Perdamaian Semu ala Board of Peace
OPINI
Oleh Arda Sya'roni
Pegiat Literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI-"Perdamaian, perdamaian, perdamaian, perdamaian. Banyak yang cinta damai tapi perang semakin ramai ....'
Lirik lagi ini tentu sudah tak asing di telinga. Lagu yang dibawakan oleh Nasida Ria di era 90'an ini seakan menyindir kondisi dunia saat ini yang berteriak imbauan perdamaian, tetapi justru kerap menyulut pertikaian.
Tengok saja, konflik antarnegara datang silih berganti mewarnai cerita di berbagai belahan dunia. Sepanjang era 2000'an saja didapati perang Afghanistan, perang Irak, perang Lebanon, perang India-Pakistan, perang Rusia-Ukraina, perang Tailan-Kamboja, perang Sudan dan masih banyak lagi. Perang antara Israel dan Palestina yang tak pernah usai hingga detik ini juga mewarnai cerita perang di dunia.
Fakta perang yang terjadi di berbagai negara ini menampakkan bahwa dunia tidak sedang baik-baik saja, dunia tidaklah sedamai yang kita bayangkan. Konflik mungkin saja terjadi di level internal antara rakyat dan pemerintah, rakyat dengan rakyat, atau level internasional antarnegara. Ada apa di balik perang-perang itu? Bagaimanakah kabar perdamaian yang selalu didengungkan?
Ironi Board of Peace
Dikutip dari merdekanews.co, 02-02-2026, akhir pekan lalu, Israel kembali menyerang ke kawasan pengungsi Gaza di tengah gencatan senjata dan inisiasi BoP (Board of Peace) bentukan presiden AS, Donald Trump. Sedikitnya 32 orang warga sipil tewas termasuk di antaranya 6 orang anak.
Serangan udara dan bombardir pasukan Israel ini menyebabkan komunitas internasional ramai-ramai mengecam kebrutalan Israel karena dianggap berpotensi merusak upaya perdamaian. Israel selama ini memang punya rekam jejak melanggar gencatan. Sudah menjadi tabiat bangsa Israel untuk melanggar perjanjian yang mereka buat sendiri, bahkan sejak zaman Rasulullah saw..
Salah satu pelanggaran yang dilakukan oleh kaum Yahudi pada saat kepemimpinan Rasulullah saw. adalah Piagam Madinah, yaitu perjanjian yang dibuat oleh Rasulullah saw. pada saat awal hijrah untuk mengatur hubungan antara kaum muslim (Muhajirin dan Anshar) serta kelompok lain di Madinah, termasuk di antaranya kaum Yahudi baik yang berada di dalam Madinah maupun di luar Madinah.
Pada Piagam Madinah ini tiga kabilah Yahudi (bani Qainuqa, bani Nadhir, bani Quraizhah) melakukan pelanggaran sehingga diusir dan diberi sanksi tegas. Tak hanya pada Piagam Madinah, kaum Yahudi kerap melanggar perjanjian-perjanjian yang telah dibuat oleh Rasulullah saw..
Dengan demikian, bukan hal yang mustahil bila Israel melakukan penyerangan bahkan saat gencatan senjata diberlakukan. Ironi memang, saat Israel bergabung dalam misi perdamaian melalui Boad of Peace, tetapi justru Israel pula yang melakukan penyerangan. Lantas, masihkah kita percaya BoP membawa perdamaian bagi Palestina?
Penjajahan Strategi Halus
Banyak kecaman yang dilontarkan dari dunia terhadap penyerangan yang dilakukan pasukan Israel terhadap warga sipil Palestina ini, di antaranya adalah dari DPR Indonesia. Anggota Komisi I DPR dari fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Syamsu Rizal dikutip dari liputan6.com, 01-02-2026, mengecam keras serangan mematikan yang dilancarkan Israel ke Kamp Pengungsi Ghaith, Al-Mawasi, Khan Younis, Jalur Gaza pada Sabtu 31 Januari 2026. Serangan tersebut menyebabkan puluhan warga Palestina syahid.
Militer Israel menyatakan bahwa serangan yang dilakukan hanyalah respons dari serangan yang dilakukan oleh Hamas pada Jumat, 30-01-2026. Israel selalu berkelit serangan yang dilakukan adalah respons atas serangan Hamas, tetapi pada faktanya serangan yang dilakukan oleh pasukan Israel selalu ditujukan pada warga sipil, termasuk di antaranya wanita dan anak-anak.
Dunia mengetahui dengan benar bahwa militer Israel mendapat sokongan penuh dari negara adidaya, yaitu Amerika Serikat. Israel dan Amerika Serikat bagaikan duet maut yang kerap berlaku biadab dan tak kenal ampun demi mempertahankan kekuasaannya.
Faktanya, Amerika Serikat banyak turut andil dalam perang besar di beberapa negara di dunia. Masihkah kita percaya Board of Peace yang digagas oleh AS dan Israel ini tulus untuk perdamaian Palestina?
Kapitalisme Hanya Menghadirkan Perdamaian Semu
AS sebagai pengemban ideologi kapitalis tentu akan mendakwahkan ideologinya untuk mempertahankan posisi kekuasaannya. Hal ini sudah menjadi sifat dasar sebuah ideologi dan pengembannya. Sifat kapitalisme adalah menjadikan manfaat dan materi sebagai landasan segala aktivitasnya.
Oleh sebab itu, di balik gagasan perdamaian AS untuk kebangkitan Palestina tentulah ada maksud terselubung di dalamnya. Alih-alih mewujudkan perdamaian, BoP justru akan melakukan bentuk penjajahan lain yang lebih halus. Ada indikasi pembangunan yang dilakukan adalah untuk menghapus jejak genosida, merampas kekayaan alam, menguasai Al-Aqsa, dan penjajahan halus lainnya.
Ya, begitulah sifat dasar kapitalisme, menjajah untuk merampas kekayaannya, tidak memedulikan penduduknya sehingga tak segan bagi penjajah untuk melakukan genosida. AS dengan kuasanya mencoba menggandeng negeri-negeri lainnya, bahkan negeri muslim sekalipun.
Beberapa negara tersebut pada dasarnya mengerti betul rencana terselubung AS, tetapi tak satu pun dari negara itu yang mampu melawan titah AS. Mereka tunduk karena cengkeraman AS yang membelenggu.
Kapitalisme hanya akan melahirkan perdamaian semu. Bergabung dengan BoP merupakan pengkhianatan terbesar terhadap muslim Palestina karena BoP adalah alat untuk merealisasikan 20 poin rencana Trump atas Gaza. BoP sejatinya dibentuk bukan untuk perdamaian Palestina, melainkan untuk kepentingan geopolitik dan ekonomi AS.
Jika BoP tulus untuk perdamaian Palestina, lantas mengapa Palestina tidak dilibatkan sama sekali?
Di sini jelas bahwa Trump ingin menguasai Gaza seperti halnya yang telah dilakukan pada negara-negara sebelumnya. BoP hanya akan mengusir penduduk Gaza, menghancurkan Gaza lalu membangun Gaza baru yang berisi gedung-gedung pencakar langit, wisata pantai, pelabuhan, bandara, dan menara apartemen.
Solusi Perdamaian Islam
Kemerdekaan dan perdamaian Palestina tidak akan pernah didapat melalui kapitalisme. Kemerdekaan dan perdamaian hakiki hanya bisa didapatkan dari sistem Islam. Palestina tidak butuh BoP maupun rencana AS, yang Palestina butuhkan adalah pembebasan dari pendudukan Zionis.
Satu-satunya yang mampu menolong rakyat Gaza, Palestina hanyalah kekuatan kesatuan kaum muslim di dunia dalam institusi Khilafah. Umat muslim adalah bersaudara dan bagai satu tubuh. Hadits Riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra., "Seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya, tidak menzaliminya, tidak membiarkannya (dizalimi), tidak membohonginya, dan tidak merendahkannya."
Penjajahan tidak ada dalam Islam. Jihad atau perang dalam Islam adalah untuk membebaskan suatu negeri dari penghambaan kepada selain Allah. Karenanya dalam Islam disebut sebagai pembebasan (futuhat). Itu pun dilakukan setelah adanya penolakan secara nyata terhadap dakwah Islam yang telah dilakukan sebelumnya.
Berbeda dengan kapitalisme dalam melakukan perang. Negara kapitalis akan melakukan penjajahan terhadap negara yang diperangi. Tujuan perang adalah untuk menguasai, sedangkan tujuan jihad dalam Islam adalah untuk dakwah Islam.
Khatimah
Hanya dengan sistem Islam dalam bingkai Khilafah penjajahan di atas dunia mampu dihapuskan. Hal ini karena landasan yang diterapkan dalam negara adalah syariat Islam, sebuah aturan yang diturunkan langsung oleh Sang Pencipta. Hanya dengan jihad akbar seluruh tentara muslim di bawah komando pemimpin Daulah (khalifah) Zionis dapat dipukul mundur dan hengkang dari bumi para Nabi tersebut.
Dalam Islam, negeri-negeri muslim tidak boleh bersekutu dengan negara kafir harbi fi'lan yang tengah memerangi muslim Palestina (AS dan Zionis). Negeri-negeri muslim justru harus bersegera menegakkan Khilafah. Umat Islam harus menjadikan Khilafah sebagai qadhiyah masiriyah (agenda utama) dan segera merealisasikannya. Wallahualam bissawab

Komentar
Posting Komentar