga menjadi korban keracunan makan bergizi gratis. Sementara berdasarkan perhitungan BBC, sepanjang 30 hari di Januari 2026, kasus keracunan MBG memicu korban hingga 1.929 orang.
Dengan demikian, kejadian di SMAN 2 Kudus ini bukanlah yang pertama sejak dilaksanakannya MBG. Kasus serupa juga pernah dialami di Semarang, Mojokerto, Pekalongan, Marau dan masih banyak lagi. Dengan banyaknya kasus yang terjadi mengungkapkan fakta lemahnya standar keamanan dan pengawasan terhadap program ini.
Alih-alih memperbanyak gizi seperti yang diharapkan, sebaliknya justru mengancam kesehatan peserta didik. Program MBG sejatinya hanyalah bersifat populis, sekadar untuk mendulang simpati rakyat, pencitraan bahwa negara telah memedulikan nasib rakyatnya. Namun, sejatinya hanyalah sebuah proyek kaum kapital dan penguasa.
Kasus keracunan MBG yang berulang di berbagai negara membuktikan bahwa negara gagal dalam menjamin gizi generasi. MBG hanya fokus pada distribusi makanan, tetapi masalah gizi justru diabaikan, padahal target awalnya adalah perbaikan gizi. Makanan yang dibagikan sering kali terbuang percuma entah karena basi, ada belatung, kurang matang, nasi terlalu keras, atau hal-hal lainnya. Bila demikian tentunya misi utama perbaikan gizi tidak terpenuhi dengan baik.
Kapitalisme sebagai Biang Kerok
Kasus keracunan berulang wajar terjadi dalam negara dengan sistem kapitalis. Hal ini karena negara memandang sesuatu dari manfaat dan materi. Kebijakan populis menjadi salah satu kebijakan yang diambil demi mendulang popularitas dan simpati dari rakyat.
Dalam kapitalisme, segala bentuk kebijakan pastilah ditimbang dengan bisnis, termasuk MBG ini. Banyak pejabat dan penguasa yang bermain dalam proyek ini dan diduga kuat kebijakan ini lebih berorientasi proyek daripada jaminan kesejahteraan.
Bahkan anggaran MBG dinaikkan dengan drastis, gaji yang diperoleh pekerja MBG pun dinilai fantastis melebihi gaji guru yang sudah pasti bersumbangsih di dunia pendidikan. Terdapat jurang besar antara anggaran yang besar dan tujuan normatif MBG (mencegah stunting dan memenuhi gizi anak).
Andaikata benar MBG untuk memperbaiki gizi anak didik, maka bukankah lebih baik bila negara menjamin lapangan kerja bagi tiap ayah dan menjaga stabilitas harga bahan pangan?
Bila lapangan kerja bagi para pemberi nafkah telah tersedia dengan upah yang layak, lalu harga bahan pangan terjangkau dan mudah didapatkan, tentulah angka stunting dapat dikendalikan. Hal ini karena akar persoalan gizi buruk adalah sistem kapitalis yang menciptakan kemiskinan struktural, daya beli rendah, dan ketimpangan akses kebutuhan pokok.
Program MBG hanyalah pendekatan tambal sulam khas sistem kapitalis yang hanya mampu memberikan solusi praktis, tidak menyentuh akar masalah sehingga tidak bisa menyelesaikan masalah secara fundamental.
Solusi yang diberikan hanyalah memberi makan siang bergizi yang gratis untuk anak sekolah, lantas bagaimana dengan mereka yang tak mampu bersekolah? Bagaimana pula dengan makan pagi dan malamnya? Apakah orang tuanya bisa memberikan bila sang ayah tidak mempunyai pekerjaan? Apakah makanan bisa tersaji di rumah mereka bila harga bahan pangan tidak terjangkau sedang rupiah di genggaman hanyalah lembaran seribuan yang bahkan beras sekilo tak terbeli?
Kebutuhan Pokok dalam Islam
Bila kapitalisme menjadikan manfaat dan materi sebagai acuan, maka Islam menjadikan syariat sebagai landasan dalam perbuatan. Negara dengan sistem Islam akan memperhatikan betul kebutuhan pokok rakyatnya, termasuk di dalamnya bahan pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Karena itu, kebutuhan pokok menjadi tanggung jawab negara sepenuhnya.
Halal haram menjadi acuan negara dalam mengambil kebijakan, bukan untung rugi sebagaimana kapitalisme. Pemimpin dalam negara Islam (khalifah) akan bertindak sesuai syariat, dan berlaku sebagai pelindung (junnah) dan pengurus (ra'in) bagi rakyatnya.
Khalifah akan takut bila kebijakan yang diambil atau pengurusan yang dilakukan terhadap umat menyalahi ketentuan hukum syarak sebab negara hanya menjadikan rida Allah sebagai target dalam pengurus rakyat. Hal ini berdasarkan firman Allah pada QS Shad : 26, yaitu "... maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah ...."
Karena syariat Islam sebagai landasan bernegara, maka negara menjamin kesejahteraan setiap individu rakyat dengan membuka lapangan kerja yang luas dan upah layak bagi kepala keluarga. Negara juga menjamin pemenuhan gizi masyarakat dengan distribusi pangan merata, berkualitas, dan harga terjangkau di seluruh wilayah hingga ke pelosok.
Khatimah
Perwujudan kesejahteraan secara menyeluruh bagi rakyat hanya bisa diraih dengan sistem Islam melalui Khilafah atau Daulah Islam. Para ayah dapat bekerja dengan upah layak, para ibu akan tenang karena bisa menghidangkan masakan bergizi bagi keluarganya dan para anak akan bahagia bisa meraih cita-citanya karena pendidikan terjamin. Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar