Fenomena Tawuran Bermodus Perang Sarung
OPINI
Oleh Tri Sundari
Pegiat literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Di kalangan remaja, tengah marak terjadinya tawuran yang berkedok perang sarung. Hal ini seringkali dilakukan oleh para remaja pada dini hari hingga menjelang waktu sahur. Ironis, perbuatan yang tidak terpuji tapi dilakukan di bulan suci.
Jajaran Polsek Pamanukan, Polres Subang, menindaklanjuti laporan masyarakat terkait aksi perang sarung yang meresahkan di Jalan Pantura, Selasa (24/2/2026) dini hari. Kapolres Subang Dony Eko Wicaksono melalui Kapolsek Pamanukan Udin Awaludin menyatakan bahwa dari hasil penindakan yang dilakukan, sebanyak delapan pelaku perang sarung berhasil diamankan. Seiring proses pengembangan dan pendalaman yang dilakukan terhadap kasus tersebut oleh pihak kepolisian, ada kemungkinan jumlah tersebut masih akan bertambah.
Aksi perang sarung terjadi di jalur Pantura, tepatnya berada di depan Diskotik My Way. Akibat peristiwa tersebut arus lalu lintas sempat tersendat dan masyarakat merasa terganggu serta khawatir, sehingga kemudian viral di media sosial.
Aparat kepolisian kemudian turun tangan dan turut mengamankan barang bukti berupa sarung yang terlihat sudah dimodifikasi untuk tawuran. Polisi juga mengamankan alat komunikasi milik para pelaku yang diduga digunakan untuk berkoordinasi dengan sesama temannya sebelum melakukan aksi tawuran. (Kompas.com, 24/02/2026)
Aksi perang sarung antar remaja juga terjadi di wilayah Kabupaten Bekasi dan membuat warga sekitar resah. Tradisi yang identik dengan bulan Ramadan tersebut kemudian berubah menjadi tawuran yang berbahaya karena menggunakan kayu, bambu, hingga melakukan lemparan batu.
Aksi tawuran tersebut terjadi di Jalan Kiai Haji Ahmad Junaedi, Kampung Bogor Penggarutan, Desa Pusaka Rakyat, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, pada Minggu (22/2/2026) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB, menjelang waktu untuk melakukan ibadah sahur. Perang sarung yang awalnya hanya menggunakan selembar kain, akan tetapi kemudian berubah menjadi aksi saling serang dengan menggunakan benda-benda berbahaya. (Beritasatu.com, 24/02/2026)
Fenomena Tawuran di Bulan Ramadan
Bulan Ramadan merupakan bulan suci yang selalu dinanti oleh seluruh umat muslim. Di bulan ini setiap muslim berlomba-lomba untuk memperbaiki ibadahnya, agar mendapatkan banyak pahala. Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, "Barangsiapa beribadah (menghidupkan) bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu". (HR Bukhari dan Muslim)
Sayangnya, kesucian bulan Ramadan seringkali dinodai oleh perilaku yang tidak pantas dari para remaja. Waktu menjelang ibadah sahur biasanya digunakan para remaja untuk berkumpul di pinggir jalan. Mereka menanti teman-temannya untuk kemudian melakukan tindakan yang meresahkan. Mereka akan saling menyerang antara kelompok satu dengan lainnya, bahkan masalah kecil juga bisa berakhir tawuran.
Kasus tawuran yang terjadi di beberapa daerah dan dilakukan saat bulan Ramadan membuat khawatir para orang tua. Meskipun awalnya hanya sebagai ajang pencarian jati diri atau bersenang-senang, tetapi hal ini sangat merugikan dan meresahkan masyarakat sekitar, karena sudah membahayakan nyawa.
Perlunya Benteng Keimanan pada Remaja
Kurikulum pendidikan yang berdasarkan sistem sekuler kapitalis telah memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa sudah jarang yang memiliki pondasi keimanan yang baik.
Bulan Ramadan yang seharusnya dipergunakan untuk ibadah telah dijadikan ajang tawuran. Mereka merasa bangga ketika berhasil melukai lawannya. Remaja yang seharusnya memiliki rasa empati dan menyalurkan energinya untuk hal yang positif akan tetapi justru disalurkan pada kegiatan yang tidak berfaedah.
Dalam hal ini, peran serta orang tua diperlukan agar dapat mengarahkan energi maupun sumber daya dari para remaja kepada perbuatan yang menghasilkan manfaat untuk diri sendiri dan sekitarnya. Penanaman akidah Islam harus diberikan sejak dini, sehingga remaja tidak terjerumus pada kegiatan yang merugikan orang lain.
Kembali pada Aturan Islam
Bulan Ramadan merupakan bulan penuh berkah dan ampunan. Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, "Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah... di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang tidak mendapatkan kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang (dari kebaikan)." (HR. Ahmad)
Seharusnya para remaja bisa menggunakan waktu di bulan Ramadan untuk memakmurkan masjid. Banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan di masjid sehingga memperkokoh benteng keimanan pada generasi muda.
Perilaku yang kita lihat dari para generasi muda saat ini merupakan cerminan kegagalan dalam sistem pendidikan yang berdasarkan sosialis kapitas. Generasi muda saat ini cenderung hanya menuruti hawa nafsunya tanpa berpikir jauh akan dampaknya.
Perlunya peran negara untuk menerapkan aturan yang bisa memperbaiki mental dan perilaku para generasi muda. Sudah saatnya kita menerapkan sistem pendidikan Islam, yang menggunakan kurikulum Islam. Hal ini diperlukan agar terbentuk generasi yang memiliki kepribadian Islami, tentunya melalui pembinaan potensi akal, fisik, dan spiritual berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, sehingga diharapkan para remaja bisa menyeimbangkan antara ilmu duniawi dan ukhrawi.
Kurikulum Islam yang berdasarkan pada Al Qur'an dan Sunnah memiliki tujuan untuk membentuk generasi muda yang berakhlak mulia, bertakwa, dan memiliki kesadaran beragama yang kuat dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Peran para pendidiknya juga bukan hanya semata-mata untuk mengejar pencapaian target yang didasari oleh materi atau duniawi, tetapi para pendidik bertugas membina potensi manusia, menanamkan keimanan, dan menjadi teladan bagi peserta didiknya.
Hanya dengan penerapan syariah Islam secara kafah, potret buram generasi muda berubah menjadi generasi unggul yang memiliki kepribadian Islam. Saatnya umat muslim bersama-sama berjuang menegakkan Daulah Khilafah, agar moral generasi muda terjaga.
Wallahualam bisawab.

Komentar
Posting Komentar