Ramadan Datang, Ribuan Korban Bencana Sumatera Memprihatinkan

 


OPINI 

Oleh Yuli Ummu Raihan 

Muslimah Peduli Generasi 


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Ramadan telah datang, suka cita kaum muslimin menyambut bulan suci ini. Berbagai persiapan telah dilakukan baik dari menu sahur dan berbuka, rencana bukber, tarawih, list ibadah, bahkan persiapan mudik lebaran sudah mulai dicicil. Namun kondisi berbeda dialami saudara-saudara kita korban bencana Sumatera yang nasibnya masih memprihatinkan.


Dilansir dari laman Atjeh Watch.com, 18/2/2026 sebanyak 12.994 orang tercatat masih mengungsi di tenda pengungsian pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera khususnya Sumbar, Sumut dan Aceh. Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian mengatakan total dari 18 kabupaten kota yang terdampak bencana di Sumatera Utara, tinggal Kabupaten Tapanuli Tengah yang masih berada di tenda pengungsian karena beberapa waktu lalu sempat kembali dilanda banjir. Sementara di Sumbar sudah tidak ada lagi yang berada di pengungsian. 


Hunian sementara yang dijanjikan belum semuanya rampung. Di beberapa wilayah di Aceh masih kesulitan mengakses BBM dari SPBU maupun listrik. Tito mengklaim distribusi LPG melalui agen di tiga wilayah terdampak bencana sudah normal kembali. Beberapa bantuan dari diaspora Aceh yang bekerja di Malaysia yang ingin mengirimkan bantuan barang masih tertahan oleh izin dari Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan.


Sementara data korban bencana masih banyak. Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh melaporkan terdapat 91.663 jiwa dari 24.280 kepala keluarga di Aceh masih bertahan di pengungsian. Hal ini menandakan bahwa Aceh belum baik-baik saja. 


Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat menyampaikan ada tiga masalah psikologis yang bisa dialami oleh korban bencana yaitu Maslah traumatik akibat mengalami peristiwa banjir bandang secara langsung. Kedua mereka kehilangan keluarga, saudara, teman, harta benda, hingga impian untuk kehidupan selanjutnya. Terakhir, kondisi selama di pengungsian. Pola aktivitas yang dilakukan pengungsi juga mempengaruhi psikologis mereka. Kunci untuk memulihkan psikologis mereka adalah adanya rasa aman. Memastikan mereka tidak merasa sendirian atau ditinggalkan terutama oleh pemerintah.


Penanganan bencana hari ini kerap terhambat oleh birokrasi yang panjang, anggaran yang terbatas, serta berbagai kepentingan politik. Bantuan sering datang terlambat, kalau pun ada distribusinya tidak merata, sehingga pengungsian terpaksa bertahan dari rasa belas kasihan para relawan atau sesama korban bencana.


Sudah hampir 3 bulan bencana terjadi, tapi sebagain korban masih berada dalam kondisi yang tidak pasti. Mereka butuh bantuan dan jaminan kehidupan untuk masa depan. Semua ini perlu adanya sinergi dari berbagai pihak terutama dari negara.


Negara berperan dan bertanggung jawab penuh atas pencegahan, mitigasi dan penanganan bencana serta pascabencana. Hal ini dapat kita contoh dari kepemimpinan dalam sistem Islam yang mana paradigmanya adalah sebagai pelindung dan pengurus rakyat. Sehingga ketika ada musibah maka pemerintah Islam akan menjadikannya prioritas utama. Sebelum terjadinya musibah negara akan melakukan pencegahan melalui pengelolaan lingkungan sesuai aturan syariat. Hutan, gunung, dan sungai sebagai sumber daya alam statusnya adalah kepemilikan umum. Keberadaannya akan dijaga dan tidak boleh dieksploitasi yang bisa menimbulkan kerusakan lingkungan atau dampak buruk lainnya. 


Negara juga akan membangun sistem peringatan dini dan infrastruktur. Negara akan mendorong para ilmuwan untuk melakukan berbagai hal. Termasuk riset dan penelitian terkait kebencanaan, pemetaan wilayah rawan, edukasi lingkungan dan perlindungan diri ketika bencana.


Ketika bencana terjadi maka negara akan merespon dengan cepat. Pemimpin Islam akan mengerahkan segala kemampuan negara dengan dukungan semua rakyat untuk mempercepat proses penanganan. Baitul mal sebagai lembaga keuangan telah memiliki pos-pos tersendiri untuk membiayai proses penanganan bencana, memenuhi kebutuhan korban, mulai dari kebutuhan pokok, layanan kesehatan, hingga pemulihan pascabencana. Ketika kas di baitulmal tidak mencukupi, negara bisa mengambil utang pada rakyat yang kaya untuk mengcover semua kebutuhan. Kemudian menarik pajak dari rakyat yang kaya sampai memenuhi kebutuhan yang mendesak tersebut.


Ketika melakukan penanganan bencana, negara tidak akan menganggap hal itu sebagai beban, melainkan kewajiban yang harus dipenuhi. Negara akan memastikan para korban dapat melanjutkan hidup mereka dengan layak. Tempat tinggal, lapangan pekerjaan, sarana publik, keamanan sosial harus dikembalikan seperti kondisi semula.


Negara akan sangat memperhatikan ibadah rakyatnya sehingga para korban akan diberikan kondisi yang layak dan aman untuk beribadah terutama di bulan Ramadhan ini. Rasulullah saw. pernah bersabda: "Barangsiapa yang ketika memasuki pagi hari dalam keadaan aman dirinya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dimilikinya." (HR. Tirmidzi)


Negara Islam juga akan melakukan pengawasan terhadap hutan dan pengelolaannya. Hal ini akan dijalankan oleh lembaga peradilan yaitu Qadhi hisbah yang akan menjaga terpeliharanya hak-hak masyarakat secara umum, termasuk pengelolaan hutan. Untuk kasus bencana di Sumatera telah jelas bahwa ini bukan sekadar bencana, namun akibat keserakahan manusia. Qadhi yang disertai oleh polisi (syurthah) dapat langsung melakukan sidang di tempat ketika melihat ada pelanggaran. Negara berhak menjatuhkan sanksi yang tegas kepada siapa saja yang melakukan kerusakan hutan. Sanksinya tergantung jenis pelanggaran dan dampak yang ditimbulkannya. Sanksi ini sifatnya memberikan efek jera sehingga meminimalisir terjadinya kejahatan serupa.


Negara juga memiliki lembaga penerangan yang akan menjadi sumber dan pengaduan berbagai informasi terkait bencana. Akan dibentuk tim khusus yang dibekali peralatan canggih seperti alat telekomunikasi, alat berat, dan segala hal yang diperlukan saat bencana. Artinya negara sudah siap sedia untuk mengatasi bencana yang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya. Hal ini kan meminimalisir jumlah korban dan kerugian akibat bencana.


Pemimpin dalam Islam akan senantiasa mengingatkan semua rakyatnya untuk melakukan muhasabah ketika terjadi musibah. 

Menghibur para korban dan memberikan jaminan kehidupan yang layak bagi mereka. Semua itu dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab sebagai seorang pemimpin bukan sekadar pencitraan.

Wallahua'lam bishawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic