Dua Labu Siam Menyisakan Duka Mendalam

 



OPINI 

Oleh Luluk Kiftiyah 

Pegiat Literasi


Taukah kamu, hidup dalam sistem kapitalis ini 

Demi sesuap nasi, seorang pria harus menerima pukulan bertubi-tubi 

Demi isi perut, kini tulang punggung telah pergi 

Inikah sistem yang katanya menjunjung tinggi hak asasi

Yang nyatanya mematikan hati nurani penduduk negeri


Inilah kisah pilu yang dialami oleh pria berinisial MI (56) warga Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, meninggal dunia usai dipukuli tetangganya. Ia dipukuli karena kepergok mengambil dua buah labu siam di kebun yang digarap oleh Ujang Ahmad (41). UA ditetapkan sebagai pelaku setelah kematian MI (korban) diduga karena luka pukul dari UA. Kejadian bermula saat pelaku mengejar korban sampai di depan rumahnya dan terjadi perdebatan hingga pelaku memukul korban diberbagai bagian tubuh. Mulai dari kepala, wajah, leher, sampai dada seraya mendesak korban untuk mengakui perbuatannya. Akibat pukulan itu, korban dilarikan ke RS dan selang dua hari, nahas ia meninggal dunia. (detik.com, 03/03/2026)


Sungguh miris, kisah pilu seorang pria miskin dengan pekerjaan serabutan yang pendapatannya sangat minim. Ia tak mampu memberikan makanan yang layak pada ibunya sehingga terpaksa mengambil labu siam milik tetangga untuk berbuka. Siapa sangka, akibat dua buah labu siam itu, nyawa menjadi taruhan. Labu yang ingin ia berikan pada ibunya yang lanjut usia untuk menu berbuka menjadi akhir dari ajalnya.


Beginilah nasib rakyat kecil di sistem demokrasi kapitalis. Memenuhi kebutuhan makan saja sangat susah. Bahkan, hanya untuk sesuap nasi dengan sayur labu tak mampu dibeli. Sedangkan di luar sana banyak pejabat dengan gaji fantastis berfoya-foya menikmati kehidupan dengan glamor. Tak jarang yang memiliki tas dengan harga ratusan juta, begitu juga dengan harga jam tangan yang di luar nalar, belum lagi fasilitas mobil dinas yang bikin ngiler menjadi saksi bisu kesenjangan yang begitu mencolok. 


Belum lagi sumber daya alam yang melimpah, meliputi tambang emas, nikel, batubara, minyak, dan masih banyak lagi sumber sumber daya alam yang kita miliki, yang seharusnya dapat dikelola dengan baik dan hasilnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. Sesuai dengan perwujudan amanah Pasal 33 Ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 di mana bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat. Namun, nyatanya ternyata tidak demikian. 


Hal ini menggambarkan buruknya kualitas dari sistem demokrasi kapitalis dan gagalnya sistem ini dalam mengelola sumber daya alam. Sistem menggilas yang lemah dan menjujung tinggi yang kaya. Tak heran jika yang miskin semakin miskin dan yang kaya semakin kaya. Si miskin akan dipandang sebelah mata. Bahkan nyawanya pun dianggap murah. 


Benarlah nyawa di sistem demokrasi kapitalis lebih murah dari nyawa hewan. Kebanyakan orang akan bersikap sewenang-wenang dan tanpa rasa iba terhadap si miskin. Bahkan, hanya karena mengambil dua buah labu siam untuk makanan berbuka saja, seseorang harus dihajar hingga babak belur dan meninggal dunia. 


Memang sudah tidak ada jaminan hidup ataupun jaminan kesejahteraan di dalam sistem demokrasi kapitalis. Rakyat harus berjuang hidup sendiri. Ibarat kata, siapa yang kuat ia yang bertahan hidup, dan siapa yang lemah maka ia yang mati. Artinya sistem demokrasi kapitalis sama halnya dengan pola hukum rimba, yang kuat yang bertahan. Hal ini terjadi karena pola hidup masyarakat sudah acuh. Rasa iba sudah terkikis dan sikap apatis mulai berkembang di lingkungan sekitar. Padahal sudah dijelaskan dalam hadis, terkait sikap abai kepada tetangganya. Sebagaimana Rasulullah saw., 


إِنَّ فُلَانَةَ تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا لَا خَيْرَ فِيهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ  قِيلَ: وَفُلَانَةَ تُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ، وَتَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ وَلَا تُؤْذِي أَحَدًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ 


“Sesungguhnya Fulanah banyak melakukan shalat, sedekah dan puasa. Hanya saja dia menyakiti tetangga dengan lisannya.’' Rasulullah saw. bersabda: "Ia tak punya kebaikan sama sekali. Dia termasuk ahli neraka.” Mereka bertanya lagi: Sesungguhnya Fulanah diceritakan sedikit melakukan puasa dan shalat. Tetapi dia bersedekah dengan beberapa potong keju dan tidak menyakiti tetangganya. Rasulullah saw. bersabda: "Dia di dalam surga." (HR. Abu Hurairah)


Dari sinilah kewajiban pemimpin untuk meri'ayah rakyatnya. Mereka digaji tinggi untuk memastikan kebutuhan rakyat tercukupi. Namun, nyatanya kasus kelaparan yang berujung mencuri selalu berulang, artinya negara abai terhadap kesejahteraan rakyat. 


Hal ini menggambarkan ada yang salah dengan sistem yang diterapkan, sehingga melahirkan pemimpin yang hilang empati. Melahirkan orang-orang yang berhati batu, dengan membiarkan dan menelantarkan rakyatnya kelaparan. Sikap apatis ini lahir dari sistem yang rusak, yakni demokrasi kapitalisme yang mana mengajarkan manusia untuk bersifat tamak dan segala sesuatu diukur dengan materi.


Oleh karena itu sudah waktunya mengganti sistem yang rusak ini dengan sistem yang hak yaitu Islam kafah. Islam memahami bahwa fitrah manusia itu terbatas, serba kurang, dan membutuhkan yang lain. Dengan kesadaran akan fitrah ini, maka mereka akan peka terhadap keadaan saudaranya. Dari sini sikap tolong menolong dan saling memberi akan muncul atas dorongan takwallah.


Selain itu, Islam menjunjung tinggi hak setiap individu untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Jadi setiap individu akan dijamin kebutuhannya, mulai dari kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan. Hal ini pernah dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab ketika musim paceklik (Tahun Al-Ramadah), beliau tidak mau makan daging atau mentega sampai seluruh rakyatnya bisa menikmati makanan yang sama. Beliau juga menegaskan bahwa seorang pemimpin adalah orang pertama yang harus merasakan lapar dan orang terakhir yang merasakan kenyang. Sebagaimana perkataan mashur Khalifah Umar bin Khattab yang terkenal, yaitu:


بِئْسَ الْوَالِي أَنَا إِنْ شَبِعْتُ وَجَاعَ رَعِيَّتِي


"Akulah seburuk-buruk kepala negara bila aku kenyang sementara rakyatku lapar."


Begitulah seharusnya sikap seorang pemimpin, benar-benar mengedepankan hak rakyat, bukan individu atau golongan saja. Sebab seorang pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya, sebagaimana hadis berikut,


 كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ


"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)


Namun, hanya dalam sistem Khilafahlah akan muncul pemimpin yang peduli akan kehidupan rakyatnya. Dia memimpin hanya untuk tujuan rida Allah Swt., bukan untuk materi ataupun tujuan dunia, apalagi untuk mendapatkan penilaian manusia. Melainkan, hidupnya didedikasikan hanya untuk ri'ayah su'unil ummah (mengurusi urusan umat) dengan tanpa pamrih. Wallahu alam bissawaab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?