Anak-Anak Kita Terluka, Buah Pahit Sistem Sekuler Kapitalistik
OPINI
Oleh Ummu Qimochagi
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja dengan generasi kita. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan harapan, mimpi, dan semangat hidup justru makin sering diberitakan mengalami tekanan mental yang berat. Sebagian dari mereka bahkan sampai kehilangan harapan terhadap hidupnya sendiri. Fenomena ini bukan sekadar cerita sedih yang lewat di media, melainkan tanda bahwa ada krisis serius yang sedang terjadi di tengah masyarakat.
Pemerintah sendiri mulai mengakui seriusnya persoalan ini. Hal tersebut terlihat dari ditandatanganinya Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang penguatan penanganan kesehatan jiwa anak yang melibatkan sembilan kementerian dan lembaga negara. Penandatanganan ini melibatkan sejumlah pejabat, di antaranya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta sejumlah kementerian lain bersama kepolisian.
Kerja sama lintas lembaga ini dilakukan karena kesehatan jiwa anak dinilai sebagai persoalan yang tidak bisa lagi ditangani secara parsial. Pemerintah menilai perlu ada koordinasi lintas sektor agar upaya pencegahan dan penanganannya dapat dilakukan secara lebih serius dan terintegrasi. (https://www.kemenkopmk.go.id, 06/03/2026)
Di sisi lain, data yang disampaikan Kementerian Kesehatan menunjukkan gambaran yang cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data dari platform Healing119.id serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), terdapat beberapa faktor utama yang memicu anak memiliki keinginan mengakhiri hidup. Konflik keluarga menjadi penyebab terbesar dengan kisaran 24–46 persen. Selain itu terdapat masalah psikologis sekitar 8–26 persen, perundungan atau bullying sekitar 14–18 persen, serta tekanan akademik sekitar 7–16 persen. (www.antaranews.com, 05/03/2026)
Angka-angka tersebut tentu membuat kita prihatin. Namun jika ditelaah lebih dalam, fakta ini sebenarnya hanya menunjukkan gejala di permukaan. Di baliknya terdapat persoalan yang jauh lebih mendasar: krisis sistem kehidupan yang membentuk lingkungan tempat anak-anak kita tumbuh.
Hari ini dunia berjalan dalam sistem sekuler liberal yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, agama diposisikan sekadar sebagai urusan ibadah pribadi, sementara pengaturan kehidupan masyarakat, termasuk pendidikan, ekonomi, hingga budaya lebih banyak ditentukan oleh logika materi dan kepentingan dunia.
Akibatnya, konsekuensinya sangat nyata dan tak bisa dipungkiri. Ukuran keberhasilan hidup menjadi sangat materialistik. Anak-anak sejak kecil didorong untuk mengejar nilai akademik tinggi, meraih prestasi sebanyak mungkin, dan bersaing tanpa henti. Tidak jarang anak merasa harga dirinya ditentukan oleh nilai rapor, ranking kelas, atau pencapaian yang mereka raih.
Tekanan semacam ini perlahan menciptakan beban psikologis yang tidak ringan. Ketika anak tidak mampu memenuhi ekspektasi tersebut, sebagian dari mereka merasa gagal. Tidak sedikit anak yang kehilangan pegangan hidup ketika konflik keluarga terjadi, ketika mereka mengalami perundungan di sekolah, atau ketika tekanan akademik terasa terlalu berat.
Padahal dalam pandangan Islam, manusia tidak pernah diukur dari capaian dunia semata. Allah swt. berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
Ayat ini memberikan perspektif yang sangat berbeda tentang nilai manusia. Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh prestasi duniawi, melainkan oleh ketakwaannya kepada Allah. Jika paradigma ini tertanam kuat dalam diri anak sejak dini, maka kegagalan dunia tidak akan mudah menghancurkan jiwanya.
Namun, realitas yang kita hadapi justru sebaliknya. Media kapitalistik global terus mempromosikan gaya hidup materialistik. Anak-anak dibanjiri berbagai konten yang menampilkan popularitas, kekayaan, dan kesenangan sebagai standar kebahagiaan. Media sosial bahkan memperbesar budaya perbandingan tanpa henti, di mana anak terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain. Tanpa disadari, kondisi ini memperbesar tekanan psikologis generasi muda.
Keluarga yang seharusnya menjadi benteng pertama perlindungan bagi anak juga tidak luput dari tekanan sistem kapitalisme. Tuntutan ekonomi membuat banyak orang tua harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mahal. Waktu bersama anak menjadi makin terbatas, padahal kebutuhan emosional anak tetap harus dipenuhi.
Sekolah pun sering kali belum mampu menjadi ruang yang menenangkan bagi anak. Sistem pendidikan saat ini lebih menekankan kompetisi akademik dibandingkan pembentukan kepribadian yang kokoh. Anak didorong untuk menjadi pintar, tetapi tidak selalu dibekali dengan ketenangan iman yang mampu menuntun mereka menghadapi ujian hidup.
Padahal, Islam sangat menekankan pentingnya menjaga kehidupan manusia. Allah swt. berfirman:
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.”
Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga kehidupan manusia merupakan prinsip besar dalam Islam.Oleh karena itu, persoalan kesehatan jiwa tidak bisa dipandang hanya sebagai masalah psikologis individual. Hal tersebut berkaitan erat dengan sistem nilai yang membentuk kehidupan masyarakat.
Di sinilah pentingnya melihat persoalan secara lebih mendasar. Selama sistem sekuler liberal kapitalistik tetap menjadi fondasi kehidupan, tekanan demi tekanan akan terus menghimpit generasi kita. Oleh karena itu, solusi tidak cukup berhenti pada kebijakan teknis atau koordinasi antar lembaga. Umat harus menyadari bahwa akar persoalan terletak pada sistem kehidupan yang menjauhkan manusia dari petunjuk Allah.
Islam menawarkan paradigma yang berbeda. Dalam sistem Islam, keluarga menjadi pusat pendidikan yang menanamkan akidah dan ketakwaan sejak dini. Anak tidak hanya dididik untuk sukses secara duniawi, tetapi juga dibimbing memahami tujuan hidupnya sebagai hamba Allah.
Negara pun memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga masyarakat. Rasulullah saw. bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa negara harus berfungsi sebagai ra’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi rakyatnya. Negara wajib memastikan sistem pendidikan, media, dan ekonomi berjalan selaras dengan nilai-nilai Islam sehingga mampu melindungi masyarakat dari kerusakan nilai dan tekanan hidup yang tidak manusiawi.
Krisis kesehatan jiwa anak yang hari ini kita saksikan sejatinya merupakan alarm keras bagi umat. Ini bukan sekadar persoalan psikologis generasi muda, tetapi tanda bahwa sistem kehidupan yang ada telah gagal menjaga kemanusiaan manusia.
Oleh sebab itu, umat tidak boleh berhenti pada solusi tambal sulam. Perjuangan dakwah harus diarahkan untuk menghadirkan kembali sistem Islam secara menyeluruh, yaitu sebuah sistem yang menjaga iman manusia, memuliakan kehidupan, dan melindungi generasi.
Hanya dengan kembali kepada syariat Islam secara kafah, anak-anak kita tidak sekadar diselamatkan dari luka jiwa, tetapi dipersiapkan menjadi generasi kuat. Geenerasi mulia yang kelak akan membangun peradaban yang memuliakan manusia dan mendekatkan mereka kepada Allah.
Wallahualam bissawab

Komentar
Posting Komentar