Senjata Termal Kalap, Ribuan Warga Gaza Lenyap
OPINI
Pegiat Literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Berulang kali dunia dikejutkan dengan berita serangan ke Gaza yang menewaskan ribuan warga sipil. Di tengah reruntuhan bangunan dan ratapan keluarga, muncul berbagai laporan tentang penggunaan senjata canggih yang bernama "senjata termal".
Dikutip dari Detiknews.com (13-02-2026), menurut laporan dari Al Jazeera, ribuan warga Gaza "lenyap" akibat senjata mutakhir yang digunakan tentara-tentara Israel di Jalur Gaza.
Lenyapnya 2.842 warga Gaza ini dikaitkan dengan penggunaan senjata bersuhu tinggi. Senjata ini diduga mampu membuat jaringan tubuh manusia menguap, hanya meninggalkan jejak sisa-sisa percikan darah dan daging yang kecil-kecil. Ternyata setelah ditelusuri, menurut para pakar dan saksi mata yang dikutip Al Jazeera, senjata amunisi termal dan termobarik tersebut dipasok dari Amerika Serikat, meski secara internasional dilarang penggunaannya.
Sebenarnya apa itu senjata termal? Mengapa pula warga Gaza masih terus dibombardir. Padahal, sudah ada gencatan senjata, solusi dua negara, dan dibentuknya dewan perdamaian untuk Gaza? Bagaimanakah Islam menghadapi penjajah Israel dan membebaskan warga Gaza?
Mengenal Senjata Termal
Senjata termal merupakan senjata amunisi mutakhir yang disebut juga sebagai bom vakum atau bom aerosol, yang mampu menghasilkan suhu melebihi 3.500 derajat Celcius. Ada beberapa tipe amunisi yang dipasok oleh AS dan digunakan Israel di Jalur Gaza tersebut, antara lain bom MK-84, bom penghancur bunker BLU-109, dan bom luncurkan pesisir GBU-39.
Pakar militer Rusia, Vasily Fatigarov, menjelaskan bahwa senjata termobarik bukan hanya membunuh, tetapi melenyapkan materi. Berbeda dengan jenis peledak konvensional, senjata ini menyebarkan awan bahan bakar yang menciptakan bola api yang sangat besar dan terjadi efek vacum.
Fatigarov menyebutkan, bom MK-84 berbobot 900kg dan berisi tritoral yang menghasilkan panas hingga 3500 derajat Celcius. Kemudian, ada bom BLU-109 penghancur bunker, yang mampu menciptakan bola api dan mampu membakar habis segala sesuatu yang berada di jangkauannya. Bom ini pernah digunakan dalam serangan Israel di Al-mawasi Jalur Gaza.
Sedangkan, untuk bom GBU-39 juga pernah digunakan Israel untuk menyerang sekolah Al-Tabin. Senjata ini mampu membunuh melalui gelombang tekanan yang merusak paru-paru dan membakar jaringan lunak.
Senjata-senjata ini bukan saja melibatkan Israel, tetapi juga Barat yang menjadi pemasoknya. Oleh karena itu, genosida yang terjadi di Gaza bukan saja dilakukan murni oleh Israel, tetapi menjadi genosida secara global.
Genosida Belum Berakhir
Genosida terhadap warga Gaza hingga kini belum berakhir. Israel makin menunjukkan kekejamannya dan benar-benar tampak ingin menghabisi warga Gaza tanpa meninggalkan jejak. Berbagai cara keji pun dilakukan, bahkan sampai menggunakan senjata yang dilarang internasional.
Padahal, organisasi dunia dan para pemimpin dunia telah berusaha mencari solusi pembebasan Gaza, seperti gencatan senjata, solusi dunia negara bahkan pendirian dewan perdamaian (BoP), tetapi itu semua tidak memberikan dampak yang nyata. Serangan ke Jalur Gaza terus saja berulang.
Hal ini membuktikan, segala bentuk solusi yang dirancang oleh pemimpin dunia hanyalah ilusi belaka. Warga Gaza masih tetap hidup dalam tekanan penjajah.
Teknologi Senjata dalam Kapitalisme
Pada dasarnya teknologi bersifat netral, manusia yang menentukan penggunaannya. Sayangnya, dalam kapitalisme industri militer global bernilai triliunan dolar menjadi sistem ekonomi dunia modern. Sistem yang berorientasi pada keuntungan dan dominasi strategis. Pengembangan senjata sering dipandang sebagai kebutuhan pertahanan dan pengaruh geopolitik.
Ketika senjata canggih ini digunakan untuk menggenosida warga sipil, di mana etika kemanusiaan? Apakah untuk mengamankan satu pihak harus mengorbankan ribuan nyawa tak bersalah? Dan apakah legitimasi pertahanan sudah otomatis menghapus tanggung jawab warga sipil?
Hukum International sebenarnya mengatur prinsip kemanusiaan dan perlindungan warga sipil. Akan tetapi, pada kenyataannya di lapangan sering kali tidak ideal dan berstandar ganda. Begitulah kapitalisme, demi kepentingan hilanglah rasa kemanusiaan.
Di Mana Negeri Muslim?
Kini, kondisi warga Gaza mengenaskan. Di mana empati dan rasa kemanusiaan negeri-negeri Muslim di dunia? Bukankah dalam Islam sudah dijelaskan bahwa sesama Muslim adalah bersaudara. Rasulullah saw. bersabda,
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang dan cinta di antara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut sakit." (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, seorang muslim harus memiliki rasa kasih sayang dan cinta kepada saudara muslim lainnya, seperti satu tubuh, jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit.
Namun, hingga kini tidak ada satu pun negeri Muslim yang mampu memberikan bantuan nyata untuk membebaskan Gaza. Para pemimpin negeri Muslim sudah terikat perjanjian sehingga masuk dalam cengkeraman penjajah. Mereka tersandera berbagai kepentingan, seolah mata, mulut, dan hati mereka tertutup. Bentuk perjanjian perdamaian apapun yang didirikan bersama penjajah tidak akan ada artinya, justru melegitimasi keberadaan penjajah Israel di Jalur Gaza.
Solusi Islam Membebaskan Gaza
Islam sangat menjaga darah, jiwa, akal, dan kehormatan kaum Muslim. Maka, tidak seorang pun yang dibenarkan membunuhnya. Allah Swt. berfirman,
“Barang siapa membunuh seorang manusia bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh seluruh manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32)
Jadi, penggunaan senjata dengan daya hancur besar di kawasan sipil adalah sebuah kebiadaban. Tentu saja hal ini tidak dapat dibiarkan, Allah Swt. juga berfirman,
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)
Dengan demikian, hanya ada satu jalan untuk membebaskan Gaza dari Zionis Israel, yaitu dengan persatuan kaum Muslim seluruh dunia dalam satu institusi Daulah Islam (Khilafah), yang akan mengirimkan pasukan untuk berjihad fii sabilillah dengan komando seorang Khalifah.
Khatimah
Gaza hari ini adalah cermin bagi dunia, apakah teknologi akan terus menjadi alat dominasi, ataukah sebagai alat kemanusiaan yang akan menjadi panglima? Senjata termal dan persenjataan modern mungkin diciptakan atas nama pertahanan, tetapi dampaknya terhadap warga sipil tidak bisa diabaikan.
Dalam pandangan Islam, penjajahan dan pembunuhan tanpa hak adalah bentuk kezaliman yang harus ditolak. Keadilan, perlindungan terhadap warga sipil, dan penghormatan terhadap kehidupan manusia adalah prinsip yang tidak boleh dikompromikan.
Ketika dewan perdamaian dunia belum mampu menghentikan agresi, maka jihad kaum Muslim harus segera dikirimkan, agar tidak muncul senjata termal yang kalap hingga membunuh ribuan warga sipiĺ. Saatnya umat Islam bangkit dan berjuang untuk tegaknya kembali Islam yang rahmatan lil'alamiin.
Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar