Negara Abai Menjaga Keselamatan Rakyat Saat Mudik

 


Negara abai dalam menjamin keselamatan rakyat. 

OPINI 

Oleh Tri Sundari 

Pegiat literasi 


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Berdasarkan data Dishub Kabupaten Bandung, pada puncak arus mudik tahun 2026 ini lebih dari 190 ribu kendaraan telah melintasi jalur selatan Nagreg. Berbagai kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor dari arah Bandung dan Jakarta, memadati jalur menuju Jawa Barat Selatan hingga Jawa Tengah.


Rekayasa lalu lintas sudah mulai diterapkan secara situasional di titik-titik rawan kemacetan untuk mengurai kepadatan arus kendaraan. Adanya lonjakan volume kendaraan para pemudik merupakan penyebab utama kemacetan yang terjadi. Selain itu juga adanya penyempitan jalur di beberapa titik krusial, serta banyaknya persimpangan menuju permukiman warga serta aktivitas keluar-masuk kendaraan di rest area juga turut membuat arus lalu lintas makin tersendat. (Metrotvnews.com, 14/03/2026)


Paminbinwas Subdit Dakgar Dirgakkum Korlantas Polri (Perwira Administrasi Pembinaan dan Pengawasan Sub Direktorat Penindakan Pelanggaran Direktorat Penegakan Hukum Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia), Ipda Hanny Neno mengatakan, data yang dihimpun selama periode 13-19 Maret 2026, bahwa angka kecelakaan yang terjadi selama arus mudik Lebaran 2026 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Akan tetapi, angka korban jiwa mengalami penurunan.


Meskipun jumlah korban jiwa mengalami penurunan, Neno menambahkan, angka korban luka akibat kecelakaan meningkat dibanding tahun 2025. Korban meninggal dunia turun 13,50%, sementara korban luka berat naik 9,42%. Korban luka ringan naik 19,63%. Sebanyak 22 kecelakaan di antaranya terjadi pada ruas tol dan paling banyak kecelakaan terjadi di ruas tol daerah Subang, Jawa Barat. (Kumparan.com, 19/03/2026)


Sementara itu Juru Bicara Operasi Ketupat 2026, Kombes Marupa Sagala dalam keterangannya pada Rabu (18/3), tercatat sebanyak 173 kecelakaan lalu lintas terjadi selama periode pemantauan arus mudik Lebaran 2026. Dari jumlah tersebut, 29 orang dilaporkan meninggal dunia, 70 orang mengalami luka berat, dan 505 orang luka ringan. Adapun kerugian materiil ditaksir mencapai lebih dari Rp1 miliar. (Kompas.com, 18/03/2026)


Sementara itu di Bali, terjadi antrean kendaraan yang mengular hingga Pura Tirta Segara Rupek atau delapan kilometer menuju Pelabuhan Gilimanuk. Antrean ini menyebabkan seorang ibu rumah tangga asal Kebumen, Jawa Tengah, berinisial RP, dilaporkan meninggal dunia usai tidak sadarkan diri ketika mengantre berjam-jam di dalam bus yang hendak keluar dari Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali.


Berdasarkan pemantauan di lokasi, antrean kendaraan yang terjadi pada Minggu (15/03) tersebut mengular hingga 30-40 kilometer. Sementara itu pada Rabu (18/03) antrean memanjang hingga Pura Tirta Segara Rupek atau delapan kilometer menuju Pelabuhan Gilimanuk. 


Dalam keterangan resminya, PT ASDP Indonesia, Ferry mengakui bahwa antrean kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk meningkat signifikan pada beberapa hari terakhir. Hal ini disebabkan oleh lonjakan mobilitas masyarakat menjelang penutupan sementara layanan penyeberangan Gilimanuk-Ketapang dan sebaliknya, pada Hari Raya Nyepi yang jatuh pada tanggal 18-20 Maret 2026. (Suara.com, 19/03/2026)


Kondisi Berulang tanpa Solusi Nyata


Peneliti Senior dari Inisiatif Strategis Transportasi (INSTRAN), Deddy Herlambang mengatakan Kemenhub semestinya sudah dapat mengantisipasi lonjakan arus mudik Hari Raya Idul Fitri yang waktunya berdekatan dengan Hari Raya Nyepi. Pada Rabu (18/03) kemacetan dan penumpukan kendaraan roda dua maupun roda empat di Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, masih terjadi.


Kecelakaan dan kemacetan parah selalu mewarnai arus mudik maupun arus balik di beberapa daerah di Indonesia. Permasalahan tersebut tidak kunjung terpecahkan dan selalu berulang setiap tahun. Kemacetan dan kecelakaan saat mudik yang berulang tersebut selalu menimbulkan kerugian materiil dan memakan korban jiwa yang tidak sedikit. 


Sebagaimana kita ketahui, setiap tahun ketika menjelang mudik lebaran, pemerintah selalu melakukan perbaikan jalan hanya di beberapa titik tertentu. Akan tetapi hal ini tidak membuat kecelakaan di jalan raya berkurang. Masih banyaknya kondisi jalan yang rusak menjadi salah satu penyebab rawannya kecelakaan. 


Tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk mengatasi kecelakaan dan macet parah yang selalu terjadi saat waktu mudik. Pemerintah tidak bisa memberikan solusi yang tuntas, padahal kejadian ini selalu berulang setiap tahunnya. Hanya ada upaya teknis yang tidak maksimal untuk menuntaskan masalah yang terjadi.


Sejatinya permasalahan mudik terkait erat dengan minimnya layanan transportasi massal yang nyaman dan murah, sehingga jumlah kendaraan pribadi melampaui pertumbuhan panjang jalan. Ketika pemerintah dengan serius menyediakan transportasi umum yang nyaman serta memadai bagi rakyatnya saat melakukan mudik lebaran, maka rakyat tentunya lebih memilih transportasi umum dibanding kendaraan pribadi.


Negara dalam sistem kapitalis tidak mewujudkan fungsi raa'in yang mengurusi rakyat. Negara saat ini hanya mementingkan keuntungan semata, tanpa memberikan perlindungan yang serius bagi rakyatnya. Negara abai dalam menjamin keselamatan rakyat. 


Solusi Islam atas Permasalahan Rakyat


Kondisi tersebut berbeda jauh dalam pemerintahan yang berdasarkan syariat Islam yakni Daulah Khilafah. Daulah Khilafah melalui seorang Khalifah mewujudkan fungsi raa'in yang mengurusi rakyat dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, "Imam (Khalifah/Kepala Negara) adalah raa’in (pemelihara urusan rakyat) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Dalam hal ini negara wajib menyediakan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan murah dalam jumlah yang mencukupi. Rakyat tidak perlu dibebani lagi dengan masalah transportasi yang aman dan nyaman ketika akan melakukan perjalanan mudik. Rakyat tidak perlu lagi berdesak-desakan, karena segalanya telah diatur dengan baik oleh negara.


Negara juga harus menyediakan jalan yang memadai dan memperbaiki jalan yang rusak sehingga aman bagi pengguna jalan. Penerangan dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas yang cukup di sepanjang jalan juga wajib diperhatikan oleh negara. Ketika negara memperhatikan dan mencukupi kebutuhan rakyatnya dengan baik, tentunya rakyat akan aman, tenteram, dan sejahtera.


Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Retak yang Masih Mengikat

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha