Gugurnya Tiga Prajurit TNI Membuktikan Tipu Daya Zi*nis itu Nyata

 Percaya kepada Zi*nis, apalagi bekerjasama dengan mereka adalah kebodohan yang nyata. 

OPINI 

Oleh Tinah Asri

Aktivis Dakwah dan Pegiat Literasi 


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Innalilahi wa inna ilaihi raaji'un. Turut berdukacita atas gugurnya tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) saat bertugas menjadi Anggota Pasukan Perdamaian PBB (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL) di Lebanon Selatan, Senin 30 Maret 2026.


Dikutip dari Kompas.com, (31-03-2026), Kapuspen TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah dalam siaran persnya menyebutkan tiga prajurit yang gugur adalah Kapten (Inf) Zulmi Aditya dan Sertu Muhammad Nur Ichwan, keduanya gugur setelah satu hari, menyusul gugurnya Praka Farizal Rhomadhon dalam sebuah ledakan akibat serangan artileri Israel, Minggu, 29 Maret 2026. Sementara, Lettu (inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto, keduanya mengalami luka-luka.


Zi*nis Tak Bisa Dipercaya 


Menanggapi peristiwa tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix mengatakan kehadiran Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di wilayah Lebanon merupakan pelanggaran, termasuk setiap serangan terhadap prajurit penjaga perdamaian. Israel telah melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 yang diadopsi 11 Agustus 2006, setelah perang Lebanon-Israel.


Peristiwa gugurnya tiga Prajurit TNI seharusnya mampu membuka pikiran penguasa kita, menyadarkan Presiden Prabowo Subianto bahwa sampai kapan pun Zi*nis Yahudi tidak bisa dipercaya akan selalu melakukan tipu-daya. Percaya kepada Zi*nis, apalagi bekerjasama dengan mereka adalah kebodohan yang nyata. Bukankah Allah Swt. telah mengingatkan dalam Al-Quran, tentang larangan menjadikan kaum kafir Zi*nis sebagai teman setia.


"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadi mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka ...."(QS. Al-Maidah: 51)


Momentum untuk Keluar dari BoP


Seharusnya peristiwa gugurnya tiga Prajurit TNI ini menjadi momentum Indonesia untuk keluar dari keanggotaan Board of Peace (BoP) bentukan Amerika, dan segera menarik pasukan TNI dari Lebanon, kembali ke tanah air. Tidak ada lagi alasan untuk tetap bertahan di BoP. Buktinya, rakyat Palestina khususnya Gaza makin menderita. Zi*nis Yahudi justru memanfaatkan perhatian dunia terhadap perang yang melibatkan Israel, AS, Iran dan Lebanon untuk mengintensifkan operasi militer di Gaza. Mereka membunuh warga sipil dan menyerang tenda-tenda pengungsi Gaza.


Sementara di wilayah West Bank, pendudukan Israel bukan hanya menguasai Masjidil Aqsha, juga melarang kaum muslimin melaksanakan shalat Idul Fitri di sana. Hal ini menunjukkan betapa jumawanya Israel-AS saat ini. 


Untuk itu, saatnya kita merenungi apa yang terjadi sebenarnya. Kelemahan dan keterpecahbelahan umat yang diberi predikat umat terbaik oleh Allah Swt. bukanlah takdir, melainkan karena umat terlalu jauh dari aturan Allah, serta tidak adanya persatuan umat dalam satu kepemimpinan Islam yakni Khilafah. 


Kita harus belajar dari sejarah terkait Perjanjian Lausanne, yaitu perjanjian damai antara Khilafah Utsmani dengan Sekutu yang terjadi di Parlemen Inggris setelah Perang Dunia 1 (1919-1924). Saat itu Lord Curzon, mantan Raja Muda India mengatakan " Turki telah dihancurkan dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah berhasil menghabisi kekuatannya, yakni Islam dan Khilafah." Lord Corzon adalah mitra sekaligus pembuat kebijakan Inggris untuk menghancurkan kekhilafan Ustmaniyah. Alasannya, bahwa Inggris tidak bisa berkuasa selama kekhilafahan masih ada.


Umat Butuh Negara Khilafah 


Peristiwa yang terjadi di wilayah Lebanon, termasuk terbunuhnya tiga Prajurit TNI dan pelanggaran perjanjian damai yang dilakukan oleh Zi*nis Isreal semestinya memberikan kepada kita banyak pelajaran. Di antaranya adalah rapuhnya sistem politik global di bawah kekuasaan kapitalisme Amerika, serta gagalnya sistem negara bangsa mengantarkan umat pada kebangkitan. Tentang persekongkolan jahat Zi*nis-AS beserta para antek-anteknya yakni para penguasa negeri muslim khususnya Arab, yang tanpa malu bersekutu untuk menista sesamanya demi tetap berkuasa.


Perang yang terjadi antara Iran- Israel-AS seharusnya membuka pikiran kita, sejatinya umat Islam memiliki potensi kekuatan besar untuk melawan hegemoni kapitalisme global di bawah kontrol Amerika. Umat Islam mempunyai potensi ideologi, geopolitik, geostrategis, kekayaan alam dan SDM yang mampu menyeimbangi bahkan mengalahkan musuh-musuh Islam termasuk Amerika. Namun, semua itu butuh komando kepemimpinan yang independen yakni Khilafah.


Hanya satu masalahnya, penegakan khilafah butuh dukungan dan keridaan umat Islam. Seperti yang terjadi pada penduduk Madinah, mereka yang rela menyerahkan jabatan dan kekuasaannya kepada Rasulullah saw. Hanya saja, dukungan seperti ini hanya akan didapatkan ketika umat paham bahwa konsekuensi iman adalah ketaatan total pada syariat Islam. Ketaatan dalam seluruh aspek kehidupan, bukan hanya masalah ibadah dan moral, juga masalah ekonomi, politik, sosial (pergaulan), hukum dan sanksi (uqubat).


Dan, yang tidak kalah penting adalah, umat harus sadar bahwa menegakkan khilafah adalah wajib, bahkan menjadi mahkotanya kewajiban. Dengan demikian tidak ada pilihan lain bagi umat kecuali bersama-sama berjuang mewujudkan tegaknya Daulah Khilafah. Aamiin ya Rabbal 'alamiin. Wallahualam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Retak yang Masih Mengikat

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha