Pemuda Pilar Peradaban
OPINI
Oleh : Arda Sya'roni
Pegiat literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Sebuah bangunan akan berdiri tegak karena adanya pilar penopang, tanpa pilar tentulah bangunan itu mudah roboh saat badai menerpa. Pilar yang tak kokoh pun akan mudah meruntuhkan bangunan. Begitu pula dengan suatu negara. Ibarat sebuah bangunan, negara juga membutuhkan pilar penopang yang kokoh dan tak mudah patah, dan pilar itu bernama generasi muda. Sebagaimana sang proklamator, Bapak Soekarno, pernah mengatakan dalam pidatonya, "Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia."
Selain itu sebuah pepatah Arab mengatakan, “Syubbanul yaum, rijalul ghad.” Adapun arti dari pepatah ini adalah bahwa pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan. Ada pula pepatah Arab yang mengatakan, "Sesungguhnya di tangan pemuda urusan suatu umat, dan di dalam kemajuan generasi muda terletak kehidupan suatu umat."
Dari apa yang dikatakan Bung Karno juga dari kedua pepatah Arab tersebut terbukti bahwa pemuda sebagai generasi penerus peradaban yang kelak menentukan akan dibawa kemana arah perjuangan suatu negara. Suatu negara yang kokoh dan tangguh tentunya membutuhkan generasi yang tangguh pula, bermental ksatria dan yang tak kalah penting adalah mampu berpikir cemerlang dan mempunyai jiwa ketakwaan yang tinggi. Namun, membentuk generasi yang demikian tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Generasi demikian haruslah dibentuk sejak awal kelahirannya, bahkan sejak sebelum bertemunya sel telur dengan sperma.
Dua Pilar Penghancur Negara
Jauh panggang dari api, itulah kiasan yang tepat untuk generasi muda saat ini. Jangankan untuk berjuang bertaruh nyawa, untuk berjuang menghadapi ujian sekolah saja tak mampu. Kualitas akademik pelajar dan mahasiswa saat ini bisa dibilang mencemaskan. Mental mereka bisa dibilang rapuh, mudah patah, daya berpikir pun tergolong rendah. Tak hanya itu kondisi fisik dan psikologi generasi muda saat ini cenderung lemah. Sudahlah mudah sakit, mudah pula depresi.
Dikutip dari cnbcindonesia.com, 09-03-2026, survey yang dilakukan oleh Global School-Based Student Health, persentase siswa yang pernah berniat bunuh diri meningkat dari 5,4% menjadi 8,5%. Persentase siswa yang telah mencoba bunuh diri meningkat dari 3,9% menjadi 10,7%. Lebih lanjut ditemukan 4,4% atau sekitar 338 ribu anak mengalami anxiety disorder (gangguan kecemasan), dan 4,8% atau sekitar 363 ribu anak mengalami gejala depresi. Sedangkan berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terdapat 115 kasus bunuh diri anak selama tahun 2023-2025 dan mayoritas korban berada di rentang usia 11-17 tahun.
Bila melihat fakta data di atas, seakan tak percaya, bagaimana bisa anak-anak di bawah umur tersebut terbersit rasa ingin mengakhiri hidup? Bukankah masa sekolah adalah masa paling indah? Fakta ini menunjukkan ada yang salah dengan sistem pendidikan saat ini. Dunia kesehatan juga tak kalah mencengangkan, selain banyaknya generasi yang mengalami mental health, banyak pula yang telah mengidap penyakit mematikan sejak dini seperti kanker, gagal ginjal, gagal jantung, diabetes, bahkan hingga HIV/AIDS.
Pendidikan dan kesehatan merupakan 2 pilar negara. Jadi untuk menghancurkan suatu negara tanpa perlu kekerasan, melainkan secara halus dsn perlahan adalah melalui pintu pendidikan dan kesehatan. Dengan melihat sistem pendidikan dan kondisi kesehatan generasi saat ini, menunjukkan bahwa perlahan negara membawa generasinya pada kehancuran, alih-alih kegemilangan.
Kapitalisme Sang Biang Keladi
Inilah dampak penerapan sistem kapitalis sekuler dalam kehidupan bernegara. Negara menjauhkan syariat agama dalam pengaturan. Sebaliknya melandaskan segala urusannya dengan pertimbangan materi dan manfaat.
Kapitalisme merupakan biang keladi penghancur negara. Kapitalisme dalam menghancurkan suatu negara tidak harus dengan nuklir, cukup dengan menurunkan kualitas pendidikan dan sistem kesehatan di negara tersebut. Kapitalisme sebagai sebuah ideologi akan senantiasa mendakwahkan ide pemikirannya, salah satunya adalah dengan melalui pemikiran.
Negara yang berpijak pada pemikiran kapitalisme hanya menjadikan sistem pendidikan sebagai pabrik pencetak pekerja, bukan pemimpin. Pembelajaran yang dirangkum dalam kurikulum pun akan dipenuhi oleh pemikiran kapitalisme yang berorientasi pada manfaat dan materi sehingga pembelajaran yang diberikan hanya berupa transfer ilmu. Anak didik bagaikan zombie yang hanya menyalin dan menghafal, tetapi tidak mampu berpikir mendalam dan cemerlang. Guru dianggap sebagai sebuah profesi belaka, bukan pendidik yang dijadikan teladan. Guru tak lagi dihormati, adab semakin hilang. Slogan menuju Indonesia emas justru melahirkan generasi cemas.
Begitu pula dengan sistem kesehatan. Berbagai masalah kesehatan bermunculan di kalangan remaja dan anak-anak, tak hanya berupa penyakit menular semisal Demam Berdarah Dengue, tetapi juga penyakit tidak menular yang umumnya diidap oleh orang lanjut usia seperti, gagal ginjal, diabetes, jantung, paru, hipertensi dan liver. Faktor pemicunya beragam, seperti makanan dan minuman cepat saji, kurang berolah raga atau masalah psikis. Semua faktor pemicu ini disebabkan oleh gaya hidup yang tak sehat.
Begitulah cara kapitalisme menghancurkan generasi muda tanpa disadari. Melalui fun, food dan fashion yang dikemas dengan dalih modernisasi, gaul, keren atau istilah lainnya. Dengan demikian generari akan mudah tergelincir terbawa arus, bahkan hingga meninggalkan akidah. Maka, kedua pilar itupun runtuh, pendidikan terabaikan, kesehatan pun perlahan menurun. Alhasil, negara kehilangan pilar penopang, yaitu generasi muda gemilang yang tangguh dan mampu berpikir cemerlang
Masa Kejayaan Islam
Islam menyadari betul bahwa pemuda adalah pilar utama suatu negara. Bahkan sejak awal Islam diturunkan pada Nabi Muhammad saw, golongan pertama yang masuk Islam (As-Sabiqun al-Awwalun) dan mempelajari Islam di rumah Al Arqam adalah para pemuda dan anak-anak dengan kisaran usia 8-25 tahun. Dari para pemuda inilah kutlah pertama terbentuk. Mereka dibina dengan pemahaman Islam secara intensif, tak hanya berupa transfer ilmu, tetapi juga melalui pendampingan dengan terus-menerus membersamai dan sekaligus memberikan teladan. Setelah 3 tahun pembinaan, mereka berinteraksi dengan masyarakat untuk mendakwahkan Islam hingga penyebaran Islam semakin meluas dan hingga berdirinya Daulah Islam oleh Rasulullah saw.
Kesehatan fisik dan mental juga sangat diperhatikan dalam Islam. Itulah mengapa berenang, berkuda dan memanah menjadi olah raga yang disunnahkan untuk ditekuni. Rasulullah saw. dan para nabi lainnya dulu berbadan kekar. Rasulullah saw. juga sering lomba lari dengan istrinya Aisyah ra.
Begitu pula dengan para sahabat dianjurkan untuk aktif bergerak. Bahkan sahabat Umar bin Khattab begitu tegas melarang berperut buncit. Hal ini karena dalam Islam, tubuh juga merupakan titipan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Jadi, menjaga kesehatan tubuh adalah kewajiban, dan merusak atau mengubah tubuh merupakan kezaliman.
Dalam Islam, kepemimpinan negara wajib menerapkan syariat Islam, termasuk sistem pendidikan dan kesehatan. Dalam sistem pendidikan, kurikulum yang diberlakukan adalah menanamkan akidah Islam terlebih dahulu sebelum ilmu pengetahuan lain. Pola pengajaran juga bukan sekadar transfer ilmu atau menghafal, melainkan dibina dan diberi teladan hingga tercapai pemahaman.
Dengan demikian ketakwaan akan melekat erat sejak dini. Pendidikan akan diberikan secara gratis sejak dasar hingga universitas sehingga setiap rakyat dapat mengenyam pendidikan. Tak hanya itu, sarana dan prasarana sekolah juga akan dipenuhi negara tanpa ada perbedaan antara wilayah satu dengan yang lain sehingga semua sekolah dan universitas mempunyai kualitas yang sama dan memadai. Gaji guru bisa dibilang fantastis dalam Daulah, karena guru adalah aset negara, pencetak generasi.
Sistem kesehatan dalam Islam juga akan menjadi perhatian negara. Kesehatan akan dilayani secara gratis tanpa memandang siapa. Para dokter dan tenaga kesehatan akan digaji dengan layak dan bekerja dengan sepenuh hati karena ketakwaan. Pengawasan makanan dan minuman halal dan toyib akan diperketat demi menjaga kesehatan rakyat.
Khatimah
Generasi tangguh dan gemilang mustahil terlahir dari sistem kapitalis sekuler. Generasi emas hanya akan terlahir dari sistem Islam. Dengan penguatan akidah sejak dini, didukung dengan pembinaan dan lingkungan masyarakat yang penuh ketaatan sebab aturan negara yang mengkondisikan pensuasanaan taat, serta tubuh sehat dan kuat, akan terlahir generasi tangguh dan gemilang.
Sebuah hadis menyebutkan, "Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya." (Hadis sahih Bukhari dan Muslim). Generasi yang dimaksud adalah sahabat (masa Nabi), kemudian tabi'in (generasi setelah sahabat), dan tabi'ut tabi'in (generasi setelah tabi'in).
Wallahualam bissawab

Komentar
Posting Komentar