Skandal Epstein Files, Produk Sistem Kapitalis yang Terbongkar
OPINI
Oleh Yuli Ummu Raihan
Muslimah Peduli Generasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI-Dunia dihebohkan dengan kasus Jeffrey Epstein yang telah meninggal dunia pada tahun 2019 lalu setelah Kementerian Hukum Amerika Serikat merilis jutaan dokumen terkait dirinya pada 30 Januari 2026 lalu. Dokumen ini merupakan yang terbesar yang pernah dipublikasikan pemerintahan Amerika sejak disahkannya Undang-undang tentang transparansi. Ada tiga juta halaman dengan 180.000 foto dan 2.000 video yang menyeret nama sejumlah elit global seperti Donald Trump, Elon Musk, Mantan Pangeran Kerajaan Bersatu Andrew Mountbatten-Windsor. Sementara pencarian dengan kata kunci Indonesia dalam katalog dokumen tersebut ada 902 berkah yang memuat sejumlah publik figur, pejabat dan pengusaha Indonesia. Namun di Indonesia sendiri tidak begitu menjadi polemik. (BBC News, 3/2/2026)
Menurut Dosen Ilmu Pidana Universitas Gadjah Mada, Muhamad Fatahillah Akbar, keberadaan nama-nama orang Indonesia itu tidak serta merta menunjukkan mereka terlibat kejahatan.
Kasus Epstein ini bermula dari laporan -laporan awal tentang dugaan eksploitasi seksual anak di bawah umur pada tahun 2000-an, kemudian pada Maret 2005, Kepolisian Palm Beach mulai menyelidiki laporan bahwa ada anak berusia 14 tahun yang dibayar untuk pijat telanjang. Penyelidikan berlanjut hingga Juli 2006 Epstein didakwa dengan tuduhan meminta jasa prostitusi. Juli 2009 Epstein bebas, namun harus menghadapi sejumlah gugatan perdata dari para korban.
Pada November 2018 perhatian publik mulai intens setelah The Miami Herald menerbitkan investigasi yang mengungkap kegagalan aparat penegak hukum dalam menangani perkara tersebut. Pada Juli 2019, Epstein ditangkap dengan dakwaan perdagangan seks anak serta konspirasi, namun 10 Agustus 2019 kasusnya terhenti karena Epstein ditemukan meninggal yang diduga karena bunuh diri. Publik menuntut agar arsip dan dokumen Epstein dibuka dan kemudian berkembang menjadi polemik politik nasional ketika pembukaan dokumen berlangsung pada masa pemerintahan Donald Trump periode kedua.
Trump diduga memiliki relasi sosial dengan Epstein pada 1900-an hingga awal 2000-an. Trump pernah mengatakan pada Juni 2024 akan membuka Epstein File, Namun pada 7 Juli 2025, Departemen Kehakiman AS merilis memo yang menyatakan tidak ditemukan daftar klien Epstein dan tidak diperlukan pengungkapan lanjutan.
Pernyataan ini memicu kritik keras dari anggota Kongres lintas partai dan kelompok korban. Tekanan politik ini berujung pada dirilisnya ratusan ribu dokumen Epstein yang mayoritas di sensor.
Akhirnya publik dapat melihat transkrip deposisi, surel, dan dokumen hukum lainnya yang menguak bagaimana jaringan perdagangan seks dan kejahatan dan penyimpangan yang dilakukan oleh Jeffrey Epstein. Dokumen ini menelanjangi gaya hidup yang terjadi di kalangan elit global. Bagaimana kekayaan dan kekuasaan sering kali menjadi tameng untuk menutupi kejahatan moral. Menguak potret asli kehidupan hari ini.
Imam Besar Front Persaudaraan Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab menyoroti dugaan praktik penjebakan terhadap sejumlah politisi dunia melalui skandal seks yang direkam secara tersembunyi untuk pemerasan politik. Hal ini bisa dimanfaatkan sebagai cara licik untuk menekan kebijakan politik suatu negara.(Suara Islam, 11/2/2026)
Kasus Epstein ini membuat kehebohan dunia, tapi sampai saat ini tidak ada proses hukum atau semacamnya terhadap orang-orang yang namanya disebut dalam.dokumen tersebut. Reputasi sosial dalam filantropi menjadi tameng dan lebih berpengaruh sehingga lolos dari hukum, apalagi jika melibatkan tokoh sulit untuk diproses hukum. Apalagi kalau korbannya dari kalangan bawah yang lemah, suara mereka sulit terdengar. Negara juga tidak bisa menindak karena akan menimbulkan efek domino, dan kehancuran.
Semua ini menjadi bukti bahwa sistem kapitalis yang diterapkan hampir di seluruh dunia hari ini adalah lahan subur untuk tumbuhnya kejahatan, kemaksiatan dan kerusakan moral. Manusia merasa ada kepuasan tersendiri ketika melakukan kemaksiatan, mereka merasa bosan dengan kehidupan yang normal-normal saja sehingga menciptakan fantasi sendiri terutama dalam memenuhi naluri dan kebutuhan jasmani. Adanya budaya satanik juga menjadi sebuah kewajaran karena agama hanya sekadar healing spiritual.Budaya hidup hedonis terus dipropagandakan. Hukum tumpul ke atas dan sangat tajam ke bawah. Bagaimana bisa kasus sebesar ini tidak bisa disentuh hukum selama bertahun-tahun. Pada akhirnya keadilan kembali dikorbankan demi menjaga kedamaian global. Ini akibat manusia memisahkan agama dari kehidupan, mengutamakan hawa nafsu dan ambisi kekuasaan.
Ingatlah firman Allah Swt. dalam QS. Al-Mu'minun ayat 71 yang artinya:
"Dan jika kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi serta segala yang ada di dalamnya."
Sistem sekuler kapitalis menjadikan manusia penentu nilai, dan ini konsekuensi logis dari disingkirkannya hukum Allah. Kejahatan elit terus berulang, keadilan dikalahkan oleh kekuasaan. Namun kita tidak boleh berputus asa apalagi pesimis mengahadapi kehidupan ini. Kita harus yakin bahwa bagaimanapun buruknya sistem hari ini, betapa banyaknya kejahatan dan kemaksiatan yang terjadi hari ini, dan betapa beratnya perjuangan di jalan kebenaran, Allah pasti akan selalu membantu kita.
Allah menjelaskan dalam QS. As-Shaff ayat 8 yang artinya: "Mereka ingin memadamkan cahaya Allah (kebenaran) tapi Alah terus menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu membencinya."
Kasus Epstein ini memperlihatkan bahwa bagaimana pun upaya mereka berupaya menjelekkan Islam dan pemeluknya dengan berbagai tuduhan dan makar, hari ini justru menampar wajah mereka sendiri. Keadilan, perdamaian dan slogan indah yang mereka janjian hanya isapan jempol belaka.
Hal ini membuktikan bahwa inilah potret asli produk sistem kapitalis yang kini terbongkar. Sistem yang sudah seharusnya kita campakkan dan berjuang bersama untuk penerapan sistem Islam secara kafah. Islam hadir dengan seperangkat aturan yang sempurna untuk kehidupan manusia yang menjamin terwujudnya keadilan, perdamaian dan kesejahteraan. Hanya Islam yang mampu menyelesaikan segala problematika kehidupan manusia, bukan yang lain.
Wallahua'lam bishawab.

Komentar
Posting Komentar