Topeng Perdamaian Dibalik Dewan Perdamaian
OPINI
Oleh Tri Sundari, A.Ks
Pegiat literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org-"Kamu tidak perlu menjadi muslim untuk membela Palestina, cukup menjadi manusia." Kutipan kalimat empati yang memiliki arti mendalam, yang pernah diucapkan oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, maupun Ustaz Abdul Somad (UAS) sejatinya dapat mengetuk hati setiap manusia akan derita rakyat Palestina.
Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) baru saja ditandatangani oleh beberapa kepala negara hari Kamis (22/01) lalu. Zionis Israel merupakan salah satu yang menyetujui dan turut bergabung dalam organisasi tersebut. Tujuan pembentukan BoP (Board of Peace) mencakup menghentikan penderitaan kemanusiaan, memastikan proses perdamaian sesuai hukum internasional/resolusi PBB, dan mendorong solusi dua negara (two-state solution) di Palestina. Seharusnya penandatanganan BoP (Board of Peace) bukan hanya sekadar seremoni belaka, akan tetapi dapat segera diwujudkan sesuai tujuan organisasi tersebut.
Faktanya meskipun menyetujui gencatan senjata dan bergabung dalam BoP (Board of Peace), akan tetapi pada kenyataannya Zionis Israel masih melakukan serangan ke Gaza, Palestina. Zionis Israel tetap melakukan penyerangan dengan berbagai alasannya. Apakah BoP (Board of Peace) dapat meredam ambisi Zionis Israel?
Zionis Israel tidak pernah memegang teguh kesepakatan. Berkali-kali mengadakan gencatan senjata dan melakukan perjanjian damai, akan tetapi berkali-kali pula mengkhianatinya.
Hal ini membuktikan bahwa pelanggaran terhadap gencatan senjata selalu berulang dilakukan oleh Zionis Israel. Namun seolah semua negara tidak berdaya, dan menganggap bahwa tindakan yang dilakukan Zionis Israel bukan merupakan kejahatan serius, terbukti hingga saat ini Zionis Israel tidak pernah mendapatkan sanksi apapun.
Pada Rabu (4/01) Zionis Israel kembali melakukan serangan udara dan tembakan tank di Jalur Gaza. Akibat serangan tersebut, dilaporkan sedikitnya 21 orang tewas, dari total korban tersebut, enam di antaranya adalah anak-anak. Pada hari Jumat (6/2) Zionis Israel juga melakukan serangan rudal yang menghantam sebuah bangunan di Khan Younis, Palestina. Serangan tersebut mengenai sebuah rumah yang berada di sebrang sekolah yang dijadikan lokasi pengungsian. Dilaporkan tidak ada korban jiwa pada peristiwa tersebut. Menurut militer Israel, serangan tersebut merupakan tanggapan terhadap pelanggaran kesepakatan gencatan senjata oleh Hamas.(Kompas.com, 7/02/2026)
Sebagaimana kita ketahui bahwa sebelum gencatan senjata, Zionis Israel sudah melancarkan agresi ke Gaza sejak Oktober tahun 2023. Dalam serangan tersebut, sebanyak lebih dari 70.000 warga Palestina syahid di tangan Zionis, sementara itu jutaan orang dipaksa untuk mengungsi, meninggalkan harta bendanya dan tempat tinggal yang telah luluh lantak. (CNNIndonesia.com, 5/02/2026)
Janji Dewan Perdamaian yang naif
Di tengah derita rakyat Gaza, Israel sudah kehilangan hati nuraninya sebagai manusia, dengan melakukan pembunuhan yang targetnya adalah warga sipil bahkan orang tua serta bayi dan balita. Sementara itu dunia terlalu naif dan percaya terhadap janji-janji manis, dengan menawarkan untuk melakukan gencatan senjata dan pembentukan BoP (Board of Peace) yang merupakan inisiatif Amerika Serikat.
Bagaimana bisa BoP menjamin kedaulatan Palestina, sementara dalam perencanaannya tidak melibatkan rakyat Palestina. Bahkan setelah penandatanganan piagam Board of Peace (BoP), Zionis Israel melakukan serangan terhadap rakyat sipil Gaza.
Pada dasarnya, gencatan senjata yang ditawarkan dan pembentukan Board of Peace (BoP) hanyalah sandiwara Amerika Serikat dan Israel saja. Mereka sebenarnya ingin melanggengkan penjajahan di tanah Palestina. Mereka menginginkan tanah Palestina menjadi miliknya, sehingga melakukan perbuatan keji dengan melakukan pembantaian terhadap rakyat Palestina yang tidak berdosa.
Sejatinya, dunia terutama kaum muslim tidak cukup menyuarakan kecaman atau mengutuk keras atas serangan Zionis Israel. Akan tetapi perlunya tindakan nyata dari para pemimpin negeri-negeri muslim. Para pemimpin negeri-negeri muslim harus bersatu untuk membantu rakyat Palestina, karena yang dibutuhkan rakyat Palestina adalah tentara untuk memerdekakan Palestina.
Kaum muslim perlu bersatu untuk menolong rakyat Palestina. Firman Allah Swt., "Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Baitulmaqdis) yang telah Allah tentukan bagimu dan janganlah berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang-orang yang rugi.” (TQS Al-Ma'idah [5]: 21)
Syariat Islam solusi bagi Palestina
Penandatanganan Board of Peace (BoP) pada dasarnya merupakan pengkhianatan para pemimpin negeri muslim terhadap rakyat Palestina. Penguasa negeri-negeri muslim tidak punya nyali yang besar untuk melawan negara penjajah sekelas Amerika Serikat-Israel.
Para penguasa tersebut berlindung di bawah alasan demi menjaga keamanan kawasan dan mencegah perang semakin meluas. Padahal dengan bungkamnya para penguasa muslim tersebut membuat Amerika Serikat dan antek-anteknya semakin berani untuk menindas kaum muslim.
Kaum muslim umumnya, maupun para penguasa pada khususnya harus bertindak tegas. Tidak memberikan toleransi terhadap narasi gencatan senjata maupun perdamaian melalui pembentukan BoP oleh Amerika Serikat maupun Israel, karena pada dasarnya mereka melakukan hal itu hanya untuk kepentingan mereka sendiri.
Kesatuan umat dalam politik dan kepemimpinan sangat dibutuhkan untuk melawan hegemoni penjajah kafir. Kaum muslim tidak boleh tunduk pada keinginan dan kepentingan negara kafir. Kaum muslim harus bersatu, tidak boleh dipisahkan oleh sekat-sekat nasionalisme.
Perlunya memahamkan umat dan penguasa negeri muslim, bahwa masalah Palestina hanya bisa diselesaikan melalui jihad, bukan perundingan yang suatu saat tetap akan dilanggar oleh Zionis Israel dan sekutunya. Perlunya penyatuan negeri-negeri muslim di bawah naungan Daulah Khilafah. Dengan tegaknya Daulah Khilafah, maka Khalifah akan menyerukan jihad untuk membebaskan Palestina, selain itu Khalifah akan melindungi kedaulatan suatu negara.
Wallahualam bisawwab.

Komentar
Posting Komentar