Lebaran di Tengah Jeratan Utang, Ketika Bahagia Dibayar dengan Beban


OPINI 


Oleh Ummu Qimochagi 

Aktivis Muslimah 


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Lebaran seharusnya menjadi momen kemenangan. Hari dimana hati terasa ringan, jiwa lapang, dan keluarga berkumpul dalam suasana penuh syukur. Namun, realitas yang kita hadapi hari ini justru menghadirkan ironi, tidak sedikit keluarga menyambut Idulfitri dalam kondisi terlilit utang.


Fenomena ini bukan sekadar perasaan, tetapi nyata adanya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan peningkatan pinjaman dari sektor pinjaman online (pinjol), multifinance, hingga gadai selama Ramadan dan Idulfitri. Kebutuhan masyarakat yang melonjak di momen ini banyak dipenuhi bukan dari pendapatan, tetapi dari utang. (asatunews.co.id, 09/03/2026)


Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, penyaluran pinjaman online diprediksi meningkat hingga sekitar 30% menjelang Lebaran 2026. Lonjakan ini didorong oleh kebutuhan konsumsi masyarakat, mulai dari belanja kebutuhan hari raya hingga biaya mudik. (suarasulsel.id, 10/03/2026)


Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah cerminan betapa banyak keluarga yang “memaksakan diri terlihat bahagia” dengan cara yang justru menyisakan luka setelahnya. Di balik baju baru dan meja makan yang penuh, ada kegelisahan yang diam-diam disembunyikan. Ada ibu yang menghitung ulang sisa uang, ada ayah yang menanggung beban cicilan, dan ada keluarga yang harus menahan kebutuhan setelah Lebaran berlalu.


Kita sering mendengar nasihat, “Jangan besar pasak daripada tiang.” Tapi pertanyaannya, apakah persoalan ini sesederhana itu? Apakah ini hanya soal gaya hidup konsumtif?


Jawabannya: tidak.


Masalah ini jauh lebih dalam. Ia berakar pada sistem kehidupan yang kita jalani hari ini yakni sistem kapitalis, yang menjadikan konsumsi sebagai penggerak utama ekonomi. Ramadan dan Lebaran yang seharusnya menjadi momentum ibadah, justru dikapitalisasi menjadi ajang belanja besar-besaran.


Iklan hadir tanpa jeda. Diskon seolah tak ada habisnya. Media sosial memperlihatkan standar kebahagiaan yang seragam: baju baru, rumah bersih, hidangan melimpah, dan hampers berjajar. Tanpa sadar, standar ini menekan banyak keluarga untuk“ikut layak”dalam perayaan, meski harus dengan cara yang memaksa.


Di sinilah utang hadir sebagai "jalan keluar instan".


Padahal, utang dalam sistem hari ini hampir tidak bisa dipisahkan dari riba. Sedangkan Islam telah memberikan peringatan yang sangat keras terkait hal ini. Allah Swt. berfirman:


Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila...”

(TQS. Al-Baqarah: 275)


Ayat ini bukan sekadar ancaman, tetapi gambaran nyata. Riba telah merusak ketenangan hidup. Ia membuat manusia terus bergantung, terus tertekan, dan sulit merasakan cukup.


Rasulullah saw. juga mengingatkan:


Jiwa seorang mukmin tergantung dengan utangnya hingga utang itu dilunasi.”

(HR. Tirmidzi)


Betapa beratnya urusan utang dalam Islam. Bahkan setelah wafat, urusan ini belum selesai. Lalu, bagaimana mungkin sistem hari ini justru mendorong utang sebagai solusi?


Inilah wajah kapitalisme: ketika rakyat kesulitan, yang ditawarkan bukan solusi hakiki, tetapi produk utang. Bahkan kini dikemas semakin “ramah” lewat aplikasi digital. Proses cepat dan syarat mudah, seolah membantu. Padahal di balik itu, ada jerat yang semakin kuat.


Lebih dari itu, sistem ini gagal menjamin kesejahteraan dasar rakyat. Harga kebutuhan pokok naik, penghasilan tidak selalu mengikuti, dan lapangan kerja terbatas. Dalam kondisi seperti ini, utang menjadi pilihan yang seolah tidak terhindarkan.


Hingga sampai di titik ini, maka kita harus melakukan evaluasi bagi diri kita. Masalah ini tidak akan selesai hanya dengan edukasi finansial atau ajakan hidup sederhana. Itu penting, tapi tidak cukup. Karena akar masalahnya ada pada sistem yang salah.


Islam datang membawa solusi yang menyentuh hingga ke akar:


Pertama, Islam mengharamkan riba secara total. Ini adalah bentuk penjagaan agar ekonomi tidak dibangun di atas kezaliman. Allah Swt. berfirman:


Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.”

(TQS. Al-Baqarah: 276)


Artinya, keberkahan tidak akan pernah lahir dari riba, tetapi dari sistem yang adil dan penuh kepedulian.


Kedua, negara dalam Islam berfungsi sebagai raa’in (pengurus rakyat). Rasulullah saw. bersabda:


Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Negara tidak boleh lepas tangan. Ia wajib memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi, pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan. Dengan demikian, rakyat tidak perlu berutang hanya untuk bertahan hidup.


Ketiga, Islam mengatur distribusi kekayaan agar tidak berputar di kalangan tertentu saja. Zakat, infak, dan sedekah menjadi mekanisme nyata untuk membantu yang membutuhkan, bukan sekadar slogan kepedulian.


Keempat, Islam menciptakan stabilitas ekonomi. Mata uang tidak dipermainkan dan harga tidak dibiarkan liar. Negara hadir sebagai pelindung rakyat, bukan sekadar fasilitator pasar.


Kelima, Islam mengembalikan makna Ramadan dan Idulfitri kepada tujuan sejatinya yakni ketakwaan. Allah Swt. berfirman:


Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

(TQS. Al-Baqarah: 183)


Ketika ketakwaan menjadi tujuan, maka kebahagiaan tidak lagi diukur dari banyaknya konsumsi, tetapi dari kedekatan kepada Allah Swt..


Menjalani peran sebagai seorang ibu, kita tentu ingin anak-anak kita tumbuh dalam kehidupan yang tenang. Kita tidak ingin mereka mewarisi budaya “bahagia dengan utang”. Kita ingin mereka mengenal Islam sebagai sistem yang menjaga, bukan sekadar mengatur ibadah.


Kita ingin mereka merasakan Lebaran yang benar-benar ringan, tanpa beban cicilan, tanpa kecemasan finansial, dan tanpa tekanan sosial yang memaksa.


Karena itu, solusi sejati bukan sekadar menghindari utang, tetapi memperjuangkan hadirnya sistem yang memang menutup pintu riba dan membuka jalan kesejahteraan.


Lebaran seharusnya menjadi hari bahagia tanpa beban. Kondisi itu hanya mungkin terwujud ketika kehidupan diatur dengan aturan Allah Swt. secara kafah.


Bukan sekadar harapan. Tapi janji yang pasti benar karena aturan Islam datangnya dari Allah Swt.. 

Wallahualam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Retak yang Masih Mengikat

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan