Putus Pertemanan Tega Bunuh Teman: Potret Generasi Sakit

  


OPINI 

Oleh Tinah Asri 

Aktivis Dakwah dan Pegiat Literasi 


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Kampung Gajah, eks destinasi wisata yang berada di Parongpong, Cihideung, Bandung Barat, kini mendadak viral di media sosial. Bukan karena bekas tempat wisata itu kembali dibuka, tetapi di tempat tersebut ditemukan jasad Zein Ahmad Abdul Qudus (14) salah satu siswa SMPN 26 Kota Bandung, setelah selama sepekan dinyatakan hilang oleh keluarganya. 


 Dikabarkan, Zein Ahmad Abdul Qudus (ZAAQ), menjadi korban pembunuhan sadis oleh temannya sendiri yakni YA(16) dan APM (17). Jasad korban pertama kali ditemukan oleh konten kreator "Tim Trobos Mitos" yang sedang melakukan live esksplor konten horor di bekas destinasi wisata tersebut. (TribunJabar.com, 17-02-2026)


Kapolres Cimahi, AKBP Niko N Adi Putra mengungkapkan bahwa motif perbuatan keji yang dilakukan oleh pelaku utama YA didasari rasa sakit hati karena Zein mengakhiri hubungan pertemanan dengannya. Zein dan YA sudah lama menjalin pertemanan, bahkan sejak kelas 5 SD di Banyuresmi Garut. 


Sementara itu, kakek Korban Undang (52) mengatakan cucunya selama ini hidup di bawah bayang-bayang ketakutan. Sejak kenal pelaku Zein sering dianiaya, diminta uang jajannya, dan dipukul sampai bengkak. Untuk itu, pihak keluarga sengaja memindahkan sekolahnya ke SMP di Bandung setelah lulus SD. 


Sekularis-Kapitalisme Menghancurkan Generasi 


Apa yang menimpa Zein seharusnya membuka mata dan pikiran kita, bahwa kondisi generasi muda di negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Peristiwa ini menggambarkan betapa generasi kita sedang sakit, rentan dan rapuh. Bagaimana tidak, usia muda yang seharusnya menjadi fase belajar tentang banyak hal, tentang bagaimana menemukan jati diri, potensi, dan makna kehidupan yang sesungguhnya, justru di penuhi konflik ekstrim hingga menjurus ke perundungan, kekerasa, perilaku menyimpang hingga pembunuhan. Biang kerok utamanya adalah sistem sekuler-kapitalistik yang diterapkan di negeri ini.


 Pendidikan yang memisahkan agama dari kehidupan jelas tidak akan mampu membentuk karakter anak didiknya menjadi pribadi yang bertakwa, takut dosa jika melanggar perintah Allah Ta'ala. Kurikulum pendidikan kapitalistik hanya berorientasi pada prestasi akademik. Sementara pendidikan terkait nilai-nilai luhur agama dikesampingkan -- kalau pun ada pendidikan agama --hanya sekedar syarat kelulusan saja.


Di sisi lain, generasi muda saat ini tidak bisa dilepaskan dari kekuatan gadget dan kemajuan teknologi. Di era semua serba cepat, teknologi makin canggih, dan media informasi pun berkembang pesat. Sayang, informasi yang ada didominasi oleh barat. Konten-konten yang ada berkiblat ke barat, sesuai dengan gaya hidup barat, seperti kekerasan, perundungan, bebas berekspresi, hingga perilaku menyimpang. Konten-konten sampah banyak berseliweran masuk ke dalam ranah-ranah privasi anak-anak kaum muslimin. Akibatnya, mereka lebih mudah terpengaruh dengan apa yang ditontonnya sekaligus berusaha untuk mengikutinya. 


Faktor lain penyebab kerapuhan generasi saat ini adalah minimnya keteladanan dan pembinaan keluarga. Keluarga dan lingkungan masyarakat memiliki andil besar dalam membentuk pola pikir, pola sikap, serta mental anak. Ketika komunikasi dengan orang tua renggang, teladan berkurang, anak kehilangan perlindungan. Sementara lingkungan di mana dia tumbuh terdapat banyak aktivitas melanggar syariat. Lingkungan seperti ini tidak bisa dijadikan contoh yang baik untuk generasi muda.



Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya peran negara. Masalah generasi dianggap sebagai masalah individu dan keluarga saja. Sanksi hukum yang ada pun sangat lemah dan tidak mampu memberikan efek jera bagi masyarakat. Dengan dalih pelaku masih di bawah umur membuat pelajar tidak lagi takut melakukan kejahatan bahkan berperilaku menyimpang.


Negara Islam Menjaga Generasi 


Perlu upaya untuk memperbaiki kondisi yang menimpa generasi muda, dan ini tidak bisa hanya dilakukan oleh personal saja, melainkan dibutuhkan sinergi antara keluarga, lingkungan dan peran negara. Solusi yang paling tepat hanya dengan diterapkannya Islam secara kafah dalam naungan Daulah. Islam adalah aturan/sistem yang diturunkan oleh Allah untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Islam memandang bahwa kehidupan manusia adalah amanah yang harus dijaga.

"Dan Jangalah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah, (membunuhnya) melainkan dengan suatu (alasan) yang benar." (QS al -Isra :33)


Negara Islam bertanggung jawab menyelesaikan berbagai problematika kehidupan termasuk problem yang menimpa generasi muda. Anak-anak muda adalah aset bangsa penerus peradaban dan pendobrak perubahan menuju masa depan cemerlang. Oleh karena itu, negara akan melindungi generasi muda, caranya, dengan menerapkan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam. Kurikulum pendidikan Islam akan mampu membentuk kepribadian Islam, yakni berpola pikir dan berpola sikap Islami


Negara Islam akan mengawasi dan mengatur media agar tidak menyebarkan konten-konten yang dapat merusak mental generasi muda. Media hanya dibolehkan memberitakan konten yang mendidik, mengajarkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta'ala. Negara juga akan menindak tegas siapa saja yang melanggarnya. Bukan hanya pada media, juga sanksi tegas bagi remaja yang melanggar syariat, dan melakukan kejahatan. Sanksi yang diberikan oleh negara Islam, selain sebagai penerus dosa juga mampu memberikan efek jera, sehingga tidak ada orang lain yang mengulangi perbuatan yang sama.


Wallahualam bissawab...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?