Predator Seksual di Roblox: Alarm Darurat Perlindungan Anak





OPINI 

Oleh Tutik Haryanti

Pegiat Literasi


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Roblox adalah jenis permainan gim online yang digemari semua kalangan, baik anak-anak, remaja hingga dewasa. Sayangnya, roblox termasuk platform gim daring yang menjadi ruang rawan kejahatan predator seksual.


Roblox kini bukan sekadar permainan. Sudah lebih dari 79 juta pengguna aktif harian, platform ini telah berevolusi menjadi "Metaverse" yang kompleks. Laporan 2024-2025 mengungkap sisi gelap yang mencakup sindikat predator seksual, perjudian anak illegal, manipulasi psikologis algoritmik. (Unesa, 10-02-2026)


Ini menjadi bukti bahwa anak-anak saat ini banyak yang terpapar gim roblok tersebut. Begitu masif predator seksual ini menyasar anak-anak.


Modus Predator Seksual


Beberapa laporan internasional mengungkap para predator memanfaatkan obrolan, avatar anonim, hingga mini game interaktif membangun relasi palsu dengan anak-anak. Modus predator beragam, misal dengan mengaku teman sebaya, memberikan hadiah virtual, ataupun mengajak komunikasi di luar platform tersebut. 


Di sinilah, anak-anak mulai terjebak dalam grooming seksual. Gim yang semula mengajak kreatif dan ramah anak, kini berubah menjadi sebuah ruang kejahatan yang menimbulkan dampak hancurnya mental dan masa depan anak.


Anak Rawan Kejahatan Seksual 


Tidak bisa dimungkiri, dunia digital hari ini berkembang pesat dan tanpa batas sehingga anak-anak mudah mengakses dan tidak disertai pengawasan ketat. Oleh karena itu, mereka akan mudah terjebak oleh maraknya predator seksual di berbagai platform gim seperti roblox ini.


Sistem sekularisme-kapitalistik yang menjunjung tinggi kebebasan berperilaku inilah yang memberikan celah bagi para predator seksual dalam menjalankan aksinya. Pasalnya, industri gim di dalam kapitalisme akan mengejar keuntungan sebesar-besarnya, tanpa memikirkan keselamatan dan keamanan anak. Selama pengguna aktif meningkat dan transaksi berjalan, aspek perlindungan dianggap sekunder. Dengan demikian, anak rawan mengalami kejahatan seksual.


Kapitalisme memandang, anak-anak bukan amanah yang harus dilindungi, tetapi justru dijadikan target pasar yang dapat memberikan keuntungan. Pengawasan longgar, verifikasi usia mudah dimanipulasi, dan tanggung jawab dilemparkan kepada orang tua semata. Padahal, orang tua tidak selalu mengerti literasi digital yang memadai dalam menghadapi kompleksnya dunia maya hari ini. 


Abainya Orang Tua dan Masyarakat 


Mirisnya, orang tua hari ini justru disibukkan dengan perihnya kehidupan yang sangat sulit. Kemiskinan struktural dan ketimpangan sosial yang makin menganga, membuat orang tua kurang memperhatikan anak-anaknya. Kehidupan yang serba sulit menuntut orang tua untuk lebih keras lagi dalam mencukupi kebutuhan keluarga sehingga mengabaikan aktivitas anak. 


Begitupun masyarakat yang individualisme kurang tanggap dalam pengawasan terhadap aktivitas orang-orang di sekelilingnya. Masyarakat mengurusi dirinya sendiri, minim kepedulian dengan orang lain. Jika menegur anak orang lain akan berpotensi melanggar hak asasi manusia.


Di sisi lain, lingkungan sekolah kurang mendeteksi bahaya yang mengancam anak didiknya. Sering kali di sekolah mereka tetap bisa membawa gadget dan masih bisa memainkan gim di ruang kelas. Guru hanya sebatas "mengajar" tanpa mendidik. Di tambah lagi, tugas-tugas administratif menyibukkan guru sehingga tidak berkesempatan untuk memperhatikan anak-anak didiknya.


Dampak Psikologis 


Kejahatan seksual terhadap anak, termasuk yang terjadi secara daring, bukan kejahatan ringan. Dampaknya bisa sangat panjang seperti, trauma, depresi, gangguan kecemasan, kehilangan rasa aman, hingga krisis identitas. Anak-anak korban grooming sering merasa bersalah, takut bercerita, dan mengalami tekanan mental yang tidak terlihat secara kasat mata.


Ironisnya, banyak kasus yang tidak terungkap karena minimnya mekanisme pelaporan ramah anak dan stigma sosial yang masih kuat. Negara sering kali baru bereaksi setelah kasus membesar, bukan hadir secara preventif.


Negara Abai


Ketika kehadiran orang tua, masyarakat, dan ruang pendidikan tidak maksimal. Seharusnya negaralah yang bergerak secara aktif, cepat, dan tepat dalam meriayah atau mengurus rakyat. Negara memilikimu peran penting dalam menangani kasus predator seksual di platform media sosial yang bermacam-macam. Bukan hanya roblox, tetapi masih ada jenis gim lain yang juga berbahaya.


Negara sebagai pemangku kekuasaan memiliki tanggung jawab sepenuhnya terhadap keselamatan dan keamanan anak. Negara berhak menutup seluruh akses platform gim yang merusak dan berbahaya, seperti eksploitasi anak melalui digitalisasi, pelecehaan seksual, judi online, perdagangan anak dan sebagainya. Kapitalisme menempatkan negara sebagai regulator kebijakan, pembuat regulator tanpa menganalisis efektivitas seberapa besar efektivitasnya.


Negara tunduk terhadap korporasi digital raksasa, jadi negara terlihat lemah terhadap keberadaan platform global. Padahal, sejatinya anak adalah aset strategis sebuah bangsa yang menjadi penerus peradaba. Ketika negara gagal dalam melindungi anak maka negara sedang mempertaruhkan masa depan bangsa.


Islam Memandang Anak sebagai Amanah Besar


Dalam Islam, anak bukan sebagai individu yang bebas berekspresi, melainkan amanah besar yang harus dijaga akal, jiwa, dan kehormatan. Perlindungan anak merupakan bagian dari penjagaan maqashid syariah. khususnya hifzh an-nafs (menjaga jiwa) dan hifzh al-‘irdh (menjaga kehormatan).


Allah Swt. berfirman,

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)


Ayat di atas menegaskan kepada orang tua kewajibannya menjaga dan melindungi anak dari keburukan dan predator seksual pada anak. Sebab, keluarga menjadi perlindungan pertama bagi anak. Anak wajib mendapatkan pendidikan agama Islam kafah (totalitas) dalam keluarga, agar akalnya semakin matang. Penting juga untuk meningkatkan kreativitas fisik dengan olah raga, bela diri dan sebagainya, yang bisa membentengi diri dari para pelaku kejahatan.


Masyarakat dan negara menjadi support sistem bagi keluarga dan menumbuhkan amar makruf nahi mungkar. Saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Negara juga menjadikan akidah Islam dalam kurikulum pendidikan agar dapat terbentuk anak-anak yang memiliki berkepribadian Islam.


Negara juga wajib memenuhi kebutuhan rakyat berupa sandang, papan, dan pangan. Agar orang tua dapat fokus memantau dan mengawasi dan membersamai anak-anaknya, tanpa rasa khawatir tentang kebutuhannya pribadi belum terpenuhi.


Negara juga memberikan sanksi dan hukum yang tegas bagi pemilik platform gim yang sudah melanggar syariah. Mengatur dan mengawasi semua konten di media sosial, agar ruang digital tidak bertentangan dengan syariah.


Demikian juga, negara tidak akan mengandalkan hasil pajak dari platform digital, karena negara sudah memiliki baitulmal dengan pemasukan dari sumber kekayaan alam, jizyah, fai, zakat, dan juga kepemilikan umum.


Khatimah


Negara Islam akan selalu menjaga rakyat terutama anak-anak dengan penuh kehati-hatian dari kejahatan predator seksual baik di dunia maya maupun dunia nyata. Semua ini dapat terwujud secara nyata jika negara menerapkan sistem Islam kafah dalam naungan khilafah.


Wallahualam bissawab.[]














.

.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic