Gangguan Kejiwaan pada Anak, Butuh Solusi Sistemik


OPINI


Oleh Tinah Asri 

Aktivis Dakwah dan Pegiat Literasi 


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak. Ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah dalam mengatasi maraknya anak mengakhiri hidupnya akhir-akhir ini.


Dikutip dari kompas.com (07-03-2026), SKB tersebut ditandatangani oleh sembilan menteri terkait yaitu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( Menteri PPPA) Arifah Fauzi, Mendukbangga/ Kepala BKKBN Wihaji, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, Menteri Komunikasi dan Digital ( Menkomdigi) Muetya Hafid, serta Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Listyo Sigit Prabowo.


Dalam keterangannya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi mengatakan bahwa SKB ini sangat penting, sebab, isu terkait anak tidak bisa ditangani oleh satu kementerian saja. Dari hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2024 tercatat 7.28 persen anak mengalami masalah kejiwaan. 62.19 persen anak mengalami kekerasan fisik, emosional, dan seksual, yang berakibat pada terganggunya kesehatan jiwa anak.


Sementara itu, dari hasil skrining kesehatan pada anak menunjukkan bahwa pada usia 7-17 tahun 4.8 persen mengalami depresi dan 4.4 persen mengalami kecemasan.


Beberapa Faktor Penyebab Gangguan Jiwa Anak 


Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa dari sisi kesehatan, faktor utama penyebab gangguan kesehatan jiwa anak adalah konflik keluarga. Menurut data healing 119.id dan Komisi Perlindungan Anak, tercatat ada empat faktor penyebab gangguan jiwa pada anak yaitu: konflik keluarga sebanyak 24-46 persen, masalah psikologis 8-26 persen, perundungan 14-18 persen, dan tekanan akademik 7-16 persen.


Konflik keluarga. Keluarga adalah instrumen terkecil yang paling berperan dan berpengaruh dalam pembentukan kejiwaan anak. Sayangnya, tidak semua keluarga sadar akan tanggung jawab mereka untuk menghadirkan suasana kekeluargaan yang nyaman bagi anak. Ketika hubungan antara suami dan istri tidak harmonis alias cekcok, maka dampaknya akan dirasakan oleh anak. Anak akan kehilangan perlindungan dan keteladanan dari kedua orang tuanya. Situasi seperti ini yang akan menjadikan anak tertekan, depresi, putus asa, bahkan tak jarang timbul pikiran untuk mengakhiri hidupnya.


Kondisi keluarga yang tidak harmonis biasanya menjadikan orang tua tidak lagi fokus pada tumbuh kembang anak. Tidak sedikit anak yang tidak mendapatkan bekal agama, sehingga mereka tumbuh tanpa keyakinan bahwa Allah Swt. itu ada dan berputus asa dari pertolongan-Nya. 


Sementara itu, pendidikan agama juga tidak didapatkan dari sekolah. Sekolah dengan kurikulum sekulernya hanya mengarahkan anak untuk mengejar prestasi akademik, dibangun mindset pada anak bahwa sekolah hanya untuk bisa cari kerja. Anak tidak dididik untuk memiliki kemampuan menghadapi dan memecahkan persoalannya sendiri.


Faktor lingkungan pun ikut berperan dalam memunculkan gangguan kesehatan jiwa pada anak. Lingkungan dengan gaya hidup hedon bisa membuat anak tertekan ketika mereka tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi semua tuntutan. Gaya hidup seperti ini bisa mengundang perilaku bullying karena dianggap anak berbeda kelas, tidak level, tidak mampu flexing, dll. Bullying ini merupakan salah satu faktor pemicu gangguan jiwa pada anak.


Tak hanya itu, gangguan kesehatan jiwa pada anak juga dipicu oleh pengaruh media sosial. Ketika dunia informasi makin berkembang, anak dengan mudah mengakses konten-konten yang tidak mendidik. Tak sedikit anak yang menjadi korban perundungan di media sosial, penipuan berkedok cinta, dan lain-lain.


Butuh Solusi Sistemik


Dilihat dari faktor yang memengaruhi gangguan jiwa pada anak ini, maka bisa dipastikan bahwasanya masalah tersebut bukanlah masalah yang bisa dianggap remeh. Usaha pemerintah untuk mengatasi masalah ini patut kita apresiasi. Meskipun begitu, solusi yang digunakan tidak boleh tambal sulam, tetapi harus solusi sistematik yang menyentuh akar permasalahan, penyebab gangguan kesehatan anak ini terjadi. Maka solusi sistemik tersebut hanya bisa dilakukan oleh negara dengan seperangkat aturannya.


Namun demikian, perlu dipahami bahwa upaya membentengi anak pertama kali harus dilakukan di rumah, oleh keluarga. Karena keluarga adalah instrumen paling dasar untuk mencegah anak agar tidak melakukan tindakan yang dimurkai Allah Swt.. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan keluarga untuk membentengi anak agar terhindar dari gangguan kesehatan jiwa, yakni: 


Pertama, menguatkan akidah dan membentuk anak berkepribadian Islam, yakni pikiran serta perbuatannya berlandaskan syariat Islam. Memahamkan kepada anak bahwa setiap manusia itu akan diberikan cobaan oleh Allah Swt.. Cobaan ini sebagai bentuk kasih sayang Allah Swt. kepada hamba-Nya.

" Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang sabar." (QS Al-Baqarah (2): 155)


Kedua, memahamkan kepada anak bahwa setiap masalah pasti ada solusinya. Untuk itu, sedari kecil anak harus diajarkan tentang sabar dan mencari solusi sendiri di setiap permasalahannya. Karena dengan terus membantunya tidak akan mendidik anak untuk kreatif mencari solusi dalam memecahkan masalahnya.


Ketiga, berusaha untuk menjadi sahabat yang baik, meyakinkan anak bahwa orang tuanya adalah orang yang paling bisa dipercaya, siap mendampingi dan menerima anak apa adanya. Dengan begitu, setiap anak ada masalah dia akan mencari orang tuanya bukan curhat kepada orang lain atau di posting media sosial.


Keempat, mengontrol media sosial anak sesuai dengan tingkat kematangan usianya. Orang tua boleh memberi gawai kepada anak jika kematangan emosi dan kontrol sosial serta pemahaman agama sudah kuat.


Kelima, mengajarkan kepada anak untuk bisa menghadapi bullying. Meyakinkan bahwa Allah Swt. tidak memandang wajah, harta, kedudukan ataupun kecerdasan seseorang. Tetapi yang Allah Swt. lihat adalah ketakwaannya. Selain itu, orang tua juga harus peka terhadap perubahan yang terjadi pada anak. Jika anak sedih, cemas, menarik diri, menjadi pendiam, dll, jangan langsung mengintrogasi, tetapi meyakinkan bahwa orang tua selalu ada buat anaknya, siap mendengarkan keluh kesah, sambil mencari solusinya bersama-sama. 


Inilah upaya-upaya yang bisa dilakukan di rumah, dalam keluarga. Meski demikian, masalah gangguan kesehatan jiwa anak memang tidak bisa diselesaikan oleh individu atau keluarga saja, tetapi butuh dukungan dari negara. Caranya, negara harus menerapkan Islam secara sempurna. Hanya dengan sistem Islam solusi sistemik ini bisa didapatkan untuk kemudian diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan.


Wallahualam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan