Sandiwara Damai ala Israel dan Amerika

 


Amerika berbicara tentang stabilitas kawasan, sementara Israel melanjutkan operasi militernya dengan alasan pertahanan diri. Dunia pun menyaksikan dua realitas yang bertolak belakang: diplomasi di satu sisi, kekerasan di sisi lain.


OPINI 


Oleh Rati Suharjo

Penulis Artikel Islami di Era Digital


Muslimahkaffahmedia.eu.org,Beberapa hari lalu, pemerintah Amerika Serikat kembali menawarkan proposal perdamaian (BoP) untuk Gaza. Mereka berbicara tentang stabilitas kawasan, bantuan kemanusiaan, hingga rencana pembangunan kembali wilayah yang hancur. Sekilas tawaran ini terdengar menenangkan dan seolah memberi harapan baru bagi rakyat Palestina yang telah lama menderita akibat konflik berkepanjangan. Di tengah puing-puing bangunan dan trauma yang tak kunjung pulih.

Namun, harapan itu tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Belum lama wacana perdamaian disampaikan, serangan udara kembali terjadi di Jalur Gaza. Sebuah gedung di kawasan dekat pemakaman Zeitoun dilaporkan hancur akibat hantaman rudal. Peristiwa semacam ini bukanlah yang pertama dan kemungkinan besar bukan yang terakhir. 

Serangan-serangan sebelumnya pun kerap terjadi dengan dalih membela diri atau menjaga keamanan. Padahal setiap pengeboman mempertaruhkan nyawa rakyat sipil yang tidak bersenjata—anak-anak, perempuan, dan orang tua yang tidak memiliki perlindungan. Ironisnya, gencatan senjata yang baru saja diumumkan sering kali dilanggar sendiri.

Di titik inilah wajah diplomasi itu tampak makin jelas. Seruan perdamaian terus digaungkan, tetapi dukungan logistik dan politik tetap mengalir. Amerika berbicara tentang stabilitas kawasan, sementara Israel melanjutkan operasi militernya dengan alasan pertahanan diri. Dunia pun menyaksikan dua realitas yang bertolak belakang: diplomasi di satu sisi, kekerasan di sisi lain. Retorika kemanusiaan terdengar di forum internasional, tetapi penderitaan nyata terus berlangsung di lapangan.

Kondisi ini seharusnya mendorong negara-negara muslim untuk mengambil sikap yang lebih tegas dalam membela Palestina. Sayangnya, alasan yang kerap muncul adalah tidak ingin mencampuri urusan negara lain atau menjaga hubungan diplomatik. Padahal konflik Gaza–Israel bukan sekadar persoalan bilateral. Ia menyangkut penjajahan, kemanusiaan, dan kedaulatan wilayah muslim. Ketika sebuah wilayah muslim terus-menerus diserang dan rakyatnya kehilangan hak hidup yang layak, persoalan itu tidak bisa dianggap sebagai urusan domestik semata.

Dalam konteks inilah, penting mengingat firman Allah Swt.:

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah.” (QS. Al-Anfal: 61)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak menolak perdamaian. Bahkan Islam mendorong terciptanya situasi damai apabila pihak lawan benar-benar menunjukkan itikad baik. Namun, perdamaian yang dimaksud bukanlah tipu daya atau strategi untuk memperkuat posisi sebelum kembali menyerang. Perdamaian dalam Islam berdiri di atas kejujuran dan komitmen untuk menghentikan kezaliman.

Al-Qur’an juga menegaskan prinsip keadilan sebagai fondasi hubungan antarmanusia:

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah… dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Keadilan adalah inti dari perdamaian sejati. Tanpa keadilan, gencatan senjata hanya menjadi jeda sementara sebelum kekerasan berikutnya terjadi. Karena itu, tawaran perdamaian yang tidak disertai penghentian penjajahan dan agresi tidak dapat dipandang sebagai solusi mendasar. Ia lebih menyerupai tambalan sementara atas luka yang terus menganga.

Lebih jauh lagi, Allah Swt. juga memperingatkan agar kaum muslim tidak tunduk pada dominasi pihak yang memusuhi mereka:

Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 141)

Ayat ini sering dipahami sebagai dorongan agar umat Islam memiliki kekuatan dan kemandirian sehingga tidak berada dalam posisi lemah yang mudah ditekan atau dipermainkan dalam percaturan politik global. Jika umat terus bergantung pada belas kasihan kekuatan besar dunia, maka posisi tawar akan tetap rendah.

Sejarah Islam memberikan pelajaran penting tentang bagaimana perdamaian dijalankan dengan visi strategis. Rasulullah ﷺ pernah menjalin perjanjian damai dengan kaum Quraisy melalui Perjanjian Hudaibiyah (Sulh al-Hudaibiyah) pada tahun 6 Hijriah. Pada awalnya, isi perjanjian itu tampak merugikan kaum muslim. Namun, Rasulullah ﷺ melihatnya dengan pandangan jauh ke depan. Gencatan senjata tersebut justru membuka ruang dakwah yang luas dan memperkuat posisi kaum muslim hingga akhirnya Islam berkembang pesat.

Dari peristiwa itu terlihat bahwa perdamaian dalam Islam bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bagian dari strategi besar yang dilandasi kekuatan politik dan visi jangka panjang. Perdamaian efektif hanya jika didukung oleh kepemimpinan yang kuat, mandiri, dan memiliki kejelasan arah.

Karena itu, solusi konflik Gaza–Israel tidak cukup hanya dengan gencatan senjata atau proyek pembangunan fisik. Dibutuhkan perubahan mendasar dalam tata kelola politik umat. Dalam perspektif politik Islam, kepemimpinan memiliki tanggung jawab langsung menjaga kedaulatan wilayah serta melindungi jiwa, harta, dan kehormatan rakyat. Politik luar negeri dijalankan berdasarkan akidah dan prinsip keadilan, bukan semata kepentingan pragmatis atau tekanan internasional.

Tanpa kekuatan politik yang mandiri dan persatuan yang nyata, umat Islam akan terus berada pada posisi tawar yang lemah. Bantuan kemanusiaan memang penting dan harus terus diberikan. Namun, bantuan saja tidak cukup untuk menghentikan penjajahan. Ia hanya meringankan dampak, bukan menghilangkan akar persoalan.

Lebih jauh lagi, kondisi yang terus berulang ini menjadi alarm bagi umat Islam di seluruh dunia. Selama umat tercerai-berai dalam batas-batas nasionalisme sempit dan tunduk pada sistem politik global yang sarat kepentingan, penderitaan Palestina berisiko terus menjadi komoditas diplomasi. Padahal umat Islam yang berjumlah lebih dari satu miliar jiwa memiliki potensi besar—baik sumber daya alam, militer, ekonomi, maupun posisi geopolitik yang strategis. Potensi tersebut tidak akan berarti tanpa persatuan dan kepemimpinan yang kuat.

Pada akhirnya, perjuangan membebaskan Palestina bukan hanya soal solidaritas kemanusiaan, tetapi juga persoalan arah dan sistem kepemimpinan umat. Perdamaian sejati bukan sekadar berhentinya tembakan untuk sementara waktu. Ia adalah berhentinya penjajahan, tegaknya keadilan, dan terjaminnya keamanan bagi setiap jiwa tanpa standar ganda.

Tanpa perubahan mendasar, konflik demi konflik akan terus berulang. Pernyataan damai akan terus terdengar, tetapi dentuman bom pun tetap menggema. Jika itu terus terjadi, maka perdamaian hanya akan menjadi sandiwara di panggung diplomasi dunia. Wallahu a‘lam bishshawab.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic