Menelisik Penyerangan Iran oleh Israel dan Amerika Serikat
Oleh Yuli Ummu Raihan
Muslimah Peduli Generasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Iran menyita perhatian dunia setelah ledakan hebat mengguncang ibukota Teheran dan beberapa kota lainnya seperti Isfahan, Qom, dan Kirmansyah. Dalangnya adalah Amerika Serikat (AS) dan entitas Yahudi. Presiden AS Donald Trump dengan penuh arogan mengatakan telah melakukan operasi tempur skala besar di Iran. Ia juga mengklaim bahwa AS dan militernya adalah yang terkuat dan nomor satu di dunia sehingga tidak boleh ada negara mana pun yang menandinginya, salah satunya Iran yang dituduh memiliki senjata nuklir.
Menanggapi penyerangan ini, Menlu Iran Abbas Araqchi menyatakan negaranya akan menggunakan kemampuan militernya untuk membela diri.
Serangan pada Sabtu, 28 Februari 2026 masih terus berlangsung hingga Selasa, 10 Maret 2026. Perkembangan terkini menyebutkan beberapa fakta di antaranya, Iran tidak lagi berniat melakukan negosiasi dengan AS. Rudal-Drone masih serang Uni Emirat Arab (UEA), sementara itu UEA tidak ingin terlibat dalam konflik atau eskalasi. AS akan mencabut sanksi minyak karena gejolak pasar akibat kekhawatiran pasokan. Salah satu negara yang terkena sanksi adalah Rusia. Trump juga mengisyaratkan perang melawan Iran akan segera berakhir, sementara itu Iran mengatakan merekalah yang menentukan akhir perang bukan AS. (CNBCIndonesia.com, s10/3/2026).
Selama ini Iran beredar di orbit Amerika, Iran memberikan pelayanan-pelayanan dalam perang AS terhadap Irak, Afghanistan, dan di daerah lain kawasan tersebut. Selama itu AS tidak pernah mempermasalahkan isu rudal dan senjata nuklir yang dikembangkan Iran. Bahkan pada 2015 AS mengikat perjanjian dan mengizinkan Iran melakukan pengayaan (pemurnian) nuklir hingga batas tertentu. Masalah mulai ada ketika Trump berkuasa dan menginginkan Iran menjadi negara pengikut dan agen Amerika. AS ingin Iran tunduk dan melakukan semua apa yang diperintahkan AS.
Setelah terjadi Revolusi Iran, Khomeini naik dan mulai terjadi perbedaan pandangan dengan AS. Pada 22 Juni 2025, AS melakukan penyerangan terhadap fasilitas nuklir Iran dan Iran membalas dengan serangan simbolik terhadap pangkalan Al Udeid di Qatar. Kemudian terjadi gencatan senjata pada 24 Juni 2025 melalui platform Truth Social. Namun, di balik layar terjadi negosiasi di Muscat, Oman. AS memberikan penawaran menggoda pada Iran yang membuatnya berada di persimpangan. Batas waktu negosiasi berakhir tanpa ada kesepakatan dan Israel melakukan serangan pada 28 Februari 2026.
Selain karena program nuklir Iran, alasan AS dan Israel melakukan serangan adalah karena Iran memiliki milisi yang diduga memiliki keterkaitan dan ikut dalam jaringan milisi dengan negara lainnya. Mereka juga memperebutkan pengaruh geopolitik serta motif ekonomi karena Iran memiliki cadangan minyak yang besar.
Timur Tengah termasuk Iran, posisinya sangat strategis. Di sisi Utara berbatasan langsung dengan benua Eropa sedangkan di sisi kiri berbatasan dengan Benua Afrika, dan di sisi kanan berbatasan dengan Benua Asia. Ibarat kue, ia sangat menggiurkan sehingga menjadi rebutan banyak pihak, AS khawatir jika didahului oleh China dan Rusia.
Jadi intinya, AS dan Iran yang dulunya bestie dan saat ini hubungan mereka renggang, kemudian AS berusaha mengajak Iran kembali dekat dan tunduk pada AS. Jadi, serangan ini semacam terapi shock bagi Iran agar mau kembali, tetapi amat disayangkan AS kurang memperhitungkan kekuatan yang dimiliki Iran.
Dalam konflik ini, Trump berinfak sebagai agresor sekaligus mediator. Ia menggunakan strategi klasik " polisi baik dan polisi jahat" tetapi dalam skala global. Ketika nanti perang ini mereda, AS akan muncul sebagai satu-satunya kekuatan yang utuh dengan kendali penuh terhadap minyak, keamanan, dan diplomasi kawasan.
Sebagai seorang muslim, kita mendukung serangan balasan yang dilakukan Iran terhadap Israel. Setidaknya dia bisa mewakili apa yang tidak bisa kita lakukan sebagai pembelaan terhadap saudara-saudara kita di Palestina. Konflik ini juga menjadi bukti bahwa saat ini umat Islam terpecah belah dan masih cinta dunia. Sehingga rasa takut terhadap AS mengalahkan rasa takut kepada Allah SWT. Penguasa negeri muslim harus paham bahwa loyalitas terhadap kaum kafir adalah sebuah kehinaan di dunia dan diancam azab pedih di akhirat nanti. Allah Swt. berfirman dalam QS An-Nisa ayat 139: "Yaitu orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka hendak mencari keuntungan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan itu kepunyaan Allah."
Kita harus paham bahwa apa yang dilakukan dan dikatakan oleh orang kafir itu jahat, tetapi sejatinya apa yang ada di dalam hati mereka jauh lebih jahat. Jika negara kafir satu negara yang beredar di orbitnya atau agennya, maka negara kafir itu tidak menginginkan kebaikan untuk negara itu. Orang kafir itu menyembunyikan zkeburukan bahkan menampakannya secara nyata.
Umat Islam juga harus belajar dari sejarah bahwa berapa banyak agen yang telah digulingkan ketika orang kafir menilai mereka tidak lagi dibutuhkan. Ketika peran mereka dalam melayani kepentingan AS selesai.
Sungguh miris, ketika penguasa negeri muslim justru sangat loyal bahkan membuat mereka bisu, tuli, dan buta terhadap penderitaan saudara seiman mereka.
Sungguh, kemuliaan Islam hanya bisa terwujud ketika Daulah Islam kembali tegak. Sebuah institusi yang akan menghimpun kekuatan orang-orang muslim, dan memberikan komando jihad untuk melawan orang-orang kafir. Lihat saja, baru satu negara yakni Iran yang melakukan pembalasan terhadap Israel, nyatanya sudah membuat mereka ketar ketir. Apalagi jika semua negeri-negeri Islam bersatu di bawah satu komando kepemimpinan bernama Khilafah, maka yang terjadi hal yang luar biasa.
Dengan demikian, hanya khilafah yang akan menyelamatkan umat dan mengembalikan kemuliaan Islam sehingga negara kafir akan berpikir berulang kali untuk berurusan dengan negeri Islam.
Mari kita renungkan firman Allah Swt. dalam QS. Ali Imran ayat 111: " Mereka sekali-kali tidak dapat membuat mudarat kepada kamu, selain gangguan-gangguan celaan saja. Jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik arah melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan."
Muslim yang bersatu tidak bisa dikalahkan dan sudah seharusnya keloyalan kita hanyalah untuk Allah Swt. saja bukan yang lain.
Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar