Ketika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
OPINI
Oleh Arda Sya'roni
Pegiat Literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Ketika cinta bertepuk sebelah tangan, pilu hati dirasa tentunya. Wajar, karena cinta adalah fitrah manusia. Cinta adalah salah satu naluri alami yang melekat sejak manusia diciptakan.
Dalam Islam, seperti yang dikaji dalam kitab 'Nidhamul Islam' karya Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani disebutkan bahwa manusia diciptakan sekaligus dengan fitrah yang melekat pada dirinya berupa hajatul udwiyah (kebutuhan hidup) seperti, lapar, haus, mengantuk. Selain kebutuhan hidup terdapat pula naluri-naluri berupa, gharizah tadayyun (naluri beragama), gharizah baqa' (naluri mempertahankan diri), dan gharizah nau' (naluri berkasih sayang).
Meskipun perasaan ingin mencintai dan dicintai merupakan naluri yang melekat pada manusia, tetapi Allah telah memberikan aturan dan batasan agar naluri itu berada di jalur yang benar. Dengan aturan dan batasan itu maka cinta yang sebelumnya haram akan menjadi halal dan membawa keberkahan.
Namun, di akhir zaman ini pembuktian cinta banyak dilakukan di luar batas. Cinta seakan bukan hal tabu untuk dipertontonkan, bahkan sebagian dengan bangga memproklamirkan maksiat cinta di hadapan publik. Hal ini tentu saja mengundang khalayak ramai untuk mengikuti jejak serupa.
Alhasil, pergaulan bebas kini dinormalisasi. Pencampurbauran lelaki dan perempuan tanpa ada uzur yang jelas telah dianggap biasa. Dengan dalih pertemanan dan bersikap baik pada semua orang, menyebabkan pihak tertentu merasa diberi sebuah harapan. Maka cinta bertepuk sebelah tangan pun kerap terjadi. Ujung-ujungnya sakit hati. Bila cinta ditolak, goloklah yang kemudian bertindak. Naudzubillah.
Generasi Rusak di Akhir Zaman
Dikutip dari metrotvnews.com, 26-02-2026, Faradilla Ayu menjadi korban pembacokan di Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Kamis pagi, 26 Februari 2026 pukul 08.30 WIB. Korban merupakan mahasiswi Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Penganiayaan terhadap Faradilla dilakukan oleh mahasiswa berinisial RM pada saat korban hendak mengikuti seminar proposal. Peristiwa penganiayaan ini dilakukan di lantai dua Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Pakanbaru. Korban seketika dilarikan ke rumah sakit dengan luka di bagian kepala dan tangan.
Motif penganiayaan berawal dari cinta bertepuk sebelah tangan RM kepada korban. Keduanya bertemu saat KKN. Faradilla yang memang baik dan ramah ada semua orang telah ditafsirkan lain oleh RM sehingga bibit cinta tumbuh dan terus bersemi meski setelah KKN berakhir. Berkali-kali korban telah menyampaikan bahwa dirinya telah memiliki kekasih dan menganggap RM sebagai teman biasa. Namun, cinta RM membutakan hatinya hingga tega melukai korban.
Kapitalisme Biang Keladi Kerusakan
Demikianlah dampak dari sistem kapitalis sekuler yang diterapkan oleh negara. Perkembangan zaman saat ini makin hari makin rusak. Teknologi makin canggih, tetapi generasi makin rapuh. Pengetahuan makin berkembang, tetapi generasi makin kehilangan arah, emosi tak stabil dan bermental lemah. Saat ditimpa musibah atau dilanda masalah sedikit saja sudah lunglai tidak berdaya. Maka saat cinta bertepuk sebelah tangan, solusi praktis dilakukan tanpa pertimbangan kebenaran.
Atas nama kebebasan yang menjadi salah satu unsur yang diagungkan dalam kapitalisme sekularisme, menjadikan manusia bertindak sesuka hati. Bebas berpendapat, bebas memiliki, bebas bergaul, dan berbagai kebebasan lainnya. Dalam kapitalisme sekularisme agama disingkirkan di sudut ruang individu. Agama hanyalah sebuah privasi seputar ibadah ritual antara makhluk dengan Tuhannya.
Agama tak boleh dibawa dalam ranah kehidupan. Sebaliknya segala perbuatan berpijak pada manfaat dan keuntungan materi semata. Alhasil, lahirlah perilaku pemuda yang dekat dengan aktivitas kekerasan, pembunuhan, dan pergaulan bebas. Hal ini menunjukkan kegagalan sistem pendidikan sekuler dalam membentuk generasi berkepribadian mulia. Sekularisme telah membentuk standar kebebasan dan bertindak semaunya dalam diri generasi tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.
Sekularisme juga menjadikan adanya normalisasi nilai-nilai liberalisme, khususnya pergaulan bebas di tengah keluarga dan masyarakat. Hal ini berdampak besar dalam mengubah perilaku yang bertentangan dengan norma agama bahkan berujung pada kemaksiatan yang lebih besar. Fokus negara dalam kapitalisme tidak memprioritaskan pembinaan generasi yang bertakwa dan mulia.
Pendidikan dalam kapitalisme hanya mengacu pada nilai akademik, bukan pada ketakwaan generasi. Negara hanya menjadikan generasi sebagai aset yang menunjang faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada materi. Padahal generasi muda sejatinya adalah tonggak perubahan yang menentukan masa depan suatu bangsa.
Generasi Mulia Dengan Islam
Islam bukan hanya sekadar agama ritual berupa penyembahan Tuhan secara fisik, melainkan sebuah ideologi (mabda) yang mengharuskan pemeluknya untuk memahami makna penyembahan melalui proses berpikir mendalam. Sebagai sebuah ideologi, Islam tak hanya mengatur masalah ibadah ritual, melainkan mengatur di semua lini kehidupan manusia mulai dari ranah pribadi, sosial, pendidikan, ekonomi, kesehatan, juga politik. Sistem pendidikan dalam Islam dibangun di atas dasar akidah. Tujuan penanaman akidah ini adalah untuk membentuk kepribadian Islam dengan mengaplikasikan pola pikir ke dalam pola sikap yang sesuai nilai syariat.
Melalui sistem pendidikan Islam, generasi dididik untuk memiliki kesadaran untuk taat pada syariat, memahami hukum syarak, bertanggung jawab atas perbuatannya, bukan hanya fokus pada capaian akademik atau keterampilannya saja. Dalam Islam generasi dijaga oleh tiga pilar, yaitu pertama adalah keluarga yang mendidik dan memberi panutan ketakwaan, kedua adalah masyarakat saling mengingatkan dalam kebaikan, menentang kemaksiatan, sehingga tercipta suasana yang mendukung ketaatan dan menjauhkan dari perilaku menyimpang. Sedangkan yang ketiga adalah negara Khilafah yang menerapkan aturan dan sanksi sesuai hukum Islam untuk memberi efek jera dan menjaga keamanan serta kehormatan masyarakat.
Negara khilafah dengan syariat Islam sebagai landasan menjalankan kekuasaanya, juga mengatur interaksi masyarakat dengan sistem pergaulan dalam Islam. Sistem pergaulan Islam akan memisahkan interaksi lelaki dan perempuan untuk tidak bercampur baur kecuali pada perkara yang diperbolehkan oleh syariat. Dalam mewujudkan naluri nau' atau naluri berkasih sayang pun, Islam telah memberikan aturan dan batasan.
Islam tidak pernah melarang seseorang jatuh cinta, tetapi Islam mengaturnya agar cinta itu membawa kedamaian di hati. Bahkan saat tak dana untuk meminang pun, negara Islam akan memberikan sarana itu agar tak ada kemaksiatan terjadi karena cinta. Maka ketika cinta bertepuk sebelah tangan, tak akan lagi kegalauan karena keimanan yang menancap tajam serta aturan syariat yang difasilitasi negara.
Khatimah
Kerusakan generasi takkan bisa dipulihkan kembali tanpa adanya syariat Islam yang hadir dalam aturan negara. Generasi akan senantiasa kehilangan arah tujuan bila tak dibimbing dengan Islam. Generasi tidak akan memahami makna cinta sejati saar ruh Islam tidak membersamai dalam pola pikir dan pola sikap. Cinta hanya akan dimaknai sebagai pelampiasan hasrat alamiahnya. Padahal cinta tak hanya sebatas rasa, tetapi ada tanggung jawab dan ketulusan hati untuk saling mendukung dalam beribadah dan mengharap rida Allah semata.
Dari Abdullah bin Mas'ud RA, Nabi Muhammad saw. bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu para sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi'in), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi'ut tabi'in)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Generasi mulia hanya akan terlahir saat Islam diterapkan dalam kehidupan dan menjadi aturan negara. Khalifah sebagai pemimpin dalan negara Khilafah akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk meriayah generasi dengan syariat Islam. Dengan sistem pendidikan dan sistem pergaulan dalam Islam interaksi yang berkualitas dan bersyaksiyah Islam akan terwujud. Generasi emas dan masyarakat yang damai sejahtera pun akan terbentuk. Wallahualam bissawab

Komentar
Posting Komentar