Penyesatan Opini BoP Demi Kepentingan Palestina

 


OPINI 

Oleh Jasli La Jate Pegiat Literasi


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Kondisi Gaza saat ini masih sangat memprihatinkan. Keadaan Gaza tetap masih dalam kehancuran dan kelaparan. Ratusan ribu warga hidup di tenda pengungsian. Pendidikan untuk anak-anak terhenti. Tak heran, lembaga perdamaian BoP membuat rakyat skeptis. Warga membutuhkan aksi nyata bukan hanya janji semu perdamaian. Sementara itu, di Tepi Barat tindak kekerasan, pembunuhan, penembakan, dan penggusuran terus terjadi baik oleh tentara IDF maupun oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina. Salah satu korbannya adalah Mohammed Hanani (17). Ia tewas akibat luka parah setelah ditembak oleh tentara Israel pada Sabtu (21/2) malam waktu setempat di Kota Beit Furik, Nablus Timur, tanpa ada rincian lebih lanjut. Sejumlah saksi mata dan narasumber keamanan menuturkan, pasukan Israel menyerang kota itu pada Sabtu malam dan mulai menggeledah rumah-rumah warga. (antaranews.com, 23/2//2026)


Salah satu rencana penyelesaian konflik Gaza dengan pembentukan NCAG (National Committee for the Administration of Gaza) yang beranggotakan 15 teknokrat Gaza. Lembaga ini dibentuk dan diawasi oleh BoP. Di antara tujuan NCAG yakni akan mengawasi proses pelucutan senjata, mempertahankan satu hukum, satu rantai komando, serta mengintegrasikan atau membubarkan semua kelompok bersenjata. Hal ini dilakukan setelah melalui proses verifikasi yang ketat. (cnnindonesia.com, 20/2/2026)


Gaza Hancur, Dampak Penjajahan Israel

 

Krisis Gaza dan Tepi Barat bukan terjadi alamiah. Hancurnya Gaza, porak-porandanya sampai sekarang bukan terjadi tanpa sebab. Krisis yang terus terjadi akibat ulah Israel yang ratusan kali melanggar perjanjian damai. Pasalnya, di tengah gencatan senjata saja, Israel terus menyerang penduduk Gaza dengan alasan yang mengada-ada. Ditambah, tidak ada sanksi atau putusan hukum apapun atas pelanggaran mereka. Sehingga Israel terus membabi buta melakukan genosida terhadap penduduk Gaza. Maka tak heran, warga Palestina skeptis terhadap BoP buatan Trump, Presiden AS. Pasalnya, selama ini AS selalu berpihak pada Israel dalam setiap kebijakan politik, terutama politik dan militer. Bahkan AS menggunakan hak veto di lembaga perdamaian dunia seperti PBB untuk membela Israel. Maka, jelaslah posisi AS adalah sekutu Israel. Oleh karena itu, ketidakpercayaan warga Palestina terhadap BoP wajar adanya.  


Dari sini, sebenarnya AS (Trump) dan Israel akan menggunakan BoP untuk legitimasi pembersihan etnis, genosida, dan perampasan tanah Palestina secara legal. BoP buatan Trump memanfaatkan penguasa negeri muslim untuk melegitimasi dan mendukung rencana jahat AS dan Israel tersebut dalam mewujudkan New Gaza. Wacana New Gaza bukan hanya persoalan membangun Gaza secara fisik seperti membangun rumah untuk pemukiman dan gedung-gedung yang tinggi tetapi lebih pada penataan ulang sistem pemerintahan Gaza, keamanan, sosial, dan politiknya sesuai arahan AS. Bukan hanya itu, pelucutan senjata kelompok perlawanan atau demiliterisasi, pengawasan ketat aktivitas warga, dan restrukturisasi pemerintahan lokal adalah target mereka dalam jangka panjang.


Dengan demikian, pembentukan NCAG bukan mewakili kepentingan Palestina tetapi bagian dari BoP.  NCAG ditampilkan seolah-olah kebutuhan internal Gaza. Warga Gaza seakan diikutsertakan dan diwakili melalui persetujuan kolektif dan partisipasi luas. Padahal, posisi Palestina semakin dilemahkan. Mengingat kebijakan substansi yang mengarah kepada pelucutan kekuatan perlawanan, pengawasan ketat, dan pembatasan kedaulatan politik. Ini adalah upaya penyesatan Opini.


Palestina Damai di Bawah Naungan Islam


Perdamaian atas Palestina tidak akan tercapai selama Israel masih meduduki Palestina. Ketika Israel belum hengkang dari bumi Palestina dan berhenti melakukan genosida, segala bentuk janji perdamaian akan terus dikhianati. Tidak bisa melakukan janji perdamaian dengan Israel. Karena bagi Israel peradamaian hanyalah janji yang terus akan dilanggar. Kaum muslimin tidak boleh percaya, apalagi mendukung perdamaian dengan Israel. Sebab, mereka sangat memusuhi Islam. Allah Swt. telah memperingatkan tentang hal ini.


“Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (TQS. Al-Maidah: 82) 


AS dan Israel jelas negara kafir yang bersekutu untuk menguasai dunia dengan cara penjajahan politik, ekonomi maupun militer. Umat Islam haram untuk bergantung apalagi mendukung persekutuan dan solusi yang ditawarkan mereka. Mereka kaum yang suka berbuat kerusakan. Allah Swt. telah menegaskan dalam Al-Qur’an.


Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu (kikir).” Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu. Mereka dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan. Sebaliknya, kedua tangan-Nya terbuka (Maha Pemurah). Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki. (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu pasti akan menambah kedurhakaan dan kekufuran bagi kebanyakan mereka. Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari Kiamat. Setiap kali mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya. Mereka berusaha (menimbulkan) kerusakan di bumi. Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.  (TQS. Al Maidah: 64) 


Oleh karena itu, umat Islam harus sadar bahwa penjajahan dan kejahatan Israel dan sekutunya AS terhadap Palestina tidak bisa dihentikan dengan lembaga perdamaian apalagi diputihkan hanya dengan BoP yang merupakan buatan kafir penjajah. Umat harus bersatu melawan penjajahan Israel dan membebaskan Palestina. Firman Allah Swt.:


Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang mukmin.” (TQS. An-Nisa: 141) 


Bergantung kepada orang kafir seperti AS melalui lembaga buatannya untuk mendamaikan Gaza adalah hal yang mustahil dicapai. Pasalnya, Israel adalah sekutu AS. Sedangkan Israel pelaku utama yang melakukan pembantaian dan penjajahan di bumi Palestina. Maka, perdamaian sejati tidak akan terjadi. Perdamaian akan mengikuti arahan AS yang tentu tidak sejalan dengan kemauan warga Palestina. Lebih memprihatinkan lagi, penguasa negeri-negeri muslim malah terlibat dan mendukung lembaga perdamaian ini. Padahal umat harus melihat bahayanya, ketika para penguasa negeri-negeri muslim memilih bersekutu dengan BoP buatan AS (Trump) dimana Israel juga menjadi anggotanya. Maka, mereka hanya akan menjadi bahan pelengkap legitimasi penjajahan terhadap Palestina. 


Oleh karena itu, umat harus bangkit membangun kekuatan Islam global dengan bersatu secara mandiri, tanpa bayangan negara kafir penjajah. Kekuatan global yang akan membebaskan Palestina dari segala penindasan, pembunuhan, dan penjajahan. Umat harus menegakkan kembali Khilafah Rasyidah sebagai kepemimpinan tunggal global untuk melawan dominasi penjajahan AS dan Israel. Melalui seruan penerapan hukum Islam yakni  jihad fisabilillah, seluruh negeri-negeri kaum muslim akan dibebaskan dari cengkeraman para penjajah.


Wallahualam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan