Petaka Sampah Merenggut Nyawa

 


OPINI 

Oleh Tutik Haryanti 

Pegiat Literasi 


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Persoalan sampah selama ini masih dianggap masalah sepele. Sampah dipandang hanya sebagai urusan kebersihan kota atau tanggung jawab petugas kebersihan. Faktanya, sampah yang makin hari terus bertambah menjadi masalah serius yang harus segera ditangani dengan tuntas. Pasalnya, jika pengolahan sampah tersebut buruk ternyata dapat mengakibatkan petaka di tengah masyarakat.


Dikutip dari CNBC Indonesia (09-03-2026), telah terjadi longsor gunungan sampah setinggi 50 meter di zona IV Tempat Pengolahan  Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Gunungan sampah tersebut menimbun orang-orang yang berada di lokasi hingga menyebabkan empat orang tewas.


Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, longsor gunungan sampah setinggi sekitar 50 meter itu menjadi bukti nyata kegagalan sistemik pengelolaan sampah di Jakarta. Peristiwa ini juga dinilai ironis karena terjadi hanya dua minggu setelah peringatan Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari.


Petaka Berulang

Petaka longsoran gunung sampah yang terjadi di Bantargebang merupakan kejadian yang kesekian kalinya. Ternyata sebelumnya sudah sering terjadi kasus serupa. Di antaranya, tragedi longsor TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, 21 Februari 2005 yang kemudian dijadikan peringatan Hari Sampah Nasional.


Menurut laporan peneliti Jepang Itoch Tochija, berjudul "Tragedi Leuwigajah", gundukan sampah itu tiba-tiba meledak kemudian memicu "tsunami sampah" yang menimbun rumah warga, terdapat 157 orang korban jiwa dan puluhan orang hilang. Sungguh miris, tragedi ini menjadi bencana terbesar di dunia. Setelah sebelumnya juga pernah terjadi insiden serupa di TPA Payatas, Quezon City, Filipina, pada 10 Juli 2000 yang menewaskan lebih dari 200 orang.


Artinya, masalah sampah bukan persoalan baru. Namun hingga kini, solusi yang benar-benar menyeluruh masih belum ditemukan.


Sampah dan Gaya Hidup Konsumtif

Persoalan sampah tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup masyarakat modern yang sangat konsumtif. Sistem ekonomi yang mendorong konsumsi tanpa batas membuat produksi barang meningkat tajam. Setiap produk yang dikonsumsi hampir selalu menghasilkan sampah, terutama plastik dan kemasan sekali pakai.


Dalam sistem ekonomi kapitalistik, keberhasilan ekonomi sering diukur dari seberapa besar konsumsi masyarakat. Akibatnya, produksi barang terus meningkat tanpa memperhitungkan dampak lingkungan. 


Ketika produksi meningkat, maka jumlah sampah pun melonjak. Ini berarti jika sistem pengelolaan tidak mampu mengimbanginya, maka sampah akan menumpuk menjadi bom waktu lingkungan.


Lemahnya Sistem Pengelolaan Sampah

Tragedi Bantargebang menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem pengelolaan sampah. Penumpukan sampah yang terlalu tinggi tanpa pengolahan yang memadai membuat risiko bencana semakin besar.


Selain itu, keterbatasan fasilitas pengolahan sampah juga membuat banyak daerah masih mengandalkan metode penimbunan. Padahal, metode ini hanya memindahkan masalah dari kota ke tempat pembuangan akhir.


Pada akhirnya, sampah yang terus menumpuk bukan hanya berpotensi longsor, tetapi juga menghasilkan gas metana yang dapat memicu kebakaran atau ledakan. Selain itu, pencemaran tanah dan air juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin tragedi serupa akan kembali terjadi di masa depan.


Islam Mengajarkan Kebersihan dan Tanggung Jawab Lingkungan

Islam memandang kebersihan sebagai bagian penting dari kehidupan manusia. Bahkan kebersihan menjadi bagian dari keimanan. Rasulullah saw. bersabda, "Kebersihan adalah sebagian dari iman." (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukan sekadar urusan teknis, tetapi juga bagian dari ketaatan kepada Allah.


Islam juga melarang segala bentuk kerusakan di muka bumi. Allah Swt. berfirman, "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya." (QS. Al-A’raf: 56)

Ayat ini memberikan prinsip dasar bahwa manusia harus menjaga keseimbangan lingkungan dan tidak merusaknya. Dalam konteks pengelolaan sampah, prinsip ini berarti bahwa manusia tidak boleh memperlakukan bumi sebagai tempat pembuangan tanpa batas.


Solusi Islam terhadap Masalah Sampah

Islam tidak hanya memberikan nilai moral, tetapi juga menawarkan solusi sistemik dalam mengelola lingkungan yaitu, 

Pertama, negara bertanggung jawab menjaga lingkungan. Dalam Islam, negara memiliki kewajiban untuk mengurus urusan rakyat, termasuk menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan. Maka, pengelolaan sampah tidak diserahkan kepada individu atau pasar, tetapi menjadi tanggung jawab negara yang harus ditangani secara serius.


Kedua, pengelolaan sumber daya secara amanah. Islam memandang manusia sebagai khalifah di bumi yang bertugas menjaga alam, bukan merusaknya. Prinsip ini menuntut manusia untuk mengelola lingkungan secara bertanggung jawab, termasuk dalam mengurangi produksi sampah dan meningkatkan sistem daur ulang.


Ketiga, membangun budaya hidup sederhana. Islam juga mendorong umatnya untuk tidak berlebihan dalam konsumsi. Gaya hidup sederhana akan mengurangi konsumsi berlebihan dan secara otomatis menekan produksi sampah.


Keempat, gerakan sedekah sampah. Menabung sampah yang bernilai ekonomis untuk disedekahkan merupakan bentuk memungut harta yang berceceran (luqathah) yang diperintahkan dalam Islam.


Khatimah 

Tragedi longsor sampah di Bantargebang yang merenggut nyawa manusia menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak bisa dipandang remeh. Sampah yang terus menumpuk tanpa pengelolaan yang baik dapat berubah menjadi bencana yang mematikan.


Masalah ini bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan sistem kehidupan. Ketika gaya hidup konsumtif bertemu dengan pengelolaan yang lemah, maka bencana lingkungan menjadi sesuatu yang sulit dihindari.


Islam menawarkan solusi yang menyeluruh, menanamkan kesadaran kebersihan sebagai bagian dari iman, membangun gaya hidup sederhana, serta menghadirkan negara yang bertanggung jawab dalam menjaga lingkungan, yakni negara yang mampu menerapkan sistem Islam secara kafah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiah.

Wallaahualam bissawab.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Retak yang Masih Mengikat

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan