Sikap Muslim Terhadap Perang AS-Zionis Melwan Iran Oleh Luluk
OPINI
Oleh Luluk Kiftiyah
Pegiat Literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Pecahnya konflik antara AS-Zionis melawan Iran telah menimbulkan pandangan dan pendapat yang terbelah di kalangan umat muslim sedunia, khususnya Indonesia. Perbedaan tersebut berkisar pada isu akidah, solidaritas politik, dan posisi Palestina. Dukungan berbasis solidaritas anti zionis sebagian muslim berpendapat Iran adalah kekuatan utama yang konsisten melawan penjajahan zionis di Palestina, terlepas perbedaan mahzab (Iran mayoritas Syiah).
Adanya perbedaan mahzab ini menjadikan muslim terkotak-kotak. Terutama di Indonesia yang menganut banyak mahzab, yang mana menimbulkan pro kontra terhadap sikap penguasa bergabung dengan Beach of Peace (BoP). 16 ormas Islam mendukung Indonesia bergabung dengan BoP, di antaranya adalah dua organisasi besar yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
Adapun beberapa ormas Islam lainnya yang diwakili oleh MUI, meminta Indonesia mundur dari keanggotaan BoP, karena menanggapi serangan AS-Zionis terhadap Iran pasca dibentuknya BoP. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar, benarkah BoP dibentuk untuk perdamaian yang adil? Atau justru memperkuat posisi AS-Zionis dan mengubur kemerdekaan Palestina? (mui.or.id, 01/03/2026)
Jika diamati, awalnya AS ini adalah mitra dengan Iran. Jadi hubungan keduanya bukan sekadar permusuhan abadi, melainkan rangakaian transaksi kepentingan timbal balik. Artinya, konflik ini meletus bukan hanya isu nuklir, tetapi ada "Proyek besar" Amerika telah matang dan peran Iran sebagai mitra taktis dianggap sudah kedaluwarsa.
Jadi polanya adalah mitra yang dikorbankan, seperti Osama bin Laden sebagai pejuang lawan Soviet berakhir menjadi musuh nomor satu, pejuang kurdi digunakan melawan Irak yang berakhir diabaikan oleh AS, dan Manuel Noriega seorang informan CIA berakhir diinvasi dan ditangkap.
Intinya, serangan dilakukan karena Trump menginginkan Iran tunduk sepenuhnya pada kehendak Amerika. Sebagaimana Arab Saudi menjadi negara pengikut yang berbicara dan bertindak sesuai dengan kepentingan Amerika. Namun sayangnya, Iran tak mudah disetir, sehingga membuat Trump naik pitam dan menyerang Iran.
Potensi Iran Ancaman Bagi AS
Iran memang berpotensi menjadi negara kuat, dengan teknologi nuklir yang Iran miliki maka tak heran jika AS takut tersaingi. Selain itu Iran tercatat sebagai pemilik cadangan minyak terbesar ketiga di dunia dengan 208,6 miliar barel, di bawah Venezuela dan Arab Saudi. Posisi Iran menempatkan sebagai aktor penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi global. Dari sini, Amerika merasa urgent untuk dapat menaklukkan negara Iran agar dapat menguasai teknologi nuklir dan minyaknya.
Ironinya penguasa negeri-negeri muslim tidak peka terhadap rencana jahat Amerika, sehingga Indonesia juga masuk ke dalam jebakan Trump. Indonesia tidak memahami bahaya loyal kepada kaum kafir. Dengan tanpa berpikir panjang, dipuji sedikit sudah luluh dan bergabung di BoP. Duduk bermesraan dengan penguasa bengis, membuat perjanjian yang sejatinya menuju kehinaan di dunia dan azab pedih di akhirat.
Padahal permusuhan Yahudi dan kaum musyrik, telah dijelaskan dalam firman-Nya,
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik". (Al-Maidah [5]: 82)
Dari peringatan Allah tersebut, seharusnya kaum muslim sadar bahwa serangan AS-Zionis terhadap Iran merupakan upaya Amerika menguatkan hegemoni global. Isu ini bukan lagi tentang akidah yang mempersoalkan Iran itu Sunni atau Syiah, melainkan menentukan posisi kita membela kepada yang benar. Posisi Iran adalah negara yang diserang, sama halnya dengan Palestina. Sehingga sah dan wajar jika mereka membelah diri dengan membalas serangan musuh, dan yang paling penting bahwa AS-Zionis adalah negara kafir harbi fi'lan yang haram menjalin hubungan apapun dengan mereka.
Sikap Muslim Terhadap Perang AS-Zionis Vs Iran
Maka seharusnya sikap muslim terhadap perang AS-Zionis melawan Iran ini seperti yang disampaikan oleh profesor Fahmi Amhar, yaitu:
1. Loyalitas muslim bersifat teologis, artinya seorang muslim harus setia dan tunduk patuh pada Allah dan Rasul-Nya, bukan tunduk pada negara atau rezim. Apalagi tunduk pada negara kafir harbi fi'lan. Masalah perang ini, kembalikan semua pada Al-Qur'an dan hadis, yang sudah dijelaskan seorang muslim haram hukumnya mendukung kafir harbi fi'lan.
2. Politik global berbasis kepentingan negara, artinya politik yang dilakukan Iran ataupun Barat bersifat pragmatis karena sama-sama bergerak atas dasar kepentingan nasional, bukan karena idealisme agama.
3. Menolak bersikap netral terhadap kezaliman. Seorang muslim tidak boleh bersikap netral terhadap kezaliman, juga bukan berarti harus memihak suatu negara. Hanya saja, sikap yang diambil adalah menilai tindakan, bukan mengultuskan aktor negara. Artinya, seorang muslim tidak lagi melihat Iran Syiah atau Sunni, tetapi melihat dari sudut pandang apa yang dilakukan oleh Iran terhadap AS-Zionis adalah bentuk perlawanan atas kezaliman.
4. Mengapresiasi tindakan Iran karena berani melakukan agresi, tanpa menjadikan negara tersebut sebagai representasi perjuangan Islam atau membenarkan seluruh kebijakannya. Seperti keberanian Iran terhadap AS-Zionis patut diapresiasi karena berani melawan kezaliman. Sikap Iran dalam melakukan peperangan juga beretika, tidak seperti yang AS-Zionis lakukan, karena target Iran bukan masyarakat sipil melainkan titik-titik urgent seperti pangkalan militer.
5. Bukan konflik Sunni-Syiah. Isu perang AS-Zionis melawan Iran bukan lagi terkait Sunni dan Syiah. Seharusnya umat tidak terjebak dalam narasi sempit berbasis nation-state. Umat harus cerdas membaca konflik. Inilah yang diharapkan oleh AS-Zionis, agar umat tetap terpecah, saling serang antara muslim yang satu dengan muslim yang lainnya.
Sebagaimana Allah Swt. berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ﴿١١٨﴾هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ ۚ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Allah terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya."
Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman,” dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Marilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (QS. Ali-Imran [3]: 118-119)
Oleh karena itu, sikap muslim dan terlebih pemimpin-pemimpin negeri muslim terhadap kafir harbi fi'lan adalah jelas tidak menjadikan mereka teman setia. Mereka wajib diperangi dan tentunya tetap berlaku adil (tidak menzalimi di luar konteks peperangan) dan melakukan peperangan dengan cara seperti yang Allah dan Rasulullah contohkan. Wahai para penolong-penolong agama Allah, tetapkan tujuan hidup hanya untuk Allah dan Islam saja, tiada yang lain. Hidup mulia atau mati syahid.
عِشْ كَرِيمًا أَوْ مُتْ شَهِيدًا
Wallahu alam bissawaab.

Komentar
Posting Komentar