Rudal Kalimat Jamaah Ideologis, Membawa Persatuan dan Kemenangan yang Handal
OPINI
Oleh Ummi Fatih
Aktivis Dakwah
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Cukupkah masyarakat dunia, terutama umat Islam merasa lega akan kepanikan dan ketakutan tentara Amerika-Israel yang diserang balik oleh Iran sekarang? Apakah hal itu juga dapat dinilai sebagai wujud kemenangan melawan Amerika-Israel yang selama ini selalu keji berkeliaran?
Dua pertanyaan tersebut mungkin muncul, apabila kita melihat dan membaca berita terkait keunggulan teknologi militer Iran yang mampu melakukan serangan balasan pada Amerika-Israel sejak 28 Februari 2026. Berbagai pangkalan militer Amerika di wilayah teluk Arab diberitakan hancur berantakan akibat rudal balistik Iran.
Bahkan dari segi ekonomi domestik, kerugian dana militer Amerika saat ini sudah membuat nilai kurs US$ 1 sama dengan Rp 16.880. Akibatnya, kalangan pejabat internal Amerika sendiri pun saling berceloteh kecewa atas efek perang militer ini. Mereka berharap Trump segera mengambil langkah yang baik untuk melindungi rakyatnya bukan menyatu bersama Israel melawan Iran. (Cnbcindonesia.com, 4-3-2026)
Akan tetapi, perlu digaris bawahi bahwa sinyal utama serangan Iran masih belum atas dasar pembelaan pada umat Islam secara keseluruhan. Namun hanya sekadar kebangkitan melindungi negerinya sendiri yang sedang diganggu lawan. Sesuai retorika unggulan Iran yang berbunyi, "Jika kami diserang, maka kami akan menyerang."
Jika demikian, kezaliman Amerika-Israel mungkin hanya akan melemah beberapa saat di titik-titik tertentu. Namun, Amerika-Israel akan kembali bangkit melakukan penjajahan kejam.
Menurut Theconversation.com, Amerika pun telah menyatakan bahwa dasar konflik yang akan selalu sengaja disulut dengan Iran ada dua. Pertama, untuk mengubah rezim religius politik Iran yang masih sulit untuk tunduk total pada Amerika. Kedua, sebagai peringatan pada musuh-musuh viral Amerika, terutama Cina yang disinyalir sedang berhubungan erat dengan Iran.(2-2-2026)
Tak heran apabila konflik peperangan ini adalah lanjutan dari penolakan Amerika terhadap Revolusi Iran sebagai _nation state Islam_ sejak tahun 1979. Kemudian, setelah dilakukan banyak perundingan hingga terakhir kali melalui mediasi menteri luar negeri Oman, perdamaian semakin jauh dari jangkauan. Perang besar pun tidak dapat ditahan. Bahkan landasan utama kelanjutan serangan Iran setelah kematian sang pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei telah dinyatakan sebagai aksi balas dendam, bukan pengusiran kezaliman Amerika dan Israel secara keseluruhan.
Lantas, apa yang seharusnya umat Islam lakukan agar Iran sadar dan peduli pada negeri-negeri kaum seimannya? Lalu, Iran beraksi heroik dengan tulus atas dasar keimanan.
"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya (untuk disakiti atau dizalimi). Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barang siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat." (HR. Al-Bukhari)
Negeri-Negeri Islam yang Dipecah Belah
Masalah penjajahan Amerika Israel sudah jelas merupakan masalah geopolitik militer global. Amerika yang dinobatkan sebagai negara adidaya pasca perang dunia ke-2 sangat berusaha keras mempertahankan posisinya hingga saat ini.
Sementara, peradaban Khilafah Islam yang sudah tercatat menjadi lawan bangsa barat dalam dua kali masa peperangan dipecah dengan berbagai sudut pandang berbahaya. Mulai dari sudut pandang nasionalisme yang berisi anggapan bahwa unsur kenegaraan adalah tali ikatan politis resmi yang harus dipertahankan. Lalu, sudut pandang perbedaan aliran religius Islam yang cenderung bersifat fanatik golongan.
Akibatnya egoisme semakin membara. Masyarakat yang negerinya tidak diganggu seringkali membiarkan negeri saudara seimannya terbelenggu. Bahkan, apabila aliran agama yang dianut masyarakat tidak ditunjuk sesat, malah menunjuk aliran lainnya salah alamat.
Dari bukti sejarah tersebut, dapat disinyalir bahwa Amerika tampak trauma dengan persatuan Islam. Sebab, jika perpecahan berhasil disatukan kembali oleh umat Islam di bawah bendera Khilafah, maka status kekuatan adidaya Amerika akan mudah digulingkan.
Oleh karena itu, apabila terdapat sedikit saja kabar terkait kebangkitan Islam dari berbagai sisi kehidupan, Amerika pun akan segera beraksi. Dari sisi terpenting, misalnya, sistem politik Khilafah yang kembali marak diminati umat Islam membuat Amerika gemetar. Akibatnya, Amerika menyebarkan fitnah melawan terorisme radikal sejak tahun 2001. Para ulama dan kaum muslim kritis yang kental imannya, ditangkap hingga diberi hukuman mati yang tak sesuai ketentuan hukum.
Selanjutnya dalam urusan militer yang menunjukkan bahwa Iran masih merupakan suatu bentuk nation state Islam beraliran syiah yang memiliki kemampuan teknologi militer tinggi, serangan nuklir pun Amerika luncurkan. Alasannya karena Trump menganggap Iran sedang mengembangkan teknologi rudalnya melebihi Amerika.
Lantas, bukankah hal itu sudah tampak bahwa Amerika tidak mau turun derajat? Bahkan tujuan utamanya bisa jadi agar umat Islam tetap tidak memiliki persiapan persatuan.
Sesuai rekaman video pernyataan Trump yang berkata, “Kami akan menghancurkan angkatan laut mereka. Kami akan memastikan bahwa proksi teroris di kawasan tersebut tidak lagi dapat mengganggu stabilitas kawasan bahkan stabilitas dunia, tidak bisa juga menyerang pasukan kami, dan tidak lagi menggunakan IED atau bom pinggir jalan yang menyebabkan luka parah dan kematian ribuan orang, termasuk banyak warga Amerika." (BBC.com, 4-3-2026)
Bersatu dan Menyadarkan dengan Jamaah Ideologis
Dengan demikian, pertempuran antara Amerika-Israel dan Iran sebenarnya bukanlah konflik regional yang hanya cukup disaksikan. Sebab pertempuran tersebut mengarah pada nasib umat Islam di seluruh dunia. Selama tidak ada persatuan iman yang ditegakkan dalam bentuk Khilafah, kemenangan sejati belum dapat dibuktikan.
Walaupun aliran religius politik Iran masih di bawah kendali kepemimpinan ulama syiah yang selama ini seolah tidak bisa menyatu dengan sebagian besar aliran Islam lain di dunia. Namun, perlu diingat, persamaan yang sejalan dalam Islam hanya cukup dalam bidang akidah, sedangkan perbedaan pendapat lain yang tidak melanggar syariat masih dapat diterima.
Akhirnya, seluruh umat Islam harus segera sadar dan bangkit bersama jamaah Islam ideologis. Luncurkan kalimat-kalimat rudal dakwah kebenaran agar perpecahan dapat kembali disatukan.
Dalam masing-masing negeri, para prajurit dakwah harus teguh berdakwah pada masyarakat yang masih hanya antusias menjadi suporter di balik layar kaca. Tak perlu takut juga untuk mendakwahi para pemimpin negeri-negerinya agar lepas dari tali gembalaan Amerika. Lalu, maju, mendukung, dan mengajak Iran untuk bersatu menegakkan kembali Khilafah.
Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar