Siklus Luka di Gaza
OPINI
Oleh Elfia Prihastuti, S.Pd.
Praktisi Pendidikan
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI&Bagi warga Gaza, gencatan senjata bukan lagi janji akan kedamaian permanen, melainkan sekadar waktu tunggu sebelum luka lama kembali disayat. Setiap kali kesepakatan damai diumumkan, ada harapan tipis yang mencoba tumbuh di tengah reruntuhan. Namun, saat peluru kembali menyalak dan ledakan merobek langit yang baru saja tenang, harapan itu gugur seketika.
Militer Israel terus melanggar kesepakatan gencatan senjata yang di tanda tangani 10 oktober 2025 dengan meningkatkan serangan udara, artileri, dan laut di berbagai wilayah jalur gaza. Bangunan pemukiman warga menjadi sasaran pesawat nirawak (drone). (Arrahman, 15/2/2026)
Al-Jazeera memberitakan Minggu (15/2/2026), setidaknya sembilan warga Palestina tewas dalam serangan dilakukan sejak subuh. Serangan pertama menargetkan Jabalia di bagian utara Jalur Gaza, menyasar sebuah tenda tempat pengungsi Palestina berlindung.
Serangan udara juga dilakukan di Khan Yaunis, sedikitnya 5 orang kehilangan nyawa. Pada serangan sebelumnya 1 orang tewas. Total ada 10 orang korban meninggal dalam serangan 24 jam terakhir.
Ada lebih dari 1.600 pelanggaran yang dilakukan Israel selama masa gencatan senjata yang dimulai sejak Oktober 2025. Hampir 600 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata itu disepakati. (detiknews, 15/2/2026)
Sudah Terbaca
Melihat track record Israel yang selalu melakukan pelanggaran dalam setiap perjanjian dan kesepakatan, fakta-fakta serangan itu bukanlah hal yang mengherankan. Situasi ini semakin kembali menyayat luka lama penduduk gaza. Harapan agar penderitaannya segera berakhir pupus sudah. Walaupun sebenarnya mereka sudah mengira semuanya akan terjadi.
Pemerhati isu politik dan perempuan Fatma Sunardi mengecam tindakan zion*s. Ia menyatakan telah banyak bukti bahwa Israel tidak akan menepati kesepakatan dalam bentuk apapun, karena punya agenda sendiri.
Menurutnya, klaim palestina sebagai tanah mereka secara historis, telah dinarasikan untuk menguatkan kepentingan keamanan dan bahan tawar menawar dengan Amerika Serikat (AS). Ketika Zion*s menguasai Gaza, berarti mengontrol perbatasan dengan Mesir; menekan pengaruh Qatar, Turki, dan Iran; serta mempertahankan dominasi Zion*s Israel di Mediterania Timur. Bahkan, Gaza menjadi variabel tawar-menawar dalam hubungan Israel–AS.
Sejatinya genjatan senjata merupakan bagian dari rencana 20 poin usulan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri konflik di Gaza dan membuka jalan perdamaian di Timur Tengah. Inti proposal itu adalah demiliterisasi, deradikalisasi, sekularisasi, dan jeratan bantuan ekonomi.
Jika dicermati secara mendalam, gencatan senjata hanya strategi untuk menghentikan perlawanan. Karena dalam proposal tersebut terdapat demiliterisasi, yang mencakup penghentian penggunaan senjata secara permanen. Hal ini pada akhirnya akan berimplikasi pada pelucutan senjata. Hal yang sama tidak menjadi tuntutan bagi pihak Israel yang justru menjadi pelaku genosida.
AS Pelindung Agresor Israel
Semua ini tidak terlepas dari peran AS sebagai pendukung fanatik Israel. Dari hak veto, dana hingga perlindungan dari berbagai tekanan dunia. Segala tindakan tersebut tentu bukan sekadar persoalan penyerobotan tanah seluas 53 hektar yang kini meluas yang akhirnya mempersempit wilayah Palestina.
Persoalan itu hanya salah satu fragmen dari rangkaian penderitaan yang panjang. Termasuk sandiwara gencatan senjata dan narasi perdamaian, sudah masuk bagian dari hal yang membawa keuntungan bagi Israel dan AS. Oleh karena itu untuk membentuk sikap yang tepat bagi kaum muslimin dalam menghadapi kasus palestina ini perlu ditinjau segi-segi hukum dan pandangan Islam terhadap bangsa Yahudi Israel dan permusuhan serta tindak kejahatan mereka terhadap kaum muslimin. Dengan demikian akan diperoleh sikap dan metode pemecahan masalah yang tepat dan syar'i.
Israel adalah negara Yahudi yang kemunculannya merupakan rekayasa penjajah Inggris yang menduduki tanah Palestina setelah mengalahkan Daulah utsmaniyah pada Perang Dunia I di tahun 1917. Dengan kekuasaannya penjajah memberikan kesempatan kepada bangsa Yahudi dari negara-negara Eropa Rusia dan Amerika Serikat untuk bermigrasi ke Palestina.
Tentu saja kesempatan itu tak disia-siakan oleh bangsa Yahudi yang dengan gerakan zionisnya memang bercita-cita mendirikan negara bagi ras Yahudi yang selama ini berpencaran di seluruh dunia. Kedatangan para pendatang Yahudi di negara Palestina bagaikan Duri dalam daging bagi bangsa Arab di Palestina. Ternyata Duri itu makin hari makin besar dan semakin menimbulkan luka dan bencana. Rasa sakit lantaran Duri itu pun menjadi-jadi. Setelah bangsa Yahudi mengumumkan berdirinya negara Yahudi Israel pada Tahun 1948, menimbulkan kegoncangan yang sangat bagi kaum muslimin.
Tidak hanya yang berada di Palestina melainkan di seluruh Timur Tengah. Teror-teror yang dilakukan oleh Yahudi kepada kaum muslimin di Palestina pun berkembang menjadi perang Arab Israel, yang melibatkan negara-negara Arab seperti Mesir Libanon Suriah dan Yordania. Perang tahun 1967 sampai 1973 dan 1982 hasilnya Israel tidak hanya menduduki seluruh tanah Palestina tapi juga tanah-tanah yang masuk dalam wilayah Mesir Suriah, Yordania dan Libanon. Jutaan kaum muslimin Palestina Terusir dari kampung halamannya.
AS yang muncul pada saat perang dunia ke-2 senantiasa menggeser posisi Inggris di berbagai wilayah dunia termasuk Timur Tengah. Jadi masalah Palestina berkaitan erat dengan tumbangnya negara Khilafah yang memayungi kaum muslimin di seluruh negeri-negeri Islam dalam negara-negara kecil yang direkayasa oleh para penjajah. Inggris menghendaki terbentuknya negara Palestina sekuler yang dihuni oleh orang-orang Yahudi dan Arab Palestina. Bahkan ada juga rancangan membentuk negara federasi Israel Palestina Yordania.
Sementara AS mendukung rancangan dalam resolusi DK PBB tahun 1947 yang hendak menjadikan negara Palestina dibagi dua negara yang terpisah dari dan berdaulat, yakni negara Yahudi-Israel dan negara Palestina. Demi kepentingan politiknya di Timur Tengah AS menjadikan Israel sebagai anak angkatnya yang sangat dimanja dengan bantuan politik militer dan keuangan Israel tampak tumbuh dan berkembang begitu cepat sebagai satu kekuatan yang tangguh di Timur Tengah.
Krisis Palestina dan Timur Tengah pun berkepanjangan. Untuk memantapkan hegemoni dan dominasi politik di Timur Tengah setelah mendapatkan kemenangan yang gemilang dalam Perang Teluk. AS buru-buru membuat perdamaian PLO-Israel di Washington 1993, yaitu semakin menampakkan betapa congkaknya AS yang merasa sudah menguasai wilayah Timur Tengah, sekaligus menunjukkan betapa AS adalah bapak angkat Israel yang sangat menyayangi dan melindungi anak-anaknya. Tak peduli meskipun anaknya adalah perampok bahkan pembunuh kasar.
Begitulah sejarah yang menampilkan hubungan antara AS dan Israel. Hubungan antara bapak dan anak angkat ini telah mengakibatkan Palestina dijadikan bulan-bulanan oleh keduanya.
Jalan Perjuangan Menuju Pembebasan Palestina
Krisis Palestina mengemuka, awalnya terjadi karena keruntuhan perisai (junnah), yakni Khilafah Ustmani pada tahun 1924. Inilah yang membuka jalan bagi terpecahnya negeri-negeri muslim dan terampasnya Palestina. Dari tangan Inggris beralih ke tangan AS.
Israel sejatinya hanyalah anjing penjaga kepentingan AS di wilayah Timur Tengah. Celakanya, penguasa-penguasa muslim justru turut memperkokoh keberadaan Zion*s Israel. Para penguasa itu menjalin normalisasi dengan entitas Yahudi Israel, membungkam suara umat yang membela Palestina, serta enggan mengirimkan kekuatan militernya untuk membebaskan Palestina.
Sungguh pengkhianatan rezim membuat luka warga Palestina semakin tersayat lebih dalam. Tentu ini kontras dengan meningkatnya kesadaran umat Islam termasuk generasi mudanya yang kian menentang kejahatan Zion*s.
Oleh karena itu, tidak ada jalan untuk membebaskan Palestina kecuali hanya melalui tegaknya Khilafah. Sejarah membuktikan hanya institusi inilah yang mampu menghadirkan kekuatan politik dan militer melalui jihad yang nyata. Inilah jalan perjuangan sejati pembebasan Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya yang tertindas. Perjuangan penegakan Khilafah menjadi kewajiban bagi seluruh umat Islam termasuk para pemuda.
Rasulullah saw. telah memberikan contoh nyata yang terungkap dalam gambaran sejarah. Step demi step dilakukan Rasulullah dalam mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat Islam. Proses ini tidak dapat dilepaskan dari peran pemuda. Pemuda bukan hanya pelengkap, tapi berada di garda depan dalam perjuangan penegakan Khilafah.
Sejarah peradaban Islam mencatat bahwa perubahan besar yang dilakukan Rasulullah saw. dalam mengubah masyarakat jahiliah menuju masyarakat Islam tidak pernah lepas dari peran pemuda. Para pemuda bukan sekadar pelengkap dalam perjalanan dakwah, melainkan garda terdepan yang berani, penuh energi, dan siap mengorbankan jiwa serta raga demi tegaknya Khilafah. Penegakan Khilafah harus melalui gerakan politik sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw.
Rasulullah melakukan dakwa pemikiran dalam rangka membina umat. Hal ini dilakukan secara dan komunal. Berusaha melakukan interaksi dengan masyarakat agar dakwah bersinergi dengan pemikiran umat. Pada akhirnya bersama umat upaya penegakan Khilafah dilakukan.
Semua ini dilakukan dalam rangka untuk memenuhi panggilan atas firman Allah Swt. :
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya :
"Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran [3]: 104).
Ayat inilah mengharuskan adanya jamaah sebagai wadah dalam penegakan Khilafah. Sehingga terkoordinasi menuju arah kemenangan.
Saat Khilafah tegak, khalifahlah yang akan mengorganisasikan pelaksanaan jihad membebaskan Palestina. Jihad inilah yang akan meruntuhkan kesombongan Zion*s. Sudah tidak terhitung perundingan damai dilakukan, mulai dari Camp David, Oslo, Madrid, dan lainnya, hasilnya nihil. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk mengusir Zion*s adalah dengan jihad. Dengan potensi tentara dan persenjataan yang dimiliki umat Islam sedunia yang disatukan oleh Khilafah tidak sulit membebaskan Palestina dan mengusir Zion*s Yahudi laknatullah.
Wallahualam bissawab

Komentar
Posting Komentar