Ramadanku dan Ramadanmu
OPINI
Pegiat Literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Ramadan adalah bulan mulia, bulan yang penuh rahmat dan keberkahan. Ramadan merupakan salah satu dari empat bulan haram. Di mana segala amal baik atau buruk dilipatgandakan ganjarannya. Oleh sebab itu, kedatangan bulan Ramadan sangat dinantikan oleh umat Islam.
Namun, kini banyak kaum muslim yang kehilangan ruh Ramadan. Ramadan layaknya bulan lainnya, tak istimewa. Bahkan saat Ramadan pun maksiat tetap berjalan. Konon katanya Ramadan adalah momentum perubahan, tetapi faktanya tidak ada perubahan nyata baik pada individu, masyarakat maupun negara. Umat kehilangan makna Ramadan. Hal ini karena tsaqafah Islam mulai dijauhkan dari umat diganti dengan tsaqafah asing yang masif digencarkan dengan dalih modernisasi.
Ramadan dalam Kapitalisme
Dalam kapitalisme yang cenderung sekularisme, yaitu menjauhkan agama dari kehidupan menjadikan Ramadan tak beda dengan bulan lainnya. Saat ini umat hanya memahami Ramadan adalah bulan puasa dari makan dan minum saja. Kebanyakan umat Islam saat ini adalah mutabbik atau pengikut yang hanya tunduk pada sosok yang diagungkan tanpa berdasar pada dalil sahih.
Ironisnya, umat Islam yang awalnya adalah umat yang satu, kini tersekat dalam berbagai negara dan kelompok organisasi. Dalam sistem kapitalis, perbedaan ini makin terlihat jelas sebab kapitalisme tidak menjadikan syariat Islam sebagai pijakan pemerintahannya. Dikutip dari nasional.kompas.com, 11-01-2026 Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama (Kemenag) Thobib Al Asyhar mengatakan penetapan awal Ramadan 2026 antara pemerintah dengan Muhammadiyah diprediksi berbeda. Thobib menyebut dalam kalender Hijriah awal Ramadan 2026 jatuh pada 19 Februari. Meski begitu, pemerintah tetap menunggu pelaksanaan sidang isbat.
Penentuan awal Ramadan, Idulfitri dan Iduladha kerap mengalami perbedaan antara kelompok yang satu dengan yang lainnya. Tahun ini pun awal Ramadan mengalami perbedaan antara Muhammadiyah dengan rikyatul hisabnya dan pemerintah yang melakukan rukyatul hilal lokal. Bila dinalar dengan logika, bukankah bulan hanya satu? Bukankah Allah kita satu, Rasul kita sama dan kitab kita pun tak beda? Lantas, mengapa penentuan awal puasa berbeda?
Beginilah yang terjadi bila dunia dikuasai oleh sistem kapitalis. Umat bak buih di lautan, banyak tetapi tak meninggalkan jejak berarti. Umat Islam tersekat oleh batasan negara yang dengannya dipimpin oleh hak otonomi wilayah. Umat Islam tak bersatu dan tunduk dalam satu kepemimpinan, melainkan tunduk dengan kepemimpinan negaranya masing-masing.
Penentuan awal Ramadan pun ditentukan oleh otoritas negara masing-masing. Maka wajar bila terjadi perbedaan karena adanya keterbatasan pandangan akibat cuaca yang berbeda di tiap negara. Walaupun secara logika tak mungkin perbedaan waktu antarnegara hingga 24 jam selisihnya.
Perbedaan hilal ini jelas menampakkan bahwa umat Islam tidak bersatu saat ini. Pemikiran umat Islam telah ternodai oleh kapitalisme sekularisme sehingga menyebabkan umat tak tahu arah dalam melangkah. Umat kebingungan dengan perbedaan ini, tetapi tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana.
Ramadan dalam Daulah Islam
Dalam Islam, Ramadan adalah bulan mulia. Adapun perbedaan penentuan awal Ramadan sangat berpengaruh bagi amalan yang diterima Allah. Bila suatu wilayah telah bersaksi melihat hilal dan telah menentukan awal Ramadan, maka akan berdosalah muslim yang tidak berpuasa di hari itu. Demikian pula saat penentuan Idulfitri, bila suatu wilayah telah bersaksi melihat hilal dan bertakbir, maka haramlah berpuasa pada hari itu. Tentunya ini bukanlah perkara sepele yang mudah diabaikan. Perkara ini menyangkut pahala dan dosa seseorang.
"Berpuasalah kalian dengan melihat hilal dan berbukalah (mengakhiri puasa) dengan melihat hilal. Bila ia tidak tampak olehmu, maka sempurnakan hitungan Sya'ban menjadi 30 hari." (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh sebab itu, pemimpin dalam sistem Islam (khalifah) akan bertanggung jawab sepenuhnya dalam pelaksanaan ibadah Ramadan bagi rakyatnya. Khalifah akan menjalankan kepemimpinannya dengan pijakan syariat Islam. Sudah menjadi tugas dan tanggung jawab khalifah untuk menjaga akidah rakyatnya. Khalifah akan menganggap tugas dan tanggung jawab ini sebagai bentuk amanah yang diberikan padanya dan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Penentuan awal Ramadan dalam Daulah Islam akan ditetapkan dengan metode rukyat hilal global, bukan lokal. Dengan demikian, penentuan awal Ramadan oleh khalifah akan ditetapkan bila salah satu negeri muslim telah menyaksikan hilal. Negeri muslim yang telah menyaksikan hilal ini, meskipun hanya satu negeri, bahkan hanya satu orang saja, maka orang tersebut akan diambil sumpah.
Kemudian khalifah akan mengumumkan ke seluruh negeri yang tergabung dalam Daulah Islam bahwa hilal sudah terlihat. Dengan metode rukyatul hilal global ini, maka penentuan awal Ramadan tidak akan mengalami perbedaan. Umat dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan ketenangan hati, tanpa ada perasaan was-was puasanya akan tertolak sebab awal dan akhir yang berbeda.
Daulah pun akan mendukung sepenuhnya pelaksanaan ibadah Ramadan ini bagi rakyatnya, termasuk di antaranya menjaga kestabilan harga pangan selama Ramadan dan Syawal serta menjamin kesediaan stok pangan.
Khatimah
Hanya dengan penerapan Islam kaffah dalam Daulah Islam, tak akan ada lagi Ramadanku dan Ramadanmu, yang ada hanyalah Ramadan kita..Ramadan kita adalah Ramadan bagi seluruh umat Islam di dunia, tanpa sekat negara, tanpa sekat kelompok organisasi. Tak ada Ramadanku, maupun Ramadanmu yang berbeda awal atau akhir.
Umat Islam di seluruh dunia akan bersatu menjalankan ibadah Ramadan yang satu dengan awal dan akhir yang sama dalam satu kepemimpinan, yaitu kepemimpinan Daulah Islam dengan syariat Islam sebagai pijakan kepemimpinannya. Wallahualam bissawab

Komentar
Posting Komentar