Generasi Makin Sadis, Buah Penerapan Sistem Kapitalis
OPINI
Oleh Yuli Ummu Raihan
Muslimah Peduli Generasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI Sadis. Kata yang tepat untuk menggambarkan perbuatan seorang Pemuda bernama RM yang melakukan pembacokan terhadap seseorang mahasiswi berinisial FA di Kampus Universitas Syarif Kasim Riau pada Kamis 26 Februari 2026 pukul 08.30 WIB saat korban akan mengikuti seminar proposal.
Korban mengalami luka di bagian kepala dan tangan. Pelaku diamankan oleh petugas keamanan kampus dan diserahkan ke Polsek Bina Widya, Kota Pekanbaru. Sementara korban dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau. Polisi mengungkap kasus ini dilatarbelakangi motif hubungan pribadi antara korban dan pelaku. Dari beberapa sumber diketahui pelaku menyimpan perasaan kepada korban sejak mereka satu kelompok ketika mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Namun, ketika KKN berakhir sikap korban berubah sehingga pelaku merasa korban menjaga jarak dan menunjukkan sikap berbeda. (Metrotvnews.com, 26/2/2026)
Akibat perbuatannya pelaku diancam hukuman pidana penjara. Kemungkinan dikeluarkan dari kampus yang membuat orang tuanya kecewa dan malu. Akan mendapatkan sanksi sosial, kehilangan masa muda dan lebih sulit menghadapi masa depan. Saat ini, perilaku pemuda sangat dekat dengan aktivitas pergaulan bebas, kekerasan fisik dan verbal hingga pembunuhan.
Semua ini akibat sistem kapitalis yang diterapkan hari yang berasaskan sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) membentuk standar kebebasan dalam bertindak. Masyarakat cenderung menormalisasi nilai-nilai kebebasan khususnya pacaran pada generasi muda. Aktivitas pacaran dianggap sesuatu yang wajar dan fase yang memang harus dijalani generasi muda untuk menemukan pasangan hidup atau menyalurkan nalurinya. Bahkan seorang pemuda dianggap aneh jika tidak melakukannya.
Sayangnya rasa cinta yang merupakan naluri yang diberikan Allah Swt. tumbuh tanpa arah dan bersemi tanpa rida-Nya. Cemburunya tidak berpahala dan menghasilkan dosa. Cinta yang tidak dijaga dengan aturan Allah akan mudah berubah menjadi posesif yang akan memunculkan rasa cemburu dan bisa berubah menjadi amarah, kecewa hingga dendam.
Hari ini kita bisa melihat generasi muda hanya disibukkan oleh pergaulan yang salah. Dunia mereka seolah hanya tentang cinta dan cinta. Mereka akhirnya tidak mengetahui tujuan hidup, dan prioritas dalam perbuatannya. Sistem kapitalis memandang generasi sebagai faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada materi. Standar perbuatan tidak lagi pada halal dan haram atau rida Allah Swt..
Pendidikan hari ini juga fokus pada bagaimana setelah lulus bisa bekerja dan menghasilkan rupiah. Bukan bagaimana melahirkan generasi yang memiliki kepribadian yang baik dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kecanggihan teknologi tidak berbanding lurus dengan kemampuan manusia menyaring informasi.
Ia ibarat pisau bermata dua, di satu sisi bernilai positif karena memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia. Sedangkan di sisi lain bernilai negatif karena banyak memicu terjadinya kerusakan dan kemaksiatan. Media sosial hari ini telah menjadi kiblat generasi dalam melakukan aktivitas. Sementara generasi tidak memiliki kemampuan menyaring semua informasi itu dengan baik dan benar.
Masyarakat hari ini pun cenderung individual, mementingkan diri sendiri dan tidak lagi melakukan amar makruf nahi mungkar. Ditambah negara yang tidak memiliki kedaulatan untuk mencegah kerusakan generasi akibat media sosial, budaya asing, dan lainnya.
Berbeda dengan Islam yang merupakan ideologi yang berisi aturan dan solusi untuk semua permasalahan kehidupan. Islam memiliki sistem pendidikan yang dibangun atas dasar akidah yang bertujuan membentuk generasi berkepribadian Islam, yaitu pola pikir dan pola sikapnya sesuai aturan Islam.
Alhasil, generasi akan memiliki kesadaran untuk terikat dengan aturan Islam, beriman, dan bertakwa serta memiliki kemampuan beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan informasi. Mereka tidak akan mudah terbawa arus globalisasi dan terwarnai dengan pemikiran sekuler kapitalis.
Orientasi generasi muda tidak sekadar berfokus pada capaian materi semata. Setiap perbuatan bernilai ibadah sehingga akan terikat dengan aturan syariat termasuk dalam menyalurkan naluri (rasa cinta, cemburu, marah). Islam juga akan melahirkan masyarakat yang senantiasa melakukan amar makruf nahi mungkar, tidak menormalisasi kemaksiatan sekecil apa pun. Alhasil, akan tercipta suasana yang penuh ketaatan dan menjauhkan dari perilaku kekerasan dan kemaksiatan.
Negara juga harus hadir sebagai periayah rakyat dengan membuat kebijakan yang menjaga akidah umat, dan memastikan kehidupan berjalan sesuai aturan Islam. Semua itu dilakukan atas dasar rasa tanggung jawab kepada Allah Swt.. Rasulullah saw. bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Islam juga memiliki sistem pergaulan untuk menjaga dan mengatur interaksi antara perempuan dan laki-laki. Islam memiliki aturan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang dapat melanggar syariat seperti pergaulan bebas (pacaran). Dalam QS. Al-Isra' ayat 32 Allah berfirman: "Dan janganlah kamu mendekati zina, sungguh itu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."
Dalam QS. Al-A'raf ayat 33 Allah juga berfirman:
"Katakanlah, "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar..."
Islam juga memiliki sistem sanksi yang akan memberikan efek jera dan penebus dosa bagi pelakunya. Dengan seperangkat aturan ini insya Allah akan melahirkan dan menjaga generasi agar terhindar dari perbuatan sadis seperti kasus RM. Semua ini hanya dapat terwujud jika Islam diterapkan secara kafah dalam segala aspek kehidupan. Taat syariat membawa kebahagiaan dan melanggar syariat pasti akan membawa kemudaratan. Wallahua'lam bishawab.

Komentar
Posting Komentar