New Gaza Untuk Kepentingan Siapa?
OPINI
Oleh Tri Sundari, A.Ks.
Pegiat literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Jared Kushner adalah seorang penasihat senior dan menantu Donald Trump. Namanya mencuat di panggung diplomasi internasional setelah pemaparannya mengenai visi ambisiusnya di Forum Ekonomi Dunia di Davis, Swiss. Kushner yang merupakan arsitek kebijakan luar negeri Amerika Serikat, mencoba untuk mendisrupsi pola lama mengenai perdamaian di Timur Tengah.
Gaza dalam pandangan Kushner bukan merupakan wilayah konflik, akan tetapi merupakan wilayah yang memiliki aset geografis pesisir Mediterania yang belum dimanfaatkan secara ekonomi. Letak geografis inilah yang disinyalir menimbulkan keinginan pemerintah Amerika Serikat untuk merencanakan pengembangan sebagai kawasan perumahan, pertanian maupun industri baru secara bertahap.
Di sela kegiatan seremoni penandatanganan "Dewan Perdamaian" yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pada Forum Ekonomi Dunia yang bertempat di Davis, Swiss, disampaikan presentasi proyek New Gaza. Proyek yang ditawarkan untuk membangun kembali Gaza pasca perang.
Gaza yang telah luluh lantak akibat dijatuhi 90.000 ton amunisi yang menyebabkan adanya 60 juta ton puing-puing, akan dibersihkan dan dibangun. Rekonstruksi rencananya akan dibagi menjadi empat fase, yang dimulai dari Rafah dan secara bertahap akan bergerak ke Utara menuju Kota Gaza.
Dalam perencanaannya, akan disediakan zona bagi "wisata pantai" dengan membangun 180 menara apartemen. Selain itu juga akan dibangun lebih dari 100.000 unit perumahan permanen, 200 pusat pendidikan, dan sebanyak 75 fasilitas medis. Ada pula sejumlah zona yang nantinya diperuntukkan bagi kompleks pertanian dan industri, taman, fasilitas olahraga maupun manufaktur canggih. (BBCNews Indonesia.com, 23/01/2026)
New Gaza, Penjajahan Berkedok Pembangunan
Visi“New Gaza” sejak awal telah memicu perdebatan tajam. Pengamat menilai bahwa pembangunan ekonomi yang dilakukan di Gaza, tidak bisa dilepaskan dari isu kedaulatan maupun keamanan rakyat Gaza.
Tidak adanya jaminan untuk hak kepemilikan maupun partisipasi bagi warga Gaza akan berisiko menimbulkan permasalahan baru. Tidak mustahil ketika pembangunan berlangsung, maka penduduk setempat tidak akan dilibatkan, bahkan akan terusir dari wilayahnya. New Gaza dibangun bukanlah semata-mata untuk kesejahteraan rakyat Gaza, akan tetapi Amerika Serikat ingin mengendalikan Gaza secara total, dengan membentuk Dewan Perdamaian Gaza. (Media Indonesia.com, 23/01/2026)
Faktanya, Amerika Serikat dan Israel sangat berambisi untuk menguasai Gaza. Bahkan Menteri Israel menyerukan untuk menghancurkan seluruh Gaza dan mengusir paksa warganya. Kondisi yang sangat memprihatinkan bagi kaum muslim yang tinggal di Gaza, harus terusir dan merelakan tanah airnya kepada penjajah kedaulatan negerinya.
Amerika Serikat dan Israel ingin menghilangkan jejak genosida dengan cara membangun New Gaza. Di tengah kondisi kemanusiaan yang masih sangat parah. Para penguasa muslim seolah menutup mata dan telinga atas penderitaan mereka. Berdasarkan data PBB, saat ini hampir 1 juta orang kekurangan tempat tinggal yang memadai dan 1,6 juta orang menghadapi tingkat ketidakamanan pangan akut yang tinggi.
Kesepakatan gencatan senjata yang telah berkali-kali kemudian sering dilanggar oleh Israel, membuat kesepakatan tersebut sangat rapuh. Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, dalam tiga bulan terakhir sedikitnya 477 warga Palestina tewas dalam serangan Israel tersebut.
Palestina Negeri yang Diberkahi
Palestina adalah negeri kaum muslim, tanah yang diberkahi oleh Allah Swt. serta merupakan kiblat pertama kaum muslimin. Allah Swt. telah memilih negeri ini sebagai tempat singgah Nabi Muhammad shallallahu‘alaihi wasallam ketika melakukan isra dan mikraj, serta menjadi tempat naiknya Beliau saw. ke atas langit untuk menerima perintah salat lima waktu.
Sebagaimana firman Allah Swt., "Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi." (TQS Al-Ma'idah: 21)
Akan tetapi saat ini, Palestina seolah dibiarkan berjuang sendiri. Tenda pengungsian sering menjadi sasaran bom Israel. Rakyat menderita karena berbagai fasilitas yang rusak, bahkan kebutuhan dasar mereka seperti pangan, sandang maupun papan tidak terpenuhi. Bagi yang selamat dari senjata Zionis, harus menghadapi masalah kelaparan hebat.
Amerika Serikat dan Israel dengan ketamakannya ingin menguasai dan mengendalikan Gaza secara total. Maka dibentuklah Dewan Perdamaian Gaza (DPG) oleh Amerika Serikat dengan merangkul negeri-negeri muslim yang dimaksudkan untuk memperkuat posisi kendali politik internasional.
Dengan tujuan negeri-negeri muslim sekitar Gaza mendukung rencananya, maka dalam pembangunan tersebut juga akan dibangun fasilitas pelabuhan laut dan bandara baru dekat perbatasan Mesir, sehingga akan ada "penyeberangan trilateral" di mana perbatasan Mesir dan Israel akan bertemu. Ironis dengan kondisi saat ini, di mana Mesir menutup akses untuk masuknya bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina.
Solusi Islam untuk Gaza
Allah Swt. melarang umat Islam untuk tunduk, patuh, dan memberikan loyalitas pada negara kafir. Kaum muslim yang saat ini diibaratkan bagai buih di lautan harusnya mulai memperkuat barisan. Pada dasarnya kaum muslim diibaratkan satu tubuh yang tidak boleh dipisahkan oleh sekat nasionalisme.
Sejatinya, seluruh umat dan penguasa dunia muslim wajib melawan semua makar Amerika Serikat dan Israel untuk menguasai Gaza. Kaum muslim harus bersatu untuk mengusir Zionis dari bumi Gaza, sehingga kemerdekaan Palestina secara hakiki dapat segera terealisasi.
Kaum muslim harus segera berjuang untuk menegakkan Khilafah. Dengan penerapan syariat Islam secara kaffah dalam naungan negara Khilafah, maka kejayaan Islam dapat segera terealisasi. Kaum muslim wajib berjihad untuk membebaskan Palestina yang menjadi prioritas perjuangan umat, bersama partai politik Islam ideologis.
Wallahualam bisawwab.

Komentar
Posting Komentar