Yang "Scary" Bukanlah Marriage, tapi Hidup dalam Sistem Kapitalisme.
Dalam pandangan Islam, pernikahan dipandang sebagai rangkaian dari ibadah, bukan beban hidup. Islam tidak mengenal "marriage is scary", melainkan Islam hanya mengenal menikah itu ladangnya ibadah.
OPINI
Oleh: Lina Aliyah
Muslimahkaffahmedia.eu.org,Fenomena marriage is scary semakin terasa di kalangan anak muda hari ini. Bukan karena takut menikah, tapi karena realita tekanan ekonomi, banyak anak muda menilai kestabilan ekonomi itu lebih penting daripada segera menikah.
Kombinasi antara biaya hidup yang tinggi dengan gaji yang tak sebanding ditambah lonjakan harga kebutuhan, biaya hunian dan ketatnya persaingan kerja menjadi alasan utama anak muda untuk tidak menikah sehingga kestabilan ekonomilah yang diprioritaskan.
Tingginya angka perceraian, hingga konflik rumah tangga yang terus meningkat. Pada tahun 2023 saja, lebih dari 500 ribu pasangan bercerai 61,7% karena pertengkaran, menurut BKKBN. Media sosial pun turut memperbesar suara pengalaman pahit pernikahan. Di kalangan artis misalnya, banyak kasus retaknya rumah tangga karena perselingkuhan.
Menikah bukan soal takut atau tidak, melainkan seberapa siap mental, emosional, dan finansial yang mau kita jalani, tanpa tuntutan dari siapa pun. Sehingga narasi "marriage is scary" memperkuat ketakutan akan pernikahan ini semakin menguat.
Semua itu tak lepas dari adanya sistem kapitalisme yang membuat biaya hidup tinggi, pekerjaan sulit dan upah pekerja rendah. Media digital dalam sistem kapitalisme menjadi alat yang merusak generasi secara mental. Indonesia sedang menghadapi krisis yang secara perlahan merusak struktur generasi mudanya. Hal ini dilansir dari laporan digital 2025 Global Overview penggunaan ponsel untuk mengakses internet, yakni sebanyak 98,7% penduduk Indonesia berusia 16 tahun ke atas menggunakan ponsel untuk online, melampaui Filipina dan Afrika Selatan yang mencatat 98,5%. (cnbcindonesia.com, 29/11/2025).
Media digital yang mempertontonkan tayangan-tayangan kasus perselingkuhan, perceraian marak, kemiskinan akut tanpa disounding ke generasi bahwa adanya realita ini pada dasarnya bukan sesuatu yang menakutkan. Tayangan drama perfilman yang isinya juga tidak jauh dari perkara yang menambah-nambah ketakutan akan pernikahan dengan mudah diakses.
Kapitalisasi media digital sangat mempengaruhi kesehatan mental generasi, tidak dapat dipungkiri, bahwa sesuatu yang menghasilkan keuntungan besar akan terus diproduksi. Bagi mereka sesuatu yang menghasilkan cuan lebih besar, kenapa tidak?. Sudah sangat jelas dalam kapitalisme demi keuntungan perusahaan digital, masalah mental generasi diabaikan.
Indonesia hanya dijadikan pasar bagi platform digital tersebut. Negara tidak tegas terhadap perusahaan digital dan tidak memiliki komitmen untuk melindungi generasi muda, calon pemimpin masa depan. Digitalisasi seharusnya membawa manusia menuju kecerdasan. Namun di bawah pengaturan ideologi kapitalisme, ia menjerumuskan generasi muda pada pola hidup instan, konsumtif dan kehilangan makna pernikahan. Ketika layar menjadi guru utama, maka ideologi yang menguasai layar itulah yang akan berpeluang membentuk peradaban.
Khilafah Islam yakni sistem kepemimpinan umum dalam Islam memiliki visi misi mewujudkan generasi terbaik sekaligus pemimpin peradaban sehingga berkomitmen kuat terhadap kualitas muda. Dalam pandangan Islam, pernikahan dipandang sebagai rangkaian dari ibadah, bukan beban hidup. Islam tidak mengenal "marriage is scary", melainkan Islam hanya mengenal menikah itu ladangnya ibadah. Generasi yang mengemban aqidah Islam akan memahami bahwa dengan menikah akan terhindar dari kemaksiatan dunia, dengan menikah akan memudahkan ia mendapat pahala.
Dengan kuatnya aqidah Islam dalam diri generasi akan membentuk pemikiran cermerlang dan pemahaman menikah itu menyempurnakan setengah ibadahnya. Pernikahan adalah Sunnah Rasul yang menentramkan jiwa. Persepsi yang salah ini lahir karena generasi hidup dan bertumbuh dalam sistem yang menghilangkan aspek ruhiyah.
Jadikanlah pernikahan itu awal dari kebaikan, bukan awal dari beban hidup. Karenanya yang "scary" itu bukanlah "marriage". Tapi yang "scary" adalah hidup dalam sistem yang tidak memperdulikan jiwa manusia.
Terlebih lagi dalam Islam, mekanisme pernikahan adalah menjaga eksistensi keturunan manusia, memelihara kemuliaan manusia dengan segala fitrah naluriyahnya. Menikah dengan misi visi Islam akan terwujud sebuah keluarga yang memiliki peran mencetak generasi terbaik, yang kelak akan memimpin peradaban Islam cemerlang di masa depan.
Karenanya kehadiran negara dalam hal ini amat dibutuhkan, negara Islam tentunya akan hadir untuk memastikan setiap warganya tidak terhalang untuk membentuk sebuah keluarga. Dengan sistem pendidikan Islam negara mampu membentuk generasi yang siap menerima tanggung jawab berumah tangga, dengan menanamkan nilai akhlak, kedewasaan dan kesadaran pada anak bahwa ia kelak akan berkeluarga.
Dengan adanya sistem ekonomi yang diterapkan pula, negara mampu menjamin kesejahterakan rakyat, sehingga beban ekonomi tidak lagi menjadi penghalang utama bagi yang sudah berkeinginan menikah. Negara akan mendorong para laki-laki untuk bertanggung jawab dalam penafkahan keluarga dengan menyediakan lapangan pekerjaan.
Ketika ada perselisihan antar pasangan negara pun akan memberikan keadilan dengan diterapkan sistem sanksi Islam. Penerapan sistem Islam yang kaffaah akan memudahkan orang untuk menikah dan menjamin pernikahan itu menjadi jalan keberkahan, ketenangan dan keridhoan Allah Swt.
Wallahu'alam bishshawab.[]

Komentar
Posting Komentar