Lebaran Datang Utang Menghadang


OPINI


Oleh Mardiyah 

Aktivis Muslimah 


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Achmad Nur Hidayat (ANH), Ekonom UPN Veteran Jakarta menyatakan adanya 'ritual rumit' menjelang Idulfitri. Rakyat menghadapi daur hidup yang sulit dan selalu berulang hampir setiap tahun, yaitu harga barang semakin naik. Upaya pemerintah menyelesaikan masalah ini dengan bantuan sosial, potongan harga maupun pasar murah.

(inilah.com, 14-03-2026)


Inflasi Lebaran


Sayangnya, semua usaha itu belum sepenuhnya menuntaskan masalah. "Inflasi Lebaran" selalu terulang, ada beberapa alasan mengapa harga barang cenderung naik saat Lebaran. Pertama, 

meningkatnya permintaan. Lebaran adalah salah satu hari besar keagamaan di Indonesia sehingga banyak orang membeli barang-barang seperti pakaian, makanan, dan dekorasi. Hal ini meningkatkan permintaan, yang kemudian mendorong harga naik. 

Kedua, biaya produksi meningkat yang menjadikan produsen dan penjual harus meningkatkan produksi untuk memenuhi banyak permintaan. Inilah yang membuat biaya produksi juga meningkat. Biaya ini kemudian diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi. 

Ketiga, harga bahan baku meningkat. Harga bahan baku seperti bahan makanan, tekstil, dan lain-lain juga meningkat saat Lebaran, sehingga produsen harus meningkatkan harga jual untuk mempertahankan margin keuntungan. 

Keempat, spekulasi harga. Beberapa penjual mungkin melakukan spekulasi harga dengan meningkatkan harga barang-barang tertentu untuk mendapatkan keuntungan lebih besar saat Lebaran. 

Kelima, tradisi dan ekspektasi, Lebaran dianggap sebagai waktu untuk membeli dan menghabiskan uang, sehingga beberapa penjual mungkin meningkatkan harga barang-barang untuk memanfaatkan ekspektasi ini.


Saat Ramadan dan Idulfitri, masyarakat memang cenderung membutuhkan dana tambahan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti belanja, THR, atau modal usaha.

Konsumsi rumah tangga meningkat selama Ramadan dan Idulfitri sehingga masyarakat membutuhkan dana tambahan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga membutuhkan dana tambahan untuk meningkatkan produksi atau menambah stok barang selama Ramadan dan Idulfitri.


Solusi Menyengsarakan 


Seperti inilah kita berlebaran. Meskipun umat Islam di negeri ini mayoritas, tetapi aturan Islam belum bisa diterapkan secara totalitas. Justru kapitalisme yang mengatur kehidupan kita. Kapitalisme menjadikan momen Ramadan dan Lebaran dipenuhi tekanan sosial yang berat, juga menjadi beban ekonomi bagi keluarga.


Di tengah kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari dan lebaran, era digital hadir seolah menjadi penyelamat keluarga. Iklan pinjol di media sosial begitu menggiurkan. Tanpa persyaratan yang sulit pinjaman ribawi mudah sekali dicairkan. Pemerintah memfasilitasi utang ribawi, sementara rakyat sedang tertekan karena harga-harga naik, penghasilan stagnan, bahkan menurun.


Pinjol yang difasilitasi pemerintah saat harga naik jelang Lebaran itu ibarat obat pereda nyeri yang menghilangkan sakit, tetap hanya sesaat. Namun, penyebab sakitnya sendiri tidak terobati. Jadi, tepat sebagai solusi darurat jangka super pendek, tetapi tidak tepat sebagai solusi utama. Masalah besar bahkan bahaya kalau pinjol dijadikan solusi utama. 


Pinjol adalah pinjaman ribawi yang haram. 

Berikut ini kesulitan yang akan dihadapi keluarga yang melakukan pinjaman online/pinjol: 

Pertama, bunga & biaya jalan terus. Pinjol legal OJK bunganya 0.3-0.4% per hari. Pinjam 2 juta sebulan = bunga Rp180.000-Rp240.000. Kalau telat, denda + debt collector. 

Kedua, gali lubang tutup lubang. Utang Lebaran tahun ini belum lunas, tahun depan ngutang lagi dengan nominal lebih besar karena harga naik lagi. 

Ketiga, risiko data dan mental. Debt kolektor akan melakukan teror, sebar data. Stres nagih utang bisa ganggu ibadah Ramadan. 

Keempat, memperparah inflasi. Kalau semua orang ngutang untuk konsumsi, permintaan naik harga akan terus naik, inilah lingkaran setan. Lebaran esensinya silaturahmi dan kemenangan melawan hawa nafsu. Kalau malah kalah sama nafsu konsumtif lalu diperbudak utang setahun, kemenangan yang mana yang dirayakan?


Islam Solusi Hakiki


Setiap keluarga muslim tentunya mengharapkan merayakan Lebaran tanpa utang. Sangat tidak elok dan tidak layak keluarga muslim bergantung pada pinjaman online ribawi yang haram. Oleh karena itu, keluarga muslim membutuhkan sistem ekonomi yang menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat. Baik kalangan strata sosial tinggi maupun rendah.


Sistem ekonomi yang dimaksudkan adalah sistem ekonomi Islam. Sistem ini mampu menjamin kestabilan harga barang dan nilai mata uang. 

Sistem ekonomi Islam mampu menyediakan lapangan kerja yang memadai karena harta milik umum dikelola negara yang mampu menyerap tenaga kerja bagi seluruh warga negara. Sistem ekonomi Islam hanya akan terwujud jika sistem politik Islam/Khilafah tegak di muka bumi. 


Aturan Islam yang diterapkan secara totalitas akan membawa keberkahan dan kebaikan. Masyarakat terdidik dengan baik, kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, keadilan dan keamanan akan diupayakan oleh negara dengan optimal. Kehadiran daulah Khilafah memang mengemban amanat hukum syariat agar memberikan pelayanan terbaik untuk rakyat menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Rasulullah bersabda, "...Kemudian akan tegak Khilafah yang mengikuti metode kenabian..." (HR. Ahmad)

Hadis diatas adalah kabar gembira tentang akan tegak kembali Khilafah.


Saatnya umat memperjuangkan tegaknya syariat dalam bingkai daulah Khilafah, karena ketaatan totalitas pada syariah sama dengan mewujudkan kebahagian dunia dan akhirat seluruh umat. Saatnya kembali pada aturan Allah, campakkan aturan buatan manusia. 


Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Retak yang Masih Mengikat

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha